Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 20 Maret 2021 | 19.48 WIB

Newcastle Jets Itu Bukan Puncak Karier, Baru Awal Perjalanan

Photo - Image

Photo

Rasiman menggembleng Syahrian Abimanyu sejak dini agar anaknya tak senasib dirinya: telat menyeriusi sepak bola. Di luar lapangan, Syahrian mendapat keleluasaan dari sang ayah. Baik soal makanan maupun pergaulan.

BAGUS PUTRA PAMUNGKAS, Surabaya, Jawa Pos

---

SEJAK 2013, Rasiman dan Syahrian Abimanyu jarang bertemu. Mereka terpisah negara. Kalaupun bisa berjumpa, biasanya tak lama.

Jadi, ketika kini sang putra harus merumput di Australia bersama Newcastle Jets dengan status pinjaman dari klub Malaysia Johor Darul Ta’zim, Rasiman sudah terbiasa.

”Itu bagian dari pengorbanan. Demi kariernya,” kata asisten pelatih Madura United tersebut ketika dihubungi Jawa Pos dari Surabaya kemarin (19/3).

Karier Abi –sapaan Syahrian Abimanyu– hingga mengantarkannya ke Australia berutang pada Jakarta. Jumlah lapangan di ibu kota memang menyusut, tapi terkompensasikan dengan banyaknya kompetisi pemain muda.

Pada usia 10 tahun, Abi sudah mengikuti Liga TopSkor. Dia membela Jakarta Football Academy (JFA). ”Sedari kecil Abi merasakan laga home dan away. Merasakan atmosfer penonton,” kenang Rasiman. Itu yang turut membentuk mental Abi. Yang fondasinya dibangun sang ayah.

Saat Rasiman masih berstatus pemain Persikab Kabupaten Bandung, ditemani sang ibu, Nur Setiati, Abi rutin diajak berlatih. Sampai Rasiman gantung sepatu, kebiasaan itu tetap dilakukan. Rasiman menjadi pelatih di SSB (Sekolah Sepak Bola) UMS 80 Jakarta selepas menjadi pemain. Abi pun selalu diajak ketika Rasiman memimpin latihan.

Dengan sendirinya, kecintaan Abi pada sepak bola pun tumbuh. Menginjak usia 6 tahun, Abi dimasukkan ke ASIOP Football Academy. Kebetulan, saat itu Rasiman juga berstatus pelatih di situ. Dari situ pula Rasiman langsung menentukan posisi sang buah hati. ”Saya ingin anak saya ini bermain sebagai gelandang,” ujar bapak dua anak tersebut.

Padahal, saat aktif sebagai pemain, Rasiman berposisi striker. Dia beralasan, kalau mau menjadi pemain pintar, di lini tengahlah Abi harus beroperasi. ”Gelandang itu harus punya pandangan 360 derajat saat berada di lapangan,” jelas mantan asisten pelatih timnas U-19 tersebut.

Rasiman memang sengaja membentuk karakter sepak bola Abi sejak dini. Dia tak mau apa yang dialaminya terjadi kepada putranya. Rasiman baru serius menjadi pesepak bola pada usia 19 tahun. Ketika itu, pada 1992, dia diterima sebagai prajurit TNI Angkatan Udara. Karena berdinas di Bandung, dia kemudian ditawari memperkuat Persikab Kabupaten Bandung. ”Saya bermain enam musim di liga amatir. Baru pada tahun kedelapan kami masuk tim profesional,” ungkapnya.

Itu yang membedakannya dengan sang putra. Dia sengaja menggembleng dan mempersiapkan Abi sejak dini. Sampai kemudian, JFA melawat ke Inggris pada 2012. Saat itu mereka melakukan uji coba dengan tiga tim akademi di sana. Hasilnya mengejutkan. Tim yang dibela Abi mampu menyapu bersih kemenangan. Menang 3-1 atas akademi Leicester City serta sama-sama unggul 2-1 kontra akademi Manchester City dan Manchester United.

Baca juga: Kalau di Bali Saja Bisa Hidup, Kenapa Main di Klub Lain?

Setahun berselang, Abi lantas dipanggil untuk memperkuat timnas U-16. Padahal, usianya saat itu baru 14 tahun. Bahkan, dia sempat memperkuat Royal European Football Academy (REFA), Valencia, Spanyol.

Abi ingat betul saat masih awal-awal dilatih sang ayah. ”Beliau (Rasiman) itu keras dalam melatih. Kadang saya masih bandel. Kemudian, saya malah dihukum lari keliling lapangan,” kenang mantan pemain Madura United tersebut.

Baca juga: Perjalanan Syahrian Abimanyu dengan Klub Newcastle Jets Dimulai

Meski cukup galak, Rasiman tak pernah mengekang sang anak. Terutama untuk urusan di luar lapangan. Soal makanan, misalnya. Rasiman tak pernah melarang apa yang harus dikonsumsi sang buah hati. Begitu pula soal pergaulan. ”Saya tidak pernah membatasi. Tapi, saya selalu memberi edukasi apa-apa saja yang harus dia patuhi,” jelasnya.

Meski begitu, dia yakin dengan kemampuan anaknya. Keduanya selalu bertukar pesan setiap malam. ”Sebagai orang tua, saya selalu memberikan motivasi,” ungkap Rasiman.

Photo

Rasiman (kanan) di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan, Pamekasan. (ALLEX GOMARULLA/JAWA POS)

Bertukar pesan itu juga bagian dari mengganti waktu-waktu yang hilang karena seringnya mereka terpisah. Mulai saat Abi di Spanyol dan sang ayah di Indonesia hingga ketika Abi berlatih di Jakarta, sedangkan Rasiman tengah melatih di Malaysia. ”Newcastle Jets bukan puncak karier Abi. Justru ini baru perjalanan awal,” tandas Rasiman. (*/habis)

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

https://www.youtube.com/watch?v=hGk2Gry9L5M

 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore