Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 22 Maret 2024 | 23.04 WIB

Kisah Perjuangan Reinold Pietersz, Legenda Persebaya yang Bermodalkan Rp60 Ribu Merantau ke Surabaya

LEGENDA: Reinold Pietersz jadi salah satu legenda Persebaya Surabaya yang akan selalu dikenang kiprahnya di Liga Indonesia. (Youtube Omah Balbalan) - Image

LEGENDA: Reinold Pietersz jadi salah satu legenda Persebaya Surabaya yang akan selalu dikenang kiprahnya di Liga Indonesia. (Youtube Omah Balbalan)

JawaPos.com — Pencinta sepak bola Indonesia tak mungkin melupakan sosok legendaris seperti Reinold Pietersz, penyerang yang menorehkan sejarah bagi Persebaya Surabaya dan Jawa Timur pada era 1990-an.

Namun, di balik gemerlapnya gemerlapnya tribun, terdapat kisah inspiratif tentang perjuangan dan ketekunan yang dilakukan Reinold Pietersz untuk mencapai puncak kesuksesannya.

Reinold Pietersz, atau akrab disapa Koko, adalah putra daerah Ambon yang bermimpi besar di dunia sepak bola. Namun, keberadaannya di lapangan tidak dimulai dengan mudah. Reinold Pietersz merintis langkahnya dari tanah kelahirannya, Ambon, dengan bergabung bersama PSA Ambon pada usia yang masih muda, 19 tahun.

Namun, nasib berkata lain, langkahnya kemudian diarahkan menuju Kota Surabaya, tempat di mana prestasi dan peluang berkarier lebih terbuka.

"Dulu saya mengawali karier di PSA Ambon. Jadi pemain termuda pada usia 19 tahun, baru lulus kuliah. Kemudian saya mendapatkan arahan jika ingin serius di sepak bola, jangan pulang ke Ambon. Saya diarahkan ke Surabaya jika ingin berprestasi karena banyak senior dari Ambon yang punya prestasi di Surabaya," ujar Reinold Pietersz dalam kanal Youtube Omah Balbalan.

"Ketika itu saya ceritakan bahwa surat pengantar dari PSSI Maluku sudah datang ke kerabat yang ada di Surabaya," kenang Reinold Pietersz.

Sebagai seorang perantau yang bersemangat, Reinold Pietersz menempuh perjalanan panjang, dimulai dari Ambon, singgah sejenak di Jakarta, hingga akhirnya tiba di Surabaya. Dalam kisahnya, dia menceritakan bagaimana perjuangan awalnya yang penuh dengan keterbatasan finansial.

Dengan modal uang saku sebesar Rp 60 ribu, Reinold Pietersz melangkah dengan percaya diri menuju Kota Surabaya, di mana dia bermimpi untuk meniti karier di sana.

"Untuk tiket kereta api Rp20 ribu, sisanya untuk hidup di Surabaya. Saya masih ingat Rp500 saja ibaratnya sudah bisa makan di Surabaya," imbunya.

"Pertama ke Surabaya, saya ke rumah Om Nicky. Kebetulan di kota itu banyak teman-teman dulu di PSA Ambon yang kuliah. Jadi, saya menumpang di kontrakan teman-teman itu. Merantau dengan keberanian saja memang," sambungnya.

Di Surabaya, Reinold Pietersz tidak langsung meraih kesuksesan. Dia harus melalui serangkaian seleksi dan tantangan untuk mencapai impian tersebut. Dari Mitra Surabaya hingga akhirnya berlabuh di Persegres Gresik, Reinold Pietersz menunjukkan ketangguhan dan kemampuan fisiknya yang luar biasa. Tak hanya itu, dia juga mendapatkan bimbingan berharga dari para pemain senior, yang membantunya berkembang menjadi pemain yang lebih baik.

"Namun, saya berkomunikasi dengan Om Nicky dulu. Saya dengarkan senior yang sudah lama di Surabaya. Kalau main di Mitra, jam terbang saya kurang, karena banyak pemain bagus di sana. Mungkin bermain untuk tim pelapis, jadi saya disuruh untuk coba seleksi di Gresik," lanjutnya.

Puncak dari perjuangan Reinold Pietersz datang saat dia dipanggil untuk bergabung dalam tim Pra-PON Jawa Timur pada 1996. Meskipun masih memegang KTP Ambon, Reinold Pietersz berhasil lolos seleksi dan menjadi bagian dari tim yang kemudian mengukir sejarah dengan meraih medali emas pertama untuk Jawa Timur dalam ajang PON.

Keberhasilan ini tidak hanya mengukir namanya dalam sejarah sepak bola regional, tetapi juga menjadi awal dari perjalanan karier yang gemilang bagi Reinold Pietersz.

"Saya dan Chairil Anwar masih menjadi warga Ambon. Tapi, akhirnya dibuatkan KTP Surabaya. Lucunya, sekarang saya benar-benar kerja di kelurahan yang menerbitkan KTP saat itu. Padahal dulu tidak tahu itu lokasinya di mana, yang penting dapat KTP saja," kisahnya.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore