JawaPos Radar

Melestarikan Ritual Adat Seba Badui yang Bersahaja Kaya Makna

Jalan Kaki Bawa Laksa

23/04/2018, 14:03 WIB | Editor: Ilham Safutra
badui, seba badui, ritual seba, suku badui
Ribuan warga Badui berjalan kaki saat mengikuti ritual adat Seba pekan lalu di Banten. (Issak Ramadhan/JawaPos.com)
Share this image

Suku Badui tetap mempertahankan tradisi yang sudah berlangsung beberapa generasi. Salah satunya ritual Seba yang khusus untuk kaum lelaki. Menjaga tradisi dengan pelibatan anak-anak muda Badui.

JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Serang

badui, seba badui, ritual seba, suku badui
Ribuan warga Badui berjalan kaki saat mengikuti ritual adat Seba pekan lalu di Banten. (Issak Ramadhan/JawaPos.com)

---

TAK tergurat keletihan pada wajah Ayah Karmain. Lelaki suku Badui Dalam itu sedang duduk di Gedung Olahraga (GOR) Maulana Yusuf, Serang, Banten, Sabtu (21/4).

Sesekali dia mengipas-ngipaskan tangan untuk mengusir gerah di gedung yang terasa panas itu. Dua kotak berisi nasi dan snack di sampingnya siap untuk santap siang. "Baru sampai jam 10.30 tadi. Setengah jam lalu," kata pria yang tinggal di kampung Cibeo, Badui Dalam.

Dia bersama 46 warga suku Badui Dalam baru saja berjalan kaki dari Pendapa Kabupaten Lebak menuju GOR di alun-alun sebelah timur Serang, Banten, itu. Jaraknya sekitar 33,7 kilometer.

Bila ditempuh jalan kaki tanpa berhenti, perjalanan makan waktu sekitar 7 jam. Di dalam dan luar GOR itu ribuan masyarakat Badui Luar juga sudah tiba. Bedanya, mereka naik kendaraan.

"Berhentinya tidak bisa lama-lama. Karena harus menyesuaikan rangkaian Seba Badui. Beda kalau pergi sendiri," kata pria yang punya nama lahir Sarta itu.

Bersama kelompok tersebut juga ada anak-anak muda yang berumur belasan. Wajah mereka tak memperlihatkan lelah. Tidak ada yang mengeluh capek atau pegal-pegal. Mereka cenderung diam. "Biasa. Tidak capek. Lumayan panas kaki," ujar Haja, 11, yang baru pertama ikut Seba Badui. Dia terlihat malu-malu menjawab pertanyaan Jawa Pos.

Ritual Seba Badui merupakan acara tahunan yang wajib digelar setelah masyarakat yang mendiami kaki Pegunungan Kendeng di Desa Kanekes itu melakukan tradisi Kawalu dan Ngalaksa. Salah satu ritual Kawalu selama tiga bulan itu adalah berpuasa serta berdoa meminta keselamatan bangsa dan negara.

Sedangkan Ngalaksa adalah membuat laksa, sejenis makanan olahan berbentuk seperti mi dari tepung beras. Laksa itu pula yang menjadi salah satu oleh-oleh yang diberikan kepada kepala daerah yang mereka sebut Bapa Gede saat Seba.

Seba yang secara mudah diartikan sebagai silaturahmi atau bertamu sebenarnya bukan hanya bertemu kepala daerah. Tapi, termasuk camat Leuwidamar dan anggota musyawarah pimpinan kecamatan dari unsur TNI dan Polri juga ditemui.

Ketua Pelaksana Seba Badui Ari Kuncoro yang juga menjabat kepala urusan umum Desa Kanekes menuturkan, yang mendatangi camat Leuwidamar memang hanya perwakilan tokoh masyarakat. Mulai Jaro Pamarintah Saija hingga Baris Kolot (tetua adat). "Yang dibawa mulai beras, pisang, gula aren, dan laksa. Kalau durian tidak termasuk karena tidak selalu musim," ujar pria yang berasal dari Gunung Kidul tapi menikah dengan perempuan Badui pada 2008 itu.

Sebagian besar warga Badui yang turut dalam ritual Seba berangkat langsung ke Lebak. Warga Badui Luar memang tidak punya keharusan berjalan kaki menuju kota. Mereka diberangkatkan dengan 80 kendaraan, mulai truk, bus, minibus, pikap, hingga mobil pribadi. Jumlah peserta Seba Badui mencapai 1.388 orang dari 12 ribu total warga Kanekes. Semuanya lelaki. Sebab, perempuan tidak diperkenankan untuk turut dalam ritual adat itu.

"Kami berangkat setelah jumatan supaya tidak mengganggu warga muslim. Untuk saling menghormati," ujar Ari. Pertimbangannya, jumlah kendaraan yang cukup banyak.

Sedangkan warga Badui Dalam yang berjumlah 47 orang memang berangkat Kamis sore untuk bermalam terlebih dahulu di rumah kepala desa. Jumat pagi mereka melanjutkan perjalanan menembus hutan dan kebun menuju Lebak. Merekalah yang membawa laksa. Karena sesuai adat, laksa harus dibawa dengan berjalan kaki. Tidak boleh dinaikkan ke kendaraan. Meski, yang membuat laksa itu adalah orang Badui Luar. "Laksa itu harus dibawa jalan kaki. Amanah leluhurnya begitu," ujar Ayah Karmain.

Jumat malam (20/4) mereka sudah di Pendapa Kabupaten Lebak. Acara itu juga dihadiri mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Setelah dari Lebak, Sabtu malam (21/4) ada Seba di Museum Negeri Banten bersama Gubernur Banten Wahidin Halim yang dihadiri pejabat musyawarah pimpinan daerah. Pagi kemarin (22/4) ada pula Seba dengan Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah.

Ritual utama Seba sebenarnya cukup singkat. Tak sampai sejam. Warga Badui Dalam yang mengenakan baju putih lengan panjang dan lomar (ikat kepala) putih duduk di barisan depan, kecuali Jaro Saija dan Jaro Tanggungan 12 Saidi Putra yang menjadi perwakilan untuk bicara. Ribuan orang Badui Luar duduk di barisan berikutnya. Orang-orang Badui itu duduk berhadap-hadapan dengan Bapa Gede beserta perangkat daerah lainnya.

Ritual Seba dimulai dengan pembukaan yang disampaikan Jaro Tanggungan 12 Saidi Putra. Dia mengucapkan sambutan dalam bahasa Sunda lama. Isinya adalah ucapan rasa syukur atas hasil panen yang baik. Selain itu, disampaikan harapan-harapan agar pemerintah ikut menjaga alam. Selanjutnya, ucapan penerimaan dari kepala daerah yang bisa diucapkan dalam bahasa Indonesia. Serta ungkapan komitmen untuk turut menjaga alam dan menjaga tanah ulayat suku Badui.

Ritual berikutnya adalah penyerahan laksa oleh Jaro Tanggungan 12 kepada kepala daerah. Barang bawaan lain seperti pisang, gula aren, bambu muda, dan beras tidak diserahkan secara simbolis. Sebagai imbal balik, kepala daerah memberikan kadeudeuh (semacam bingkisan) bagi masyarakat Badui.

Acara itu belum sepenuhnya selesai. Jaro Pamarintah atau yang dikenal pula sebagai Kepala Desa Kanekes Saija lantas memberikan sambutan berbahasa Indonesia bercampur Sunda. Sambutan itu diperlukan untuk memperjelas maksud dan tujuan warga Badui melakukan Seba itu. Saat bertemu Gubernur Banten Wahidin Halim itu, dia menyampaikan Desa Kanekes punya tanah di Perda Hak Ulayat Tanah Adat seluas 5.368 hektare. Tiga ribu hektare di antaranya adalah tanah pelindung alam yang harus dijaga dan dilestarikan.

"Gunung tidak boleh dilebur, Lebak tidak boleh dirusak, sesaka (pusaka) tak boleh diubah," kata Jaro Saija. Bila tiga hal itu dilanggar, dikhawatirkan bisa memicu terjadi bencana alam seperti tanah longsor, gempa bumi, topan, dan tsunami. Masyarakat Badui juga sudah melakukan upacara ritual di Gunung Sanghiyang Siaran di Ujung Kulon, Gunung Honje, Gunung Kembang, Gunung Madur, Gunung Gang Panjang, dan Gunung Wongkok. Sedangkan untuk merawat sesaka, mereka sudah memeriksa kondisi pusaka yang tersimpan tak jauh dari Masjid Lama Banten. Itu juga bagian dari ritual Seba.

"Kami ada peringatan dari leluhur dan karuhun pada 2018 itu kekhawatiran ada tsunami di selatan. Keduanya di Anyer. Kami mudah-mudahan, berdoa, supaya jangan sampai terjadi," kata dia. Selama sambutan itu, seluruh warga Badui terlihat duduk diam menyimak. Hampir tak ada kata-kata atau obrolan meski ada yang duduk di bagian belakang.

Wahidin Halim memberikan apresiasinya terhadap ritual Seba Badui sebagai bentuk kearifan lokal yang harus dilestarikan. Dia berjanji tidak akan mengubah kawasan tempat tinggal warga Badui. "Cara Bapak dalam hidup, membangun ekonomi, beradat istiadat, dan mempertahankan tradisi itu suatu yang sangat dihargai oleh pemerintah," ungkap dia. Ritual itu diakhiri dengan doa dan penyerahan gunungan wayang. Malam itu ada hiburan wayang golek semalam suntuk.

Siang harinya, warga Badui yang disambut kedatangannya juga sudah diberi hiburan di Alun-Alun Serang. Mereka disuguhi penampilan dari daerah lain di Banten, mulai Cisadane, Banten Lama, Anyer-Carita, Tanjung Lesung, Sawarna, hingga Taman Nasional Ujung Kulon.

Menjelang petang, orang Badui yang baru pertama mengikuti Seba harus mandi di Sungai Cibanten di belakang Museum Negeri Banten. Minimal mereka harus meneteskan air sungai itu ke pelupuk mata dan membasuh kaki. Anak-anak muda berusia belasan tahun, termasuk Haja, juga mengikuti ritual tersebut. Sungai di selatan museum itu dipisahkan tembok berpintu kecil yang khusus untuk mengakses sungai tersebut.

Ayah Karmain mengungkapkan, selama Seba itu, orang Badui Dalam tetap harus mengikuti aturan-aturan tradisi. Misalnya, tidak boleh naik kendaraan. Menggunakan toilet yang disediakan di sekitar GOR pun dihindari. Selain itu, yang paling penting untuk menjaga tradisi adalah pelibatan anak-anak muda Badui dalam Seba. "Kami utamakan walaupun antara kuat dan tidak kuat. Cuma kami utamakan itu untuk generasi nanti secara ritual Seba itu ada kelangsungan dijaga," ujar Ayah Karmain. 

(*/c10/oki)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up