
Persebaya Surabaya saat ditahan imbang Arema FC di Gelora Bung Tomo. (Persebaya Surabaya)
JawaPos.com—Rapor merah Persebaya Surabaya di bawah komando Eduardo Perez mencapai puncaknya setelah 11 laga yang penuh inkonsistensi dan problem kedisiplinan. Dalam rentang tersebut, Green Force justru lebih sering mengoleksi kartu dibandingkan merayakan gol, hingga akhirnya manajemen memutuskan berpisah dengan sang pelatih pada Sabtu (22/11).
Persebaya Surabaya hanya mampu mencetak 13 gol sepanjang 11 pertandingan. Sementara jumlah kartu merah dan kuning yang terkumpul mencapai total 22 kartu.
Catatan itu menggambarkan betapa tim ini kehilangan keseimbangan permainan di lapangan, baik dari sisi produktivitas maupun kontrol emosi. Pertandingan terakhir kontra Arema FC menjadi saksi bagaimana Persebaya Surabaya kembali kesulitan menjaga momentum dan ritme permainan.
Laga yang berakhir 1-1 itu menyisakan banyak tanda tanya terkait arah permainan tim meski sempat tampil menekan sepanjang babak kedua. Persebaya Surabaya sebenarnya memulai babak kedua dengan agresivitas tinggi, termasuk peluang tendangan bebas Dejan Tumbas yang hanya melebar tipis.
Namun, kesalahan fatal terjadi ketika Dime Dimov justru membobol gawang sendiri di menit ke-63 dan membuat tim tertekan. Kebetulan positif muncul ketika Arema FC kehilangan Matheus Blade yang diganjar kartu kuning kedua dua menit setelah gol bunuh diri Dimov.
Momen itu membuat Persebaya Surabaya tampil lebih leluasa menyerang dan langsung mengubah pendekatan permainan. Pergantian pemain yang dilakukan Eduardo Perez dengan memasukkan Rizky Dwi menjadi pemicu naiknya intensitas serangan.
Hasilnya terlihat ketika Bruno Moreira sukses menyamakan kedudukan lewat sontekan ke tiang jauh pada menit ke-73. Tekanan Persebaya Surabaya terus mengalir hingga menit-menit akhir pertandingan, termasuk kemelut di menit ke-89 yang membuat suporter menahan napas.
Sayangnya, tak ada satu pun pemain yang mampu menyambar bola untuk membawa Persebaya Surabaya menang. Di sisi lain, lini belakang Persebaya Surabaya juga sempat tercekat ketika Arema hampir mencuri gol kemenangan lewat Ian Puleillo di masa tambahan waktu.
Bola yang melintas tipis dari gawang Ernando Ari itu menjadi alarm lain terkait rapuhnya konsentrasi tim. Hasil imbang tersebut membuat Persebaya Surabaya tertahan di peringkat kedelapan dengan 16 poin dari 11 pertandingan.
Capaian itu jelas jauh dari ekspektasi publik Surabaya yang berharap tim tampil lebih stabil dan meyakinkan musim ini. Keputusan manajemen untuk mengakhiri kerja sama dengan Eduardo Perez beberapa jam setelah pertandingan mempertegas urgensi perubahan.
Manajemen mengumumkan sudah mencapai kesepakatan dengan pelatih baru, namun masih menunggu rampungnya urusan administratif. Selama 11 laga bersama Perez, Persebaya Surabaya mencatatkan 4 kemenangan, 4 hasil imbang, dan 3 kekalahan.
Produktivitas cuma 13 gol dan kebobolan 11 gol menjadi gambaran tim yang tak sepenuhnya buruk, tetapi gagal tampil konsisten di momen krusial. Data permainan menunjukkan Persebaya Surabaya mampu menciptakan 48 umpan kunci dan 103 tembakan, dengan 43 di antaranya tepat sasaran.
Angka ini menunjukkan potensi besar, namun efektivitas penyelesaian akhir masih menjadi masalah utama karena tak ada gol dari penalti maupun tendangan bebas langsung.
Dari sisi pertahanan, Persebaya Surabaya melakukan 97 tekel, 217 intersep, dan 189 sapuan yang menandakan aktivitas bertahan cukup tinggi. Namun hanya dua nirbobol dalam 11 laga membuat performa lini belakang terasa belum benar-benar solid.
Masalah terbesar justru terlihat dari sisi disiplin, di mana Persebaya Surabaya melakukan 122 pelanggaran dan menerima total 6 kartu merah (5 langsung dan 1 akumulasi kuning). Jumlah itu terlalu besar untuk tim yang ingin bersaing di papan atas dan membuat ritme permainan sering terganggu.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
