Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 20 Mei 2023 | 17.49 WIB

Tim-tim Italia yang Mulai Menggigit di Kompetisi Kancah Eropa

Lautaro Martinez (kiri), Paulo Dybala, dan Luka Jovic akan menjadi tumpuan Inter Milan, AS Roma, dan Fiorentina di final kancah Eropa musim ini. - Image

Lautaro Martinez (kiri), Paulo Dybala, dan Luka Jovic akan menjadi tumpuan Inter Milan, AS Roma, dan Fiorentina di final kancah Eropa musim ini.

JawaPos.com – Tiga tim Italia, Inter Milan, AS Roma, dan Fiorentina dipastikan melaju ke babak final untuk tiga edisi kompetisi kasta Eropa musim ini.

Inter bermain di final Liga Champions, Roma tampil di Liga Europa, sedangkan Fiorentina berlaga di final Liga Konferensi Eropa.

Inter bakal menghadapi Manchester City di final Liga Champions pada 11 Juni. Lalu, AS Roma akan menantang tim langganan juara Liga Europa, Sevilla pada 1 Juni. Sementara Fiorentina berambisi merengkuh trofi Liga Konferensi Eropa dengan menjamu West Ham United pada 8 Juni.

Tim-tim Italia ompong di Eropa lebih dari satu dekade sejak Inter juara Liga Champions pada musim 2010, bahkan sukses meraih treble di era kepelatihan Jose Mourinho.

Malah di Liga Europa, tim asal Italia seolah hanya sekadar main dan jauh dari kata garang setelah terakhir kali piala kasta kedua Liga Eropa itu tiba di Italia pada 2000 yang dibawa oleh Parma.

Meski dibilang seumur jagung, Liga Konferensi Eropa yang merupakan kompetisi kasta ketiga Eropa diboyong menuju ibu kota Italia oleh AS Roma di era Jose Mourinho pada musim lalu.

Klub Italia telah kehilangan pamor seusai menjadi liga teratas dunia pada dekade 1980 hingga 1990-an. Ketika itu, tim-tim Italia seperti AC Milan, Napoli, Juventus, Inter Milan, hingga Parma hilir mudik mengangkat trofi Eropa.

Persoalan pelik

Namun, memasuki masa milenium, lambat laun klub Italia tak se-seksi dulu lagi. Selain ditinggal bintang-bintang dunia seperti Michael Platini, Ruud Gullit, Marco van Basten, Frank Rijkard, Ronaldo da Lima dan Zinedine Zidane, Liga Italia menuai sejumlah persoalan yang pelik.

Krisis finansial yang menerpa negara Italia pada 2000 menjadi pemantik dari ompongnya kompetisi Liga Italia. Salah satu imbasnya melanda Fiorentina yang pada 2002 mengalami krisis finansial dan harus turun ke Serie B dan berganti nama klub.

Imbas dari krisis finansial juga menyebabkan klub-klub Italia mengubah kebijakan transfer mereka dengan mendatangkan pemain-pemain berusia lanjut atau melakukan peminjaman pemain.

Puncaknya terjadi pada 2006, meski tim nasional Italia mampu menjadi juara Piala Dunia, prestasi tersebut tak dapat menutupi salah satu skandal terbesar dalam sejarah sepak bola, yaitu kasus Calciopoli yang menyeret dua nama klub besar Juventus dan AC Milan.

Skandal itu menyebabkan Juventus terdegradasi ke Serie B dan dicopot gelar juara Serie A musim 2005/2006. Hingga beberapa tahun, efek domino dari sejumlah kasus itu masih belum terasa dari segi prestasi klub di kancah Eropa. Terbukti, AC Milan masih mampu menjuarai Liga Champions di musim 2006/2007 dan Inter Milan di musim 2009/2010.

Namun, kegarangan klub Italia terasa hilang di kompetisi Eropa seusai musim 2009/2010 setelah klub-klub tak menampakkan geliat mendatangkan pemain bintang meski ditinggal nama-nama sekaliber Paolo Maldini, Javier Zanetti, dan Alessandro Del Piero yang memutuskan pensiun.

Tak hadirnya bintang besar tu disebabkan klub-klub Italia tak mampu memberikan standar gaji tinggi yang diinginkan oleh pemain maupun pelatih yang dalam era itu bisa mereka peroleh dari tim-tim top Liga Premier maupun La Liga.

Editor: Edi Yulianto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore