
Ribuan warga Badui berjalan kaki saat mengikuti ritual adat Seba pekan lalu di Banten.
Suku Badui tetap mempertahankan tradisi yang sudah berlangsung beberapa generasi. Salah satunya ritual Seba yang khusus untuk kaum lelaki. Menjaga tradisi dengan pelibatan anak-anak muda Badui.
JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Serang
---
TAK tergurat keletihan pada wajah Ayah Karmain. Lelaki suku Badui Dalam itu sedang duduk di Gedung Olahraga (GOR) Maulana Yusuf, Serang, Banten, Sabtu (21/4).
Sesekali dia mengipas-ngipaskan tangan untuk mengusir gerah di gedung yang terasa panas itu. Dua kotak berisi nasi dan snack di sampingnya siap untuk santap siang. "Baru sampai jam 10.30 tadi. Setengah jam lalu," kata pria yang tinggal di kampung Cibeo, Badui Dalam.
Dia bersama 46 warga suku Badui Dalam baru saja berjalan kaki dari Pendapa Kabupaten Lebak menuju GOR di alun-alun sebelah timur Serang, Banten, itu. Jaraknya sekitar 33,7 kilometer.
Bila ditempuh jalan kaki tanpa berhenti, perjalanan makan waktu sekitar 7 jam. Di dalam dan luar GOR itu ribuan masyarakat Badui Luar juga sudah tiba. Bedanya, mereka naik kendaraan.
"Berhentinya tidak bisa lama-lama. Karena harus menyesuaikan rangkaian Seba Badui. Beda kalau pergi sendiri," kata pria yang punya nama lahir Sarta itu.
Bersama kelompok tersebut juga ada anak-anak muda yang berumur belasan. Wajah mereka tak memperlihatkan lelah. Tidak ada yang mengeluh capek atau pegal-pegal. Mereka cenderung diam. "Biasa. Tidak capek. Lumayan panas kaki," ujar Haja, 11, yang baru pertama ikut Seba Badui. Dia terlihat malu-malu menjawab pertanyaan Jawa Pos.
Ritual Seba Badui merupakan acara tahunan yang wajib digelar setelah masyarakat yang mendiami kaki Pegunungan Kendeng di Desa Kanekes itu melakukan tradisi Kawalu dan Ngalaksa. Salah satu ritual Kawalu selama tiga bulan itu adalah berpuasa serta berdoa meminta keselamatan bangsa dan negara.
Sedangkan Ngalaksa adalah membuat laksa, sejenis makanan olahan berbentuk seperti mi dari tepung beras. Laksa itu pula yang menjadi salah satu oleh-oleh yang diberikan kepada kepala daerah yang mereka sebut Bapa Gede saat Seba.
Seba yang secara mudah diartikan sebagai silaturahmi atau bertamu sebenarnya bukan hanya bertemu kepala daerah. Tapi, termasuk camat Leuwidamar dan anggota musyawarah pimpinan kecamatan dari unsur TNI dan Polri juga ditemui.
Ketua Pelaksana Seba Badui Ari Kuncoro yang juga menjabat kepala urusan umum Desa Kanekes menuturkan, yang mendatangi camat Leuwidamar memang hanya perwakilan tokoh masyarakat. Mulai Jaro Pamarintah Saija hingga Baris Kolot (tetua adat). "Yang dibawa mulai beras, pisang, gula aren, dan laksa. Kalau durian tidak termasuk karena tidak selalu musim," ujar pria yang berasal dari Gunung Kidul tapi menikah dengan perempuan Badui pada 2008 itu.
Sebagian besar warga Badui yang turut dalam ritual Seba berangkat langsung ke Lebak. Warga Badui Luar memang tidak punya keharusan berjalan kaki menuju kota. Mereka diberangkatkan dengan 80 kendaraan, mulai truk, bus, minibus, pikap, hingga mobil pribadi. Jumlah peserta Seba Badui mencapai 1.388 orang dari 12 ribu total warga Kanekes. Semuanya lelaki. Sebab, perempuan tidak diperkenankan untuk turut dalam ritual adat itu.
"Kami berangkat setelah jumatan supaya tidak mengganggu warga muslim. Untuk saling menghormati," ujar Ari. Pertimbangannya, jumlah kendaraan yang cukup banyak.

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Foto Prabowo-Gibran Dipasang di Salib Merah saat Demo di Monas, PMKRI: Simbol Dua Pendosa
