
Francisco Rivera benar-benar menjadi roh lini tengah Persebaya Surabaya yang hilang jelang hadapi Barito Putera. (Media Persebaya)
JawaPos.com - Playmaker Persebaya asal Meksiko, Francisco Rivera menunjukkan totalitasnya sebagai pemain dengan mengikuti kursus Bahasa Indonesia.
Baginya, belajar bahasa Indonesia sangat penting baginya yang berkarir di Tanah Air agar ia bisa mudah berkomunikasi dengan rekan setim maupun orang-orang yang ia temui selama di Indonesia.
”Empat bulan lalu sudah mulai ikut kursus. Saya ingin mengikuti lebih banyak kelas, tetapi saya tidak bisa karena waktu. Sebagai ganti saya menonton video di YouTube untuk belajar,” jelas Rivera seperti dikutip dari laman Persebaya.
Bagi Rivera, kursus saja tentu tidak cukup. Maka dari itu ia minta dibantu berbahasa Indonesia dengan rekan-rekan setimnya.
“Selain kursus, saya juga minta diajari Bahasa Indonesia kepada beberapa pemain. Saya bertanya kepada mereka bagaimana cara mengucapkan kata dengan benar, dengan cara seperti itu saya belajar lebih cepat,” ungkapnya.
Totalitas Rivera tersebut membuktikan bahwa menjadi pemain sepak bola tidak hanya piawai di lapangan, tetapi juga pandai dalam berkomunikasi, dalam hal ini menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa percakapan sehari-hari.
Penguasaan bahasa lokal memang penting bagi pemain asing karena tidak semua anggota tim dalam sebuah klub sepak bola memahami bahasa Inggris. Maka, sebagai pemain yang berkarir di negeri orang, sudah selayaknya jika memahami bahasa lokal, minimal untuk percakapan.
Mengutip dari laman British Council, pemain asing yang mempelajari suatu bahasa di negara tempat ia bermain, maka bisa membantu memperpanjang karier mereka dan kesempatan mereka untuk berkembang juga lebih besar.
Pada faktanya, sudah banyak contoh pemain atau pelatih yang pergi berkarir ke negara lain tetapi tidak belajar bahasanya, maka ia akan kesulitan dalam beradaptasi, minimal dalam hal berkomunikasi dengan pemain lokal.
Tak heran karir mereka bisa-bisa tidak bertahan lama atau terhenti di tengah jalan. Salah satu kasus terbaru adalah pemberhentian Shin Tae-yong dari jabatan pelatih Timnas Indonesia.
Masalah komunikasi ditengarai menjadi salah satu penyebab ia dipecat PSSI. Meski salah satu asistennya membantah adanya masalah komunikasi antara STY dan pemain, namun pada faktanya, coach Shin memang tidak bisa fasih berbahasa Indonesia meski sudah sekitar lima tahun tinggal dan berkarir di Tanah Air.
Terlepas dari benar tidaknya rumor tersebut, tidak bisa dibantah bahwa pemain atau pelatih asing yang bisa berbahasa Indonesia, karir sepak bolanya di Tanah Air bisa awet.
Sebut saja Marc Klok, atau para legenda persepakbolaan di kancah Liga Indonesia seperti Jacksen Tiago, Christian Gonzales, karir mereka bisa tahan lama di Tanah Air karena sudah fasih berbahasa Indonesia, bahkan Klok sudah dinaturalisasi menjadi WNI.

BGN Terbitkan SE Nomor 12 Tahun 2026, Layanan MBG Dihentikan Sementara saat Hari Libur
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Pembagian Grup Liga 2 2026/2027 Berubah, PSIS Semarang dan Persiku Kudus Geser ke Wilayah Barat
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
PP Muhammadiyah Minta MBG Dihentikan Sementara, Sebut Mudaratnya Lebih Banyak
Momen Republik Ceko dan Afrika Selatan Harus Puas Bermain Imbang 1-1
