
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
Ini aku,
Pemulung asa dari luntang-lantung barat
Jakarta pagi ini;
pada lembaran roti yang berselimut selai beraroma buah berry
Di atas mebel penyangga martabat langit, langkah-langkah dokter anestesi juga jajaran jeep bermiliar-miliar dollar,
meneduh sopan pada sang empunya arloji Hublot Big Bang Diamond Tourbillon
Gema pianis-pianis menjelma sepicik pucuk malam yang menerawang terawang surga
Tak ada duka hinggap pada setiap saku-saku jas berdasi, atau sekedar menumpang rehat pada kaki-kaki yang patah
Aku lihat dari kaca seribu meter di atas tanah
Tangga-tangga sibuk berjalan pada sepatu-sepatu mengkilap, lalu terang kumpulan emas meraup kartu-kartu rapi di dompet berkulit
Aku bicara, menyimak jejak yang sengaja ditinggalkan, barangkali mengikuti aroma parfum yang membias terbawa udara
“Sepuluh tahun lagi, pencakar langit menjelma seutas layang tanpa benang,” kata pengemis buta di bawah jembatan jam dua kelabu
Di persimpangan pisau-pisau ramping mengunci setiap inci sudut kota yang membawa martabat, aku mengasah hakikat tanpa identitas.
---
Sebab,

7 Kebiasaan Malam Orang yang Tidak akan Pernah Berhasil dalam Hidup Menurut Psikologi
8 Rekomendasi Kuliner Bebek Terenak di Jogja: Sambal Menyala, Porsi Melimpah dan Rasa Istimewa
9 Rekomendasi Gudeg Koyor Paling Nendang di Semarang, Kuliner Tradisional dengan Rasa Sultan
7 Rekomendasi Brongkos Paling Ngangenin di Jogja, Kuliner Khas dengan Rasa Manis Gurih Pedas
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Ditangkap Kejagung Terkait Perkara Tambang
13 Rekomendasi Mie Ayam Enak di Jogja, Kuliner Kaki Lima yang Rasanya Bak Resto Bintang Lima
15 Tempat Kuliner di Jogja untuk Sarapan Pagi Paling Murah Meriah tapi Rasa Tetap Istimewa
Rekomendasi Kuliner Sate Kambing Terenak di Jogja: Daging Empuk di Lidah, Bumbu Meresap Sempurna
Prediksi Susunan Pemain Persebaya Surabaya vs Madura United di Derbi Suramadu! Misi Bangkit di Hadapan Bonek
Prediksi Skor Persebaya Surabaya vs Madura United! Momentum Bernardo Tavares Buktikan Magisnya di GBT
