Logo JawaPos
Author avatar - Image
09 Oktober 2022, 17.22 WIB

Membaca Kitab Ajal

ILUSTRASI (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI (BUDIONO/JAWA POS)

Membaca Kitab Ajal


: untuk KH D. Zawawi Imron

 

kutitip kematianku dalam bait-baitmu

sebab aksaraku kian berkubang gelisah

 

setajam angin, memutih tulang

tanah-tanah bukanlah tempat

penghentian musim

 

nafas bagai lantunan syair

merapal aroma yang dinamakan hidup

kadang mendengus

serupa penyiksaan aib

 

adakah tidur yang lebih abadi

dari kekalnya kematian

selain kata menyembur gelisah

beranjak lunglai

di antara ringkih waktu

memainkan episode hujan dan kemarau

 

di atas sana, berjuta aksara

menyelusup tubuh gemintang

mata kita selalu saja terpasung

menakwilkan isyarat dengan sebongkah kedangkalan

hingga rerumputan bercengkerama riuh

membasuh diri di helai embun

seakan mengalungi sajak-sajak kita

basah dan kuyup bermandikan sinkretisme

mungkin juga ateisme

 

hari-hari berlari

bagai kibarkan sepasang jagal

sinarnya menghunus tajam

membara di tungku penyiksaan

memulai episode neraka

tatapan kita, mungkin berkabut hitam

penuh jelaga

 

di sudut-sudut kota

komat-kamit doa menanti di bahu langit

serupa lafal penuh kelembutan

sepasang jagal pun berlari kencang

penuh sorak, bergemuruh bagai ombak

ke mana kita membuang penyesalan

semua merancap di tungku perapian

 

aku bertanya, masih adakah cara

senandungkan rindu kepada Ilahi

selain membaca: –kitab ajal–

para peziarah pun bergegas

kalungkan sajak di atas pusara

tanah dan rumput ilalang membuncah luka

bukankah perang telah berakhir?

adalah sunyi dan sepi

telah berikrar

sempurnakan aksara kematian

 

Malang, 2022

---

Jejakmu


 

Dua larik puisi mengalir deras

di sehelai kertas ingatanku

ingin kueja namamu yang mulai luntur

lapuk diselimuti hujan dan panas

hingga embun tak lagi sebening namamu

terbalut luka tanah-tanah ini

terpasung pada bingkai di sudut-sudut jalan

mungkinkah catatan sejarah itu tak punah

dan lampu-lampu jalan redup membaca

 

Orang memanggilmu, pahlawan

kala kauruncingkan penaku

dengan bambu di atas pusaramu

dan kutulis masa lalu, yang belum sempat kuingat

bersama peluh yang mengalir di tubuhmu

seakan bercerita tentang kehinaan jasadmu

aku pun belum mengerti makna

tentang hidup

 

Matahari makin melangit, lirih dedaunan gugur

menyiangi pusaramu, memutih tulang

sajakmu begitu indah

untuk jiwamu yang kaukorbankan bagi negeri

dan itu belum memberi pelajaran berharga untukku

masih saja sajakku melagukan rindu

hanyut dalam metafora cinta

 

sempat dalam kesendirianmu, kubaca dirimu

tersayat menanti bunga doa

 

Biarkanlah kusanjung dirimu sebagai pahlawan

meski kini orang-orang memaku tubuhmu

pada analogi satire tanpa aroma keringat

dalam larik sajakku ingin kusimpan jejakmu

membiarkan lalu-lalang para penista

merobek kehinaan diriku

atau mungkin juga, batinku terlalu angkuh

menguliti pusaramu yang diam!?

 

Entah dengan cara apa kuhapus keletihanmu

merenda baju, membasuh darah yang membekas

tanah pun menindih

sementara lantang lisanku semakin samar

bersembunyi di antara kabut awan

Biarlah itu mencurah deras

langit melagukan hujan, untuk merapuhkan kesunyianmu

membasuh kemarau yang belum sempurna

 

Jejakmu beranjak, mencari sekeping doa

sebab hidup selalu berkebat perjuangan

 

Malang, 2022

---

VITO PRASETYO, Lahir di Makassar, 24 Februari 1964. Kini bertempat tinggal di Kab Malang.
Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore