
Mohammad Ilham
JawaPos.com – Semua manusia pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Titik di mana kita merasa semuanya sudah habis. Tatkala harapan itu terasa begitu mahal melebihi berlian paling indah dan langka. Dan, bukan hanya kita yang pernah begitu.
Juventus menjadi wujud nyata dalam sepak bola. Persebaya Surabaya juga pernah mengalaminya. Masih banyak lagi yang punya kisah serupa, apabila kita mempertimbangkan kisah kehancuran dan kebangkitan Parma juga Fiorentina.
Calciopoli menghancurkan Juve sehancur-hancurnya pada 2006. Terdegradasi ke Serie B hanya kehancuran kecil selain pencabutan scudetto. Kehancuran yang lebih brutal adalah citra mereka yang berada pada titik paling rendah. Tapi, pandanglah Sang Nyonya Tua kini.
Juventini pasti bangga akan stadion milik mereka sendiri. Keuangan yang stabil tanpa sugardaddy. Prestasi yang konsisten. Saat ini, impian untuk kembali merebut trofi Liga Champions terasa begitu dekat meski belum tergapai.
Lalu Persebaya. Klub legendaris yang pernah dimatikan. Dihancurkan. Ditiadakan. Perjuangan penuh cinta dan keberanian akhirnya membuat mereka terlahir kembali pada 2017. Menjadi lebih baik. Tentu saja, tidak semua bayi langsung cemerlang pada usia awal kelahiran kembalinya. Tapi, jalan yang mereka pilih sudah tepat dan menjanjikan.
Kisah itu mengingatkan saya akan legenda burung Phoenix. Dalam mitologi yang dikenal dunia, Phoenix menggambarkan matahari, mati, dan terlahir kembali. Dikisahkan, baik dalam mitologi Yunani, Mesir, atau Tiongkok, burung Phoenix digambarkan sebagai burung ajaib penuh cahaya berkilau. Mereka hidup ratusan tahun sebelum mati terbakar. Lalu terlahir kembali dari abu untuk menjalani kehidupan baru yang panjang dan lebih cemerlang.
Dari sana, ada baiknya klub lain di Italia seperti AC Milan atau rival sekotanya, Inter Milan belajar. Atau di dekat kita saja, kehancuran Persebaya dan kebangkitannya bisa menjadi inspirasi bagi Deltras Sidoarjo dan Persegres Gresik United yang terpuruk begitu dalam di kasta terendah kompetisi negeri ini.
Bukan hanya tercerabut dari habitat yang pantas buat mereka. Deltras dan Persegres ibarat sedang terkena kanker dan enggan untuk kemoterapi. Padahal, dengan kemoterapi saja belum tentu kanker itu bisa dipulihkan. Apalagi kalau terus hidup dan bertahan dengan kanker di tubuhnya. Itu bukan hidup. Itu hanya menunggu ajal tiba.
Baik Deltras maupun Persegres sama-sama memiliki sejarah dan kejayaan di levelnya. Mereka juga masih disokong para pendukung setia. Lalu apa yang jadi penghambat untuk bangkit? Pengelolaan yang old school. Atau, owner yang enggan merelakan kenyataan bahwa mereka tak lagi pantas. Agaknya untuk yang satu ini mereka perlu belajar merelakan sesuatu yang dicintai seperti Massimo Moratti melepas Inter Milan kepada siapapun yang dianggap lebih layak. Setidaknya dia telah mengupayakan itu dengan segenap cintanya.
Pada akhirnya, lebih baik hancur, luluh lantak, lalu jadi abu. Namun, bangkit lah kembali dengan berapi-api layaknya burung Phoenix. Bukannya hidup menanti malaikat maut menjemput.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
