
Everton dihukum bayar ganti rugi finansial ke Burnley. (@Everton/X).
JawaPos.com - Everton diperintahkan untuk membayar kompensasi sebesar GBP 35 juta (sekitar Rp 842 miliar) kepada Burnley setelah dinyatakan melanggar aturan keuangan Liga Inggris. Putusan itu diumumkan oleh komisi disiplin independen Premier League pada Rabu (10/6) yang juga mencakup bunga sebesar GBP 9,1 juta (sekitar Rp 219 miliar) dari total kerugian yang dialami Burnley.
Dalam rincian putusan tertulis, Burnley dinilai berhak atas ganti rugi sebesar GBP 26 juta (sekitar Rp 626 miliar) akibat dampak langsung dari pelanggaran aturan Profitability and Sustainability Rules (PSR) oleh Everton pada musim 2021/2022. Musim itu berakhir dengan degradasi Burnley dari Premier League.
Everton pun langsung merespons keputusan itu dengan menyatakan akan mengajukan banding. Dalam pernyataan resminya, klub Merseyside itu mengaku terkejut dan marah, serta menilai putusan itu cacat secara fundamental baik dari sisi hukum maupun fakta. “Putusan ini menciptakan preseden berbahaya dan tidak dapat diterapkan dalam sepak bola Inggris, karena didasarkan pada prinsip bahwa klub bisa dianggap melanggar aturan keuangan kapan saja dalam satu tahun finansial,” tulis pernyataan resmi Everton.
Dilansir dari The Athletic, kasus itu sebenarnya berawal dari pelanggaran PSR Everton pada musim 2021/2022 ketika klub itu mengaku telah melebihi batas pengeluaran sebesar GBP 19,5 juta (sekitar Rp 469 miliar). Masalahnya, pelanggaran itu baru dikonfirmasi secara resmi beberapa bulan setelah musim berakhir. Burnley pun berargumen bahwa jika Everton dihukum lebih awal dengan pengurangan poin, Burnley seharusnya dapat bertahan di Premier League.
Jadi, pada musim 2021/2022, Everton finis empat poin di atas Burnley. Sementara itu, hukuman pengurangan poin terhadap Everton baru dijatuhkan pada musim 2023/2024. Hukuman berupa pengurangan poin itu awalnya ditetapkan sebesar 10 poin lalu dikurangi menjadi enam poin yang memungkinkan Burnley selamat dari degradasi.
Burnley pun menyoroti kerugian finansial besar akibat degradasi, terutama dari hak siar televisi yang turun drastis. Selain itu, pendapatan komersial klub juga menurun dan memaksa mereka melakukan efisiensi besar termasuk pengurangan gaji pemain.
Dalam proses hukum yang telah berlangsung lebih dari empat tahun, Burnley menggunakan pendekatan loss of chance atau kehilangan peluang. Mereka tidak harus membuktikan bahwa mereka pasti selamat dari degradasi, tetapi cukup menunjukkan bahwa pelanggaran Everton telah menghilangkan peluang tersebut.
Awalnya, Burnley menuntut kompensasi hingga GBP 60 juta (sekitar Rp 1,4 triliun), tetapi komisi akhirnya menetapkan angka GBP 35 juta (sekitar Rp 842 miliar)sebagai jumlah yang harus dibayarkan. Dana kompensasi tersebut diperkirakan dapat membantu menutup kerugian finansial akibat degradasi dan memberikan fleksibilitas lebih dalam aktivitas transfer.

Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan Grup A Piala Dunia 2026: El Tri Diunggulkan Menang di Laga Pembuka!
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
