25 September 2022, 17.14 WIB Mari Becermin
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Mari Becermin
Mari kita becermin
kepada laut
di saat tenang
Agar riaknya bisa kita tangkap
Sebagai irama dalam pergaulan
Kembali kita berkaca kepada laut
Pada saat ganasnya gelombang
Agar kita punya kedalaman kasih sayang
Kepada penumpang kapal yang tak berdaya
sebelum tenggelam
2022
---
Di Puncak Bintan
Di pucuk Gunung Bintan
Kupungut sengat menjadi semangat agar aku ingat pada langkah yang terarah ada marwah
Pada pedasnya jantung yang diinjak gelombang aku menolak berbantal bimbang
Bulan cemerlang tak lahir dari lautan
Tapi pencalang tetap berlayar ke seribu penjuru tak berpikir untuk tenggelam
Bukan siang dan bukan malam yang menentukan gelombang karena madu dan empedu telah bersetuju melanjutkan napas prahara yang lahir dari ujung telunjuk Hang Tuah, yang rahmat Allah untuknya.
Kecut asam telah kukunyah, benih-benih telah kusiram, hati pun menjelma keris yang tunjam ke magma setelah minum sumber tujuh lautan
Subhanallah, tanah Melayu, tanahku tanah kita tanahnya Allah, kalau disungkal lahirlah pangkal, kalau dicangkul bertemu Syafaat Rasul. Allahu Akbar.
Duri daun dan rumput, nyeri aum dan sudut,
Tubuh diam dalam bisu tapi zikir menjadi desah yang sanggup menjinakkan seluruh prahara laut
Saat itu puncak Bintan menjadi sajadah tempatku bersujud
Subhanallah
Maha Suci Engkau ya Allah!
2022
---
Di Ubun Pulau Bintan
Di ubun Pulau Bintan takbirku membuat diriku menjelma sebutir debu di ujung jarum ibuku
Aku ingin tersedu menyadari kekerdilanku,
Ingin mengintip kerlipan bintang kutunggu gelapnya malam, ingin mencium aroma kenanga kutunggu mekarnya bunga, ingin menjadi anaknya ibu sungguh perih ingsut langkahku
Seakan aku bayi buangan yang tak jelas siapa bapak ibuku
Kuingat kencur dan lengkuas yang sudah lama tak ada pada air hangat mandiku
Untung aku masih merasa debu, karena gajah yang kujelma tak lebih dari angan-angan tengik yang menerbangkan seribu lalat seribu langau yang andal menebar galau
Inilah perjuangan menjadi anak ibu, ibu yang sangat tahu letak kelenjar tempat sumber kata-kataku yang bergetar
Tapi puisi bukan kata dan bukan suara. Di dalam rasa ada madunya rasa, ia sejenis tsunami yang datangnya dari entah yang pantang disebut nama
Saat ini kukenang pusara, kuingat senyum ibunda yang di bawah telapak kakinya ada surga
Ibu melarang aku tegak sendiri
Di ubun Pulau Bintan aku mengerti
Saat aku hanya sebutir debu sedang berdoa dan ada seribu penyair mengaminkanku
Baru kuyakin bahwa aku setetes air mata ibu yang tidak palsu
2022
---
D. ZAWAWI IMRON, Penulis, penyair, dan budayawan MaduraEditor: Ilham Safutra