
Ultras PAOK desak agar Israel dilarang tampil di kancah internasional. (X @ultras_clips)
JawaPos.com - Tekanan terhadap UEFA dan FIFA untuk bersikap tegas soal keikutsertaan tim asal Israel di ajang internasional semakin menguat.
Isu ini kembali mencuat setelah laga fase grup Europa League antara PAOK FC melawan Maccabi Tel Aviv di Stadion Toumba, Rabu (24/9/2025), berakhir imbang 0-0.
Bukan hanya skor yang jadi sorotan, tetapi juga aksi suporter fanatik tuan rumah.
Ultras PAOK yang dikenal dengan sebutan Gate 4, merupakan salah satu kelompok ultras paling sangar di Eropa, melancarkan protes terbuka terhadap kehadiran klub asal Israel tersebut.
Mereka tak hanya melontarkan yel-yel bernada cacian, tetapi juga membentangkan spanduk besar bertuliskan “Show Israel the Red Card”.
Aksi itu sontak menarik perhatian media internasional karena dianggap sebagai bentuk tekanan langsung kepada otoritas sepak bola Eropa.
Menurut laporan yang dikutip dari akun @skyfootball, aksi di Stadion Toumba itu semakin menambah daftar desakan agar UEFA dan FIFA mempertimbangkan langkah ekstrem melarang tim nasional Israel maupun klub-klub dari negara tersebut mengikuti kompetisi internasional.
Sumber internal UEFA menyebutkan bahwa sudah ada pembicaraan tingkat tinggi di tubuh organisasi mengenai kemungkinan “ban” terhadap Israel. Namun, keputusan apa pun dinilai tidak akan mudah mengingat dampaknya bisa sangat luas, baik dari sisi olahraga maupun politik.
Protes suporter PAOK bukanlah yang pertama. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah kelompok pendukung di berbagai negara Eropa mulai menyoroti keterlibatan Israel di kancah sepak bola internasional.
Sebagian menilai keikutsertaan klub dan timnas Israel sudah tak bisa dipisahkan dari situasi politik yang terjadi di Timur Tengah.
Mereka beranggapan, selama konflik masih berlangsung dan menimbulkan korban sipil, dunia olahraga tidak seharusnya bersikap netral sepenuhnya.
Meski demikian, langkah untuk benar-benar melarang Israel tidak sederhana. FIFA dan UEFA selama ini berusaha menjaga agar sepak bola tetap berdiri di atas jalur sportivitas, meski realitanya keputusan mereka kerap bersinggungan dengan tekanan politik.
Jika UEFA sampai benar-benar memberlakukan larangan, hal ini bisa menjadi sebuah kejadian yang besar.
Beberapa pihak mengingatkan, situasi ini bisa menyeret federasi ke dalam dilema antara menjaga prinsip sportivitas atau mengikuti desakan politik yang semakin kencang.
Kembali ke pertandingan, duel antara PAOK FC dan Maccabi Tel Aviv sejatinya berlangsung ketat. Kedua tim sama-sama gagal mencetak gol hingga peluit panjang dibunyikan. Hasil imbang 0-0 itu membuat persaingan di grup masih terbuka.

Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
Sebut Sumbar 'Barbar' dan Kristen Fobia, DPP IKM Siap Laporkan Abu Janda ke Mabes Polri Selasa Besok!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
9 Mall Terbaik di Semarang, Selalu Jadi Andalan Wisatawan Saat Liburan Cari Hiburan
