
Josep Gombau (Instagram/@josep.gombau)
JawaPos.com – Josep Gombau resmi menjadi pelatih kepala Persebaya Surabaya. Dia bahkan sudah mendarat di Surabaya, Rabu (13/9), dan siap memimpin pasukan Green Force.
Namun, sebelum memberi harapan besar di pundaknya, mari kita mengenal lebih dekat pelatih berusia 47 tahun yang tampak sangar tapi murah senyum tersebut.
Dilansir Athletesvoice, Gombau ternyata mencurahkan semua pengalamannya, baik dari masa kecilnya, belajar filosofi sepak bola dari legenda Johan Cruyff, hingga menerapkannya saat menjadi pelatih.
Berikut ini sepenggal pengalamannya:
Saya dibesarkan di Amposta. Ini adalah desa kecil yang hanya berpenduduk sekitar 20.000 orang, tepat di selatan Barcelona di Sungai Ebre dan beberapa menit dari Pantai Mediterania.
Ayah saya dan saya menonton tim lokal, Club de Futbol Amposta, setiap pertandingan kandang. Mereka bermain di Primera Catalana, yang merupakan kasta kelima sepak bola di Spanyol.
Saya mulai bermain untuk Amposta ketika saya berusia enam tahun sebagai penjaga gawang. Saya juga memulai pelatihan saya di Amposta saat berusia 16 tahun. Saya melatih di sana sampai saya berusia 23 tahun sebelum saya pergi ke RCD Espanyol dan kemudian ke Barcelona.
Semua kenangan awal saya tentang sepak bola ada di Estadi Municipal de Amposta bersama ayah saya. Letaknya tak jauh dari Carrer Barcelona dan dapat menampung sekitar 3.000 orang. Saya sangat menyukai klub itu.
Ketika saya berumur sekitar 10 tahun, keluarga saya membawa saya dalam perjalanan 90 menit dari Amposta ke Camp Nou untuk pertama kalinya. Saya akan melakukan perjalanan dari rumah kami ke Barcelona berkali-kali selama dekade berikutnya.
Beberapa kenangan sepak bola terbaik saya ada di sana. Bahkan, sekarang saya masih ingat berjalan ke Camp Nou untuk pertama kalinya saat masih kecil dan melihat Barcelona bermain. Itu adalah tempat yang spesial bagi saya.
Belajar dari Cruyff
Ketika Anda masih kecil di Spanyol, semua orang menyukai sepak bola. Tentu saja, saya selalu menyukai Barcelona karena saya adalah anak laki-laki dari Catalunya. Namun, ketika Johan Cruyff tiba sebagai pelatih pada 1988, itu adalah level baru.
Saya masih terlalu muda untuk mengingatnya sebagai pemain di Barcelona, walaupun saya telah mendengar semua cerita indahnya. Tapi, Cruyff, yang mengubah sepak bola bagi saya – cara saya menontonnya, cara saya memikirkannya, cara saya ingin sepak bola dimainkan.
Gaya yang mereka mainkan di bawah asuhan Cruyff sangat saya nikmati. Itu membuat saya memandang sepak bola secara berbeda. Saya menjadi anggota Barcelona. Saya adalah seorang penggemar, bukan pelatih, namun Anda dapat melihat sejak pertama kali dia tiba dari Ajax bahwa dia melakukan hal-hal yang tidak dilakukan orang lain.
Banyak pelatih di seluruh dunia yang masih berusaha mencapai apa yang dilakukan Cruyff saat itu.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
