
Youri Baas (tengah) saat bawa Ajax menang atas Volendam dalam lanjutan Eredivisie. (X/@ADSportwereld)
JawaPos.com - Liga Belanda atau Eredivisie dikenal sebagai salah satu kompetisi Eropa yang cukup terbuka bagi pemain asing.
Klub bebas merekrut pemain dari berbagai negara tanpa batasan ketat jumlah pemain asing yang bisa dimainkan di lapangan. Namun, di balik kebebasan itu, terdapat aturan ketenagakerjaan yang cukup tegas, terutama untuk pemain yang berasal dari luar Uni Eropa.
Bagi pemain dari negara Uni Eropa (EU), wilayah Ekonomi Eropa (EEA), serta Swiss, proses bergabung dengan klub di Belanda relatif mudah.
Mereka tidak memerlukan izin kerja khusus karena adanya kebijakan kebebasan bergerak tenaga kerja di kawasan Eropa.
Artinya, pemain dari negara-negara tersebut diperlakukan seperti tenaga kerja lokal dan bisa menerima gaji sesuai standar pasar klub.
Situasinya berbeda bagi pemain dari luar EU atau non-EU, misalnya dari Indonesia atau Brunei. Mereka wajib mengikuti aturan dalam Undang-Undang Pekerja Asing Belanda, atau Wet arbeid vreemdelingen (WAV).
Proses izin kerja ini ditangani oleh dua lembaga, yakni UWV (Uitvoeringsinstituut Werknemersverzekeringen) sebagai lembaga pelaksana asuransi pekerja, serta IND (Immigratie- en Naturalisatiedienst) yang mengurus imigrasi dan naturalisasi.
Dalam aturan tersebut, pemain asing hanya bisa direkrut oleh klub yang bermain di dua kasta tertinggi sepak bola Belanda, yakni Eredivisie dan Eerste Divisie (Keuken Kampioen Divisie). Selain itu, pemain juga harus dianggap memiliki kualitas yang cukup tinggi dan pengalaman kompetitif yang memadai.
Salah satu syarat paling menonjol adalah soal gaji minimum. Untuk pemain non-EU berusia 20 tahun ke atas, gaji minimal yang harus dibayarkan klub mencapai sekitar €608.000 per tahun atau setara lebih dari Rp11 miliar bruto.
Sementara untuk pemain usia 18 hingga 19 tahun, minimal sekitar €300.000 per tahun atau sekitar Rp6 miliar.
Kebijakan gaji minimum yang tinggi ini sebenarnya bukan tanpa alasan. Pemerintah Belanda menerapkannya agar klub tidak sembarangan merekrut pemain asing.
Dengan biaya yang mahal, klub hanya akan mendatangkan pemain yang benar-benar berkualitas.
Secara tidak langsung, aturan ini juga melindungi pemain lokal dari persaingan yang tidak seimbang.
Hal ini berbeda dengan pemain keturunan Belanda.
Jika seseorang lahir di Belanda atau memiliki orang tua berkewarganegaraan Belanda, mereka bisa memperoleh kewarganegaraan secara otomatis melalui aturan Rijkswet op het Nederlanderschap (RWN).
Status ini membuat mereka tetap dianggap sebagai pemain EU, meskipun kemudian memiliki kewarganegaraan lain.

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
