
Persebaya Surabaya bersiap hadapi Persija Jakarta di Stadion Gelora Bung Karno. (Media Persebaya)
JawaPos.com–Kembali ke September 2011, Persija Jakarta dan Persebaya Surabaya pernah menghadapi badai dualisme kepengurusan yang mengancam eksistensi mereka di kompetisi tertinggi Indonesia. Meski begitu, PSSI tetap meloloskan kedua klub ke musim 2011/2012, memberikan kesempatan emas untuk menyelesaikan konflik internal.
Saat itu, Ketua Komite Kompetisi PSSI Sihar Sitorus mengumumkan keputusan tegas di Kantor PSSI Senayan, Jakarta. “Persija dan Persebaya tetap lolos dan berhak tampil sama dengan klub lain,” ujar Sihar Sitorus dalam jumpa pers.
Dualisme ini bermula dari perebutan kekuasaan di internal kedua klub legendaris tersebut. Persija terbelah antara PT Persija Jaya pimpinan Bambang Sucipto dan PT Persija Jaya Jakarta di bawah Benny Erwin, sementara Persebaya Surabaya terpecah antara kubu Cholid Goromah dan Wishnu Wardhana.
Proses mediasi menjadi jalan keluar yang ditawarkan PSSI untuk menyelamatkan Macan Kemayoran dan Green Force. Rapat Komite Eksekutif PSSI pada 22 September 2011 di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta menjadi titik awal penyelesaian masalah ini.
Untuk Persebaya Surabaya, langkah mediasi membuahkan hasil yang menggembirakan. Kubu Cholid Goromah dan Wishnu Wardhana sepakat merger, bahkan menyelesaikan pembagian saham, menandakan konflik hampir tuntas.
Sementara itu, Persija masih berjuang keras dengan melibatkan Gubernur DKI Jakarta sebagai mediator. Kedua kubu, Bambang Sucipto dan Benny Erwin, belum menemukan titik temu hingga tenggat waktu yang ditentukan PSSI. Meski dihantam dualisme, PSSI melalui Komite Kompetisi tetap memberikan lampu hijau kepada 24 klub untuk bertarung di kompetisi musim 2011/2012. Komposisinya terdiri atas 14 klub ISL, 4 klub promosi, dan 6 klub tambahan yang lolos seleksi ketat.
Daftar 14 klub ISL mencakup nama-nama besar seperti Persipura, Arema Indonesia, hingga Persija Jakarta dan Persebaya Surabaya. Sedangkan klub promosi diisi Persidafon Dafonsoro, Persiraja Banda Aceh, Persiba Bantul, dan Mitra Kukar yang siap menggebrak. Enam klub tambahan juga tak kalah menarik, yakni Persema Malang, Persibo Bojonegoro, PSM Makassar, PSMS Medan, Persebaya Surabaya, dan Bontang FC. Kehadiran mereka menambah warna kompetisi yang penuh drama dan gengsi.
Perjuangan Persija dan Persebaya Surabaya saat itu menjadi cermin lika-liku perjuangan klub di Indonesia. Namun, semangat untuk bertahan di kasta tertinggi mendorong keduanya menyelesaikan konflik demi suporter setia.
Melaju ke 2025, memori ini kembali terpatri jelang laga pekan ke-28 Liga 1 Indonesia 2024/2025. Persija Jakarta akan menjamu Persebaya Surabaya di Stadion Gelora Bung Karno, sebuah duel yang sarat sejarah.
Pertemuan ini bukan sekadar adu strategi di lapangan hijau. Ini adalah nostalgia perjuangan kedua klub yang pernah terpuruk namun bangkit dari dualisme kepengurusan yang nyaris mematikan.
Suporter Persija, The Jakmania, dan Bonek Persebaya Surabaya pasti tak bisa melupakan episode kelam 2011 itu. Kini, mereka akan bersorak menyambut laga yang mengingatkan betapa besar arti klub kesayangan mereka. Stadion Gelora Bung Karno diprediksi bakal bergemuruh menyambut duel klasik ini. Atmosfer panas dari tribun akan menjadi saksi bisu perjalanan panjang Persija dan Persebaya Surabaya.
Dari dualisme kepengurusan hingga kembali bertemu di lapangan, kisah ini adalah bukti nyata resiliensi sepak bola Indonesia. Persija dan Persebaya Surabaya tak hanya bertarung untuk poin, tapi juga mengukir sejarah tak terlupakan.
Kini, di tengah era modern Liga 1, kedua klub telah menjelma menjadi kekuatan yang disegani. Namun, jejak perjuangan 2011 tetap menjadi bagian dari sejarah mereka yang tak bisa dilenyapkan.
Laga ini juga menjadi pengingat bagi PSSI dan klub-klub lain agar belajar dari masa lalu. Dualisme kepengurusan harus menjadi pelajaran agar sepak bola Indonesia terus maju tanpa drama yang merugikan.

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
KPK Cari Keberadaan Wamen Imipas Silmy Karim Terkait OTT Imigrasi Jakbar
7 Pemain Baru Masuk! Bruno Moreira Hengkang, Ini Prediksi Starting XI Persebaya
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Resmi Jadi Tersangka dan Ditahan Kejagung, Belum 24 Jam Usai Dicopot Prabowo
Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung, Muncul Karangan Bunga Unik Singgung Pencopotan Dadan
