
Mantan pemilik Chelsea Roman Abramovich. (Istimewa)
JawaPos.com–Dana hasil penjualan Chelsea FC oleh mantan pemiliknya Roman Abramovich kembali menjadi sorotan. Uang yang nilainya kini mencapai sekitar £2,4 miliar atau setara lebih dari Rp 45 triliun dilaporkan berpotensi masuk dalam penyelidikan hukum terkait dugaan hasil tindak kejahatan.
Informasi tersebut muncul dalam dokumen keuangan terbaru milik Fordstam Ltd, perusahaan yang sebelumnya digunakan Abramovich untuk memiliki Chelsea. Dalam laporan yang diajukan ke otoritas perusahaan Inggris, disebutkan bahwa dana dari penjualan klub masih dibekukan di rekening Barclays Bank dan saat ini terus bertambah karena bunga.
Namun situasi tersebut bisa menjadi lebih rumit. Otoritas di Jersey disebut tengah menelusuri apakah sebagian aset yang terkait dengan Abramovich, termasuk kemungkinan dana hasil penjualan Chelsea, dapat dikategorikan sebagai proceeds of crime atau hasil dari tindak pidana.
Penyelidikan itu berkaitan dengan dugaan korupsi dan pencucian uang yang menyasar jaringan bisnis Abramovich. Meski begitu, pihak Abramovich sebelumnya telah membantah semua tuduhan dan menegaskan bahwa kekayaannya diperoleh secara sah.
Selama hampir dua dekade menjadi pemilik Chelsea, Abramovich memang dikenal menggelontorkan dana besar untuk membangun kekuatan tim London tersebut. Pendanaan klub banyak berasal dari pinjaman pribadi yang disalurkan melalui berbagai perusahaan offshore.
Salah satu pinjaman terbesar datang dari perusahaan berbasis di Jersey, Camberley International Investments Ltd, yang memberikan dana sekitar £1,4 miliar tanpa bunga untuk Chelsea. Dalam dokumen Fordstam disebutkan bahwa pinjaman ini juga bisa ikut terdampak oleh penyelidikan yang sedang berlangsung.
Jika penyelidikan tersebut berlanjut, belum jelas langkah hukum apa yang dapat dilakukan terhadap pinjaman tersebut ataupun dana hasil penjualan klub. Di sisi lain, dana penjualan Chelsea juga masih menjadi sumber perdebatan antara Abramovich dan pemerintah Inggris.
Setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, Abramovich terkena sanksi dari Inggris dan Uni Eropa karena kedekatannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Sejak saat itu, dana hasil penjualan Chelsea dibekukan. Pemerintah Inggris ingin memastikan uang tersebut digunakan untuk membantu korban perang di Ukraina.
Baca Juga:Proses Penjualan Klub Berlanjut, Sheffield Wednesday Terancam Start Liga dengan Minus Poin
Namun Abramovich menegaskan bahwa dana tersebut tetap merupakan miliknya dan berhak menentukan penggunaannya. Perselisihan ini bahkan berpotensi berujung ke jalur hukum jika kedua pihak tidak mencapai kesepakatan.
Sementara itu, laporan keuangan yang sama juga mengungkap bahwa pemilik baru Chelsea memiliki cadangan dana sekitar £150 juta untuk mengantisipasi kemungkinan denda dari otoritas sepak bola. Cadangan ini berkaitan dengan penyelidikan atas dugaan pelanggaran aturan keuangan klub pada masa kepemilikan Abramovich.
Beberapa transfer besar yang kini menjadi sorotan termasuk perekrutan pemain seperti Eden Hazard, Willian, dan Samuel Eto'o. Meski demikian, tidak ada indikasi pelanggaran yang melibatkan pemilik Chelsea saat ini yang dipimpin investor Amerika, Todd Boehly.
