Pemain Persebaya Future Lab Maickel Protasius Yesaya Junior Pisso saat menjalani sesi latihan di Spanyol. (Media Persebaya)
JawaPos.com — Partisipasi adalah income, prestasi adalah cost. Itulah kalimat yang tertulis di dinding kantor Persebaya Surabaya dan menjadi pegangan dalam membangun klub ini oleh Presiden Persebaya Surabaya Azrul Ananda.
Bagi Ganesha Putera, Kepala Persebaya Future Lab (PFL), kalimat itu bukan sekadar slogan. Melainkan visi besar dalam menciptakan fondasi sepak bola yang kuat.
Di Indonesia, banyak klub hanya mengejar prestasi instan dengan cara ‘membeli pemain’. Akibatnya, klub yang juara di satu musim bisa terdegradasi dalam beberapa tahun berikutnya.
Salah satu masalah terbesar sepak bola Indonesia adalah ‘elitisme’ dalam pembinaan pemain. Banyak yang hanya fokus pada prestasi tinggi tanpa memikirkan strategi peningkatan partisipasi.
Tanpa partisipasi yang luas, mustahil bisa menciptakan prestasi elite secara berkelanjutan. Persebaya Surabaya memilih jalur berbeda dengan menekankan partisipasi sebagai dasar mencapai prestasi.
Dalam upaya meningkatkan kualitas pembinaan, Persebaya Future Lab melakukan studi ke Spanyol. Negara yang baru saja menjuarai Piala Eropa 2024 ini memiliki sistem pembinaan yang patut dicontoh.
Banyak yang mengira pembelajaran terbaik hanya bisa didapat dari klub kasta tertinggi. Namun, PFL justru mengunjungi klub kasta bawah untuk melihat bagaimana praktik terbaik diterapkan di sana.
Sebelum membahas kunjungan itu lebih lanjut, penting memahami bagaimana struktur pembinaan di Spanyol. Negara dengan populasi 48 juta jiwa ini memiliki 1,1 juta pesepak bola terdaftar.
Pesepak bola terdaftar berarti mereka yang berlatih minimal dua kali seminggu dan bermain di kompetisi reguler. Sebagai perbandingan, Indonesia hanya memiliki 67.000 pemain terdaftar. Jumlah yang sangat kecil dibandingkan Spanyol.
Kompetisi sepak bola di Spanyol terdiri dari 10 kasta. Dengan La Liga sebagai yang tertinggi. Kasta ke-3 hingga ke-5 merupakan liga semi-profesional, sementara kasta ke-6 hingga ke-10 dikelola oleh federasi regional.
Sistem pembinaan usia muda juga sangat rapi. Dengan kelompok usia mulai dari U8 hingga U19. Setiap kelompok usia memiliki beberapa kasta kompetisi sesuai level masing-masing tim.
Di Juvenil (U19) misalnya, kasta tertinggi adalah Division de Honor yang mencakup 16 tim per wilayah. Selain itu, masih ada empat kasta di bawahnya yang memungkinkan lebih banyak pemain mendapatkan pengalaman kompetitif.
Uniknya, klub di Spanyol diperbolehkan memiliki banyak tim dalam berbagai kasta. Real Madrid misalnya, punya tim A di La Liga, tim B di Primera Federacion (kasta 3), dan tim C di Segunda Federacion (kasta 4).
Klub kecil pun menerapkan sistem serupa dengan memiliki beberapa tim dalam berbagai divisi. Bahkan akademi klub-klub besar seperti Barcelona hanya menerima pemain terpilih. Sementara klub kecil lebih terbuka bagi semua level.

Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Viral Investor MBG Ngamuk di Kantor BGN, APGI 3T Sebut Aksi Spontan Atas Potensi Kerugian Rp 1,8 Triliun
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
