Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 28 Juni 2026 | 20.28 WIB

'Epiphany': 58 Tahun dan Sebuah Percakapan dengan Tuhan

Pelukis Antaresa Hendita dalam pameran tunggal ketiganya, "Epiphany: A Testimony of Healing and Restoration" yang digelar di Art1 Space. (Dok. Pribadi) - Image

Pelukis Antaresa Hendita dalam pameran tunggal ketiganya, "Epiphany: A Testimony of Healing and Restoration" yang digelar di Art1 Space. (Dok. Pribadi)

JawaPos.com - Separuh abad lebih telah dilewati pelukis Antaresa Hendita dalam menjalani kehidupan. Selama 58 tahun, berbagai fase telah dillalui: kebahagiaan, kehilangan, pencarian, hingga pergulatan batin yang diam-diam membentuk dirinya menjadi pribadi seperti hari ini.

Namun, di tengah perjalanan panjang tersebut, Hendita menemukan sebuah kesadaran baru. Sebuah pemahaman tentang dirinya, tentang luka-luka yang selama ini tersimpan, dan tentang bagaimana Tuhan bekerja dalam proses pemulihan hidupnya.

Kesadaran itulah yang kemudian melahirkan pameran tunggal ketiganya bertajuk "Epiphany: A Testimony of Healing and Restoration" yang digelar di Art1 Space, Jakarta beberapa waktu lalu.

Dalam pameran tersebut, Hendita menghadirkan 58 karya lukis yang dikurasi Anna Sungkar. Jumlah yang bukan tanpa alasan. Angka tersebut merepresentasikan usia yang telah dijalaninya, sekaligus menjadi penanda perjalanan hidup yang penuh refleksi.

Lukisan-lukisan karya Antaresa Hendita. (Dok. Pribadi)

Dialog dengan Tuhan

Berbeda dengan karya-karya sebelumnya, seluruh lukisan dalam pameran ini lahir dari proses yang sangat personal. Setiap sapuan kuas menjadi ruang dialog antara dirinya dengan masa lalu, dirinya dengan dirinya sendiri, dan dirinya dengan Tuhan.

"Ada banyak hal yang saya rasakan dan lalui dalam menyelesaikan seluruh lukisan ini. Saya banyak berbicara kepada diri sendiri dan juga Tuhan," ujar Hendita.

Melalui proses tersebut, Hendita menyadari bahwa ada bagian-bagian dalam dirinya yang selama ini belum benar-benar sembuh. Luka yang tidak selalu terlihat, tetapi tetap hadir dan memengaruhi perjalanan hidupnya.

Salah satu penemuan terbesar dalam proses refleksi itu adalah kerinduannya terhadap sosok ibu. Bagi Hendita, rumah bukan sekadar bangunan atau tempat untuk kembali. Rumah adalah sosok ibu. Sebuah ruang aman yang selalu ingin ia datangi kembali, bahkan ketika waktu telah berjalan begitu jauh.

"Saya sadar ada hal-hal yang perlu saya sembuhkan dalam diri, dan itu ada di ibu saya. Rumah bagi saya adalah ibu," ungkapnya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore