
Pelatih Timnas Indonesia Alfred Riedl
JawaPos.com - Jangan meremehkan peran masseur alias tukang pijat di skuad Garuda, julukan timnas Indonesia. Merekalah yang membuat kebugaran Boaz Solossa dkk tetap terjaga. Buktinya, sepanjang pertandingan sejak fase grup, tidak ada satu pun pemain yang mengalami cedera Bahkan, tidak ada pemain yang mengalami kram di lapangan.
"Kami memang punya program khusus untuk treatment fisik pemain," kata Imannuel Manulang, fisioterapis timnas Indonesia. Mereka menyiapkan program sedemikian rupa untuk menangani fisik pemain.
Selain program latihan khusus, dua masseur timnas Sudir dan Lalu Armin Suhaidin juga yang harus bekerja lebih berat. Sehari setelah pertandingan, setiap masseur harus memijat delapan pemain. "Itu untuk menghancurkan asam laktat dalam tubuh pemain," ujar Immanuel.
Menurut pria asal Toraja tersebut, massage adalah program wajib yang harus dijalani para pemain. Sebab, itu adalah langkah awal pencegahan cedera. Mengingat pentingnya program tersebut, pelatih Alfred Riedl menerapkan denda untuk pemain yang tidak menjalani pemijatan. Besarnya USD 100 atau setara dengan Rp 1,3 juta.
"Riedl adalah sosok pelatih yang sangat memperhatikan hal-hal detail. Dia nggak mau ada pemain cedera hanya karena faktor kecil," ungkap Immanuel. "Jadi, setiap hari, baik pagi maupun sore, kami selalu mengontrol fisik pemain. Bila ada yang mengeluh sakit dan merasa tidak beres, langsung kami tangani," sambung pria 32 tahun itu.
Kunci lain yang melengkapi kekuatan timnas adalah tim data dan statistik. Peran tersebut dijalankan Uzzy Assidra Muhamad Farkhan. Dia bertugas menyediakan statistik pemain timnas dan lawan dalam setiap pertandingan. Data itu dipakai tim pelatih untuk menyiapkan strategi permainan.
Item statistik yang disajikan antara lain adalah total jarak yang ditempuh setiap pemain dan jumlah passing serta shooting ke gawang lawan. "Kesalahan, keunggulan, dan kelemahan pemain kita plus tim lawan saya laporkan. Setelah itu kami berdiskusi," kata Uzzy.
Cara kerja Uzzy masih manual. Dia menggunakan kamera untuk semua aktivitas pemain secara menyeluruh di lapangan. Dia juga memanfaatkan kamera khusus untuk berfokus pada arah pergerakan bola. "Saat melawan Vietnam, tim lawan melakukan 900 passing dalam satu pertandingan. Sementara kita hanya 300 lebih," ujarnya.
Uzzy mengaku beruntung menjadi bagian dari timnas. Banyak pelajaran penting yang dia dapatkan. Terutama terkait dengan cara kerja Riedl menaikkan performa tim yang menurun. Kebetulan, Uzzy juga punya latar belakang pelatih. Dia memegang lisensi pelatih C dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). (ben/c9/ca)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
