Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 April 2025 | 18.08 WIB

Terkuak, Ternyata Ini Alasan Marko Simic Cuma Duduk di Bangku Cadangan saat Persija Jakarta vs Persebaya Surabaya

Pelatih Persija Jakarta Carlos Gonzales Pena pada pertandingan Liga 1 2024/2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (12/4/2025). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Sosok Marko Simic mendadak menghilang selama pertandingan Persija Jakarta vs Persebaya Surabaya. Bomber asal Kroasia itu tidak mendapatkan kesempatan untuk beraksi semenit pun di lapangan tadi malam.

Duel Persija Jakarta vs Persebaya Surabaya telah berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Sabtu (12/4) malam. Kedua tim bermain sama kuat dengan skor 1-1 sehingga harus puas berbagi satu angka.

Dalam laga itu, Carlos Pena selaku pelatih Persija Jakarta membuat sejumlah perubahan dan line-up yang tak terprediksi. Dia memutuskan untuk memainkan formasi 3-4-3 dengan perubahan besar di semua lini.

Paling mencolok adalah lini depan, di mana Carlos Pena memilih memainkan trio Dony Tri Pamungkas, Ryo Matsumura, dan Witan Sulaeman sebagai trisula Persija Jakarta. Tak ada striker murni yang dimainkan. Padahal, Persija punya dua striker murni yang tersisa, yakni Yandi Sofyan dan Marko Simic.

Carlos Pena mengakui bahwa perubahan itu sengaja dilakukan dan sudah dipersiapkan dengan matang. Strategi false nine diterapkan karena tim pelatih sudah mengetahui betul kekuatan pertahanan Persebaya.   

"Ya, hari ini kami memainkan formasi yang berbeda. Kami tidak bermain dengan nomor 9 murni. Hari ini saya mencoba bermain dengan lebih banyak mobilitas di depan. Saya mencoba bermain dengan lebih banyak mobilitas dengan Witan, dengan Dony, dengan Ryo Matsumura," kata Pena dalam jumpa pers pascalaga.

"Karena kami tahu hari ini akan sulit untuk melakukan umpan silang karena bek tengah Persebaya kuat dan mencoba melakukan umpan silang akan sulit. Itulah sebabnya saya berencana untuk bermain dengan pemain-pemain ini, dengan formasi ini," tambahnya.

Strategi Carlos Pena itu sebenarnya tidak lah buruk. Dalam penerapannya, ketiga pemain itu mampu menunjukkan mobilitas tinggi dan permainan sesuai yang diharapkan oleh sang pelatih.

Meski Witan kemudian diganti oleh Rayhan Hannan pada pertengahan babak pertama, Persija jadi mampu menciptakan sejumlah peluang sepanjang laga. Hanya saja, akurasi menjadi masalah sehingga tak ada yang membuahkan gol.

"Kami juga terkadang kehilangan umpan mudah. ​​Tetapi, saya pikir rencananya bagus dan terjadi seperti yang kami harapkan. Kami juga menekan dengan baik, kami mencoba menyerang ruang ketika kami merebut bola dan kami menciptakan peluang. Tetapi pada akhirnya akurasi hari ini tidak bagus," terangnya.

"Dan, itu membuat perbedaan dalam permainan. Saya ingat 4-5 peluang yang sangat jelas untuk mencetak gol. Tetapi, jika kami mencetak setidaknya satu gol lagi, kami berbicara tentang hal yang berbeda. Jadi itu rencana saya," tambah Carlos Pena.

Pelatih asal Spanyol itu baru bermain dengan striker murni saat babak kedua waktu normal menyisakan 10 menit. Tapi, bukan Marko Simic yang dimainkan, melainkan Yandi Sofyan yang jadi pilihan Pena untuk masuk menggantikan Dony Tri Pamungkas.

Pena mengungkapkan, keputusan itu dibuat dengan harapan Yandi bisa jadi daya gedor tambahan Persija di akhir-akhir laga. Tapi, nyatanya tidak membuahkan hasil juga. "Karena masih ada beberapa ruang di belakang dan saya pikir Yandi bisa memiliki peluang. Tetapi dia tidak memiliki peluang apa pun," jelasnya.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore