
Nasib pelatih Ange Postecoglou terancam di Nottingham Forest. (Instagram @officialnffc)
JawaPos.com-Kursi pelatih di Premier League kembali berguncang. Setelah Nuno Espirito Santo dan Graham Potter, kini giliran Ange Postecoglou yang posisinya mulai goyah, padahal musim baru berjalan tujuh pertandingan.
Fenomena ini menandakan betapa rapuhnya stabilitas manajerial di Liga Inggris, terutama ketika klub promosi tampil mengejutkan. Melansir dari Daily Mail Sport, awal musim ini, klub-klub promosi seperti Sunderland, Leeds United, dan Burnley, menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar numpang lewat di Premier League.
Sunderland mengoleksi tiga kemenangan dan 11 poin, sedangkan Leeds hanya tertinggal tiga angka dan tampil kompetitif, terutama saat bermain di kandang.
"Sunderland telah mengumpulkan tiga kemenangan dan 11 poin, dengan Leeds United hanya tiga poin di belakang mereka dan sangat kompetitif, terutama di kandang," tulis laporan tersebut.
Sementara itu, Burnley memang terlihat lebih rapuh. Namun, mereka tetap mendapat pujian karena mampu bersaing dalam jadwal berat yang mempertemukan mereka dengan empat klub anggota big six.
Fenomena klub promosi yang tampil berani ini memicu efek domino. Klub-klub mapan yang khawatir terseret ke zona degradasi menjadi panik dan sering mengambil langkah instan yaitu memecat pelatih.
Liga Manajer Inggris (LMA) mencatat tiga tren utama penyebab meningkatnya pergantian pelatih. Globalisasi sepak bola Inggris, yang membuat klub lebih mudah mencari pelatih dari seluruh dunia.
Selanjutnya, model kepemilikan yang semakin terdesentralisasi, menyulitkan manajer menjalin hubungan jangka panjang dengan pemilik. Selain itu, budaya jangka pendek yang ekstrem, baik dalam sepak bola maupun kehidupan modern.
"Ini adalah bagian dari fanfare Premier League, di mana selalu harus ada manajer yang disorot. Saya mengerti itu. Sekarang giliran saya," kata Postecoglou yang dikutip dari Daily Mail Sport.
Kisah yang dialami Postecoglou bukanlah hal baru. Ketika menangani Tottenham Hotspur, dia juga pernah mengeluhkan siklus pendek dalam dunia kepelatihan modern. Ironisnya, Tottenham yang dulu menunjuknya untuk menghadirkan sepak bola menyerang justru kini kembali pada pendekatan defensif di bawah Thomas Frank.
"Sepertinya sekarang begitu ada yang salah, orang langsung bilang: ‘Itu salah, ubah saja, hancurkan semuanya. Pada titik tertentu, klub harus berpegang pada satu hal" ujar Postecoglou.
Di sisi lain, Nottingham Forest kini nyaris mengulang pola yang sama. Mereka merekrut Postecoglou untuk menggantikan gaya bertahan khas Nuno Espirito Santo, tetapi kini sudah mulai ragu setelah tujuh laga tanpa kemenangan.
Postecoglou menegaskan bahwa akar masalahnya bukan sekadar hasil buruk, melainkan mentalitas modern yang serba instan. "Kita hidup di dunia di mana orang ingin semuanya cepat. Tapi sepak bola tidak selalu bisa begitu," ungkap Postecoglou.
Sayangnya, di liga dengan nilai siaran mencapai miliaran poundsterling, kesabaran tampaknya menjadi barang langka. Klub-klub rela membayar kompensasi besar asalkan bisa mencari keajaiban baru di pinggir lapangan.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
