Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 29 Januari 2025 | 21.01 WIB

Melihat Sisi Lain Persebaya Sebagai Entitas Bisnis, CEO Azrul Ananda Targetkan Bisa Melantai di Bursa Efek

Azrul Ananda optimistis Persebaya Surabaya bisa raih hasil maksimal di Liga 1 Indonesia musim ini. (Media Persebaya)

 

JawaPos.com - Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Persebaya Surabaya merupakan salah satu klub besar di Indonesia. Selain berprestasi di persepakbolaan Tanah Air, klub ini juga memiliki basis suporter yang besar, tidak hanya di Surabaya saja tetapi juga dari kota lain di Jawa Timur.

Sebagai sebuah klub besar, maka Persebaya pun harus dikelola secara profesional agar bisa terus eksis dan abadi dalam kancah persepakbolaan Indonesia.

Maka dari itu, Persebaya akhirnya diambil alih oleh Azrul Ananda agar bisa menjadi klub yang benar-benar profesional dan tidak dibiayai oleh APBD lagi.

Menurut Azrul, yang kini menjabat sebagai CEO Persebaya, ketika klub di Liga Indonesia sudah diwajibkan menjadi profesional, maka harus ada perubahan cara pengelolaan.

"Sebelumnya Persebaya sama seperti klub perserikatan lain yaitu dimiliki oleh pemerintah kota. Namun, sejak 2009 klub Liga Indonesia harus berbentuk PT dan dikelola secara profesional, sehingga harus berdiri sebagai entitas bisnis, dan otomatis mengubah cara pengelolaan klub yang dimiliki pemerintah kota menjadi klub yang dikelola secara profesional," kata Azrul dalam podcast pada akun YouTube IndibizJBN.

Azrul menambahkan, yang dimaksud dengan bertransformasi menjadi klub yang profesional adalah harus bisa berdiri pada dua kaki.

"Jika Persebaya menjadi klub profesional, maka harus berdiri pada dua kaki sendiri, yaitu kaki yang satu mengejar prestasi di lapangan, dan kaki satunya adalah kaki komersial yang target prestasinya berupa keuntungan secara finansial. Jadi dua ini harus eksis, syukur-syukur bisa balance, jadi di lapangan juara, di sisi bisnis juga menguntungkan," terangnya.

Namun, Azrul menambahkan bahwa untuk bisa menjadi klub profesional sekaligus profitable, setidaknya memenuhi tiga syarat lain, yaitu fan equity, social equity, dan away equity.

"Fan equity berarti harus punya fans yang setia, tidak hanya dalam hal menonton pertandingan, tetapi juga selalu setia menonton pertandingan di stadion dan membeli merchandise asli klub," ujar putra dari Dahlan Iskan ini.

Lalu, yang kedua adalah social equity yang berarti Persebaya harus bisa memberi pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat Surabaya. 

"Misalnya saat menang, euforia bisa dirasakan masyarakat Surabaya secara positif. Dan, jika kalah, maka Persebaya juga harus siap menerima hujatan dan bentuk kekecewaan lain dari suporter setianya," lanjutnya.

Yang ketiga adalah away equity, yaitu sebuah klub saat bermain tandang harus bisa memberi profit bagi klub tuan rumah. Sayangnya, saat ini syarat yang ketiga tersebut belum bisa terealisasi karena adanya larangan kehadiran penonton tim tamu.

"Dalam hal away equity ini, kehadiran penonton tim tamu diperlukan agar penonton tim tamu ini bisa memberi pemasukan bagi klub tuan rumah lewat pembelian tiket. Sayangnya, di Liga 1 belum bisa karena adanya aturan larangan penonton tim tamu untuk datang. Padahal, jika ada pemasukan dari penonton tim tamu, maka keuangan klub tuan rumah juga akan terbantu," imbuhnya lagi.

Dalam mengelola Persebaya, Azrul mengakui bahwa ia mengadopsi beberapa cara pengelolaan klub atau tim olah raga luar negeri.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore