Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Mei 2018 | 11.20 WIB

Harry Kane, Taring Tajam Tiga Singa

Harry Kane siap meneruskan tradisi keberadaan taring tajam milik The Three Lions. - Image

Harry Kane siap meneruskan tradisi keberadaan taring tajam milik The Three Lions.

JawaPos.com - Keputusan mengejutkan dibuat Manajer Timnas Inggris, Gareth Southgate, ketika mengumumkan pengemban ban kapten di Piala Dunia 2018. Meski tak sedikit yang sudah memprediksi, munculnya nama Harry Kane sebagai kapten utama The Three Lions terbilang cukup mengundang daya tarik.


Bagaimana tidak. Di dalam skuad yang dibawa Southgate ke Rusia, masih ada Gary Cahill. Bek asal Chelsea itu pun sempat beberapa kali dipercaya mengenakan ban kapten Timnas Inggris. Dalam hal senioritas, Cahill jelas unggul pengalaman ketimbang Kane.


Selain Cahill, ada pula gelandang asal klub Liverpool, Jordan Henderson. Di klubnya, Henderson adalah suksesor kapten setelah Steven Gerrard hengkang. Namun, setali tiga uang dengan Cahill, Henderson pun kalah bersaing dari Kane dalam perebutan ban kapten Timnas Inggris.


Terlepas dari segala polemik, Southgate punya alasan kuat menunjuk Kane sebagai pemimpin tim. "Harry punya kepribadian yang luar biasa. Dia memiliki keyakinan dan standar. Sebuah pesan penting untuk tim memiliki kapten yang bisa membuktikan diri jadi salah satu terbaik dunia melalui periode konsisten," urai Southgate seperti dilansir BBC.


Apa yang dikatakan Southgate memang ada di dalam diri Kane. Perjuangan pemuda kelahiran Chingford pada 28 Juli 1993 itu tak cukup mudah untuk mencapai levet elite. Seperti kebanyakan pemain muda usia, Kane sempat kesulitan menembus skuad utama Tottenham Hotspur sejak bergabung dengan akademi tim pada 2004.


Meski sudah melakoni debut sejak 2011, dia harus menjalani masa peminjaman di sejumlah klub seperti Leyton Orient, Millwall, Norwich City, dan Leicester City. Pada 2014, Kane baru bisa memetik buah dari perjuangan tak kenal lelah. Dia mulai mendapat kepercayaan dari Manajer Tottenham kala itu, Mauricio Pochettino.


Perlahan, Kane mulai unjuk gigi dengan menggelontorkan gol demi gol. Dia lantas diganjar kontrak baru berdurasi 5 tahun oleh Spurs, yang ditandai dengan torehan 2 gol saat memenangi Derby London Utara melawan Arsenal lima hari kemudian.


Seiring produktivitasnya yang kian moncer, Kane sempat dipercaya mengenakan ban kapten Tottenham pada 5 April saat menghadapi Burnley. Dua pekan setelahnya, dia menorehkan gol ke-30-nya pada musim itu saat bertandang ke markas Newcastle United.


Berkat ketajamannya di mulut gawang, Kane lantas mendapat julukan Hurricane. Sederet penghargaan pun mulai menghampirinya, termasuk PFA Young Player of the Year dan PFA Team of The Year pada musim 2014-2015. Kane akhirnya dipercaya mengenakan nomor punggung keramat, 10, pada awal musim 2015-2016.


Nomor 10 yang dikenakan ternyata benar-benar bertuah. Kane mengakhiri musim dengan torehan 25 gol dalam 30 pertandingan. Mebuatnya dinobatkan sebagai top skorer Premier League pertama asal Inggris sejak Kevin Phillips pada 2001-2002. Gelar itu mapu dipertahankan Kane pada musi berikutnya, dengan gol yang lebih baik, yakni 29.


Kemunculan Kane sebagai bober maut di Premier League membuat publik Inggris bisa tersenyum semringah. Pasalnya, kemerosotan performa Wayne Rooney tak membuat suporter Inggris cemas Timnasnya akan kehilangan seorang predator di mulut gawang. Kane muncul sebagai penerus tradisi bomber tajam di Timnas Inggris setelah era Alan Shearer, Teddy Sheringham, Andy Cole, Michael Owen, hingga Rooney.


Kian moncernya performa Kane di klub sejurus dengan sepak terjang di Timnas Inggris. Sejak diberi kepercayaan tampil membela tim senior pada era kepelatihan Roy Hodgson. Titik baliknya adalah ketika dia didaulat menjadi pengganti Rooney pada laga kualifikasi Piala Eropa 2016 melawan Lithuania.


Kane langsung mencetak gol hanya 80 detik sejak masuk pada babak kedua usia mengkonversi umpan Raheem Sterling dengan sundulan. Perdebatan mulai muncul kala itu: "Apakah Kane sudah pantas menggusur Rooney dari posisi striker utama The Three Lions?"


Hodgson menjawab pertanyaan itu dengan memainkan duet Kane dan Rooney pada laga melawan Italia di Juventus Stadium yang berakhir imbang 1-1. Kane pun turut dibawa ke Piala Eropa 2016 di Prancis. Meski gagal membawa Inggris berjaya, Kane tetap menuai pujian dan mendapat kepercayaan dari pengganti Hodgson, Southgate.


Bahkan pada Juni 2017, Southgate pula yang memberi kepercayaan menyematkan ban kapten ke lengan Kane pada laga Pra-Piala Dunia 2018 melawan Skotlandia. Posisinya pun mulai tak tergantikan di lini depan. Tak terkecuali oleh Jamie Vardy, yang sempat disebut sebagai pesang utamanya.

Editor: Irawan Dwi Ismunanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore