
Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. (Pexels.com/Tom Fisk)
JawaPos.com – Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) adalah salah satu fasilitas olahraga milik Indonesia yang memiliki historisitas panjang. Pembangunan stadion tersebut melibatkan dinamika politik, baik nasional maupun internasional.
Penggagas utama dari wacana pembangunan SUGBK adalah Presiden pertama RI, Soekarno. Semua itu berawal saat Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah Asian Games 1962.
Pada 1952, Federasi Asian Games (Asian Games Federation) menetapkan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 1962. Fakta itu membuat Indonesia membutuhkan kompleks olahraga bertaraf internasional.
Alasan itu pula yang membuat Presiden Soekarno mengeluarkan Keppres No.113/1959 tentang Dewan Asian Games Indonesia (DAGI). Lembaga ini dipimpin oleh Menteri Penerangan Maladi.
Awalnya, Presiden Soekarno memilih daerah Karet-Setiabudi atau Pejompongan sebagai lokasi pembangunan Gelora Bung Karno (GBK). Namun, Ir. Friedrich Silaban menolak usulan tersebut karena akan memacetkan lalu lintas pusat kota.
Arsitek Masjid Istiqlal tersebut mengusulkan daerah Senayan, dekat dengan kota satelit Kebayoran Baru. Akhirnya, Sukarno menyetujui usulan Silaban soal area Senayan.
Untuk membangun Stadion tersebut, Presiden Soekarno mengajukan pinjaman lunak kepada Uni Soviet (kini Rusia). Dan, Nikita Kruschev selaku pemimpin Uni Soviet memberikan pinjaman kepada Indonesia dengan bunga lunak. Nominal kredit lunak dari Uni Soviet sebesar USD12,5 juta.
Konstruksi stadion GBK mulai dibangun pada 8 Februari 1960 dan selesai pada 21 Juli 1962. Pembangunan kompleks olahraga ini terbilang cepat dan selesai tepat waktu sesuai dengan agenda Asian Games di Jakarta pada 1962.
Meski arsitek utama dari pembangunan stadion GBK adalah Friedrich Silaban, tetapi Soekarno sebagai seorang arsitek juga berperan penting dalam pembangunan gelanggang ini.
Muhammad Rizaldy, Abdul Syukur, dan Humaidi dalam “Sukarno dan Pembangunan Stadion Gelora Bung Karno” (2020) mengatakan Soekarno memberikan gagasan konstruksi atap stadion berbentuk oval atau sedikit bundar agar penonton dapat dengan nyaman, terbebas dari hujan, dan panas matahari selama menonton Asian Games dan pertandingan lainnya.
Ini menunjukkan bahwa proyek pembangunan Stadion GBK bukan sekadar memenuhi syarat Asian Games Federation, melainkan mengembangkan politik mercusuar, yang menandakan bahwa bangsa Indonesia bukan bangsa budak lagi.
Remotivi dalam “Selama Ini Kita Tidak Nasionalis, Tapi Narsis” (2022) proyek pembangunan ini bukan sekadar membangun infrastruktur, tetapi membangun psikologis bangsa agar terbebas dari mental terjajah. Dengan demikian, Gelora Bung Karno adalah simbol pembebasan bangsa Indonesia dari mental budak.
Proyek ini hendak menunjukkan ke muka dunia bahwa bangsa Indonesia rasional, modern, dan cerdas. Ini merupakan tujuan utama dari gagasan nasionalisme Soekarno untuk membebaskan bangsa Indonesia dari perasaan rendah diri, meski di tengah realitas kas negara yang kosong.
Sampai sekarang SUGBK masih menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Sejumlah perhelatan kelas nasional hingga internasional berlangsung di gelanggang Senayan ini. Salah satunya perhelatan baru-baru ini adalah Misa Akbar oleh Paus Fransiskus sebagai bagian dari rangkaian perjalanan apostoliknya.
Selain itu, tempat ini juga menjadi venue pertandingan putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 saat Timnas Indonesia melawan Australia.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
