
Rombongan Bonek melintasi Jalan Raya Ngawi-Caruban untuk mendukung Persebaya pada babak 8 besar Piala Presiden 2018 lalu.
JawaPos.com – Micko Pratama menjadi korban kesekian dari para Bonek yang harus meregang nyawa saat memberkan dukungan bagi Persebaya di kandang lawan. Micko menjadi korban ketika melakukan perjalanan pulang ke Surabaya dengan metode estafet.
Padahal, metode estafet ini dinilai membuka peluang untuk terjadinya aksi pengeroyokan dari pihak lain yang tidak suka dengan Bonek. Pasalnya, Bonek akan banyak terbagi dalam kelompok kecil yang rentan terhadap serangan pihak lain. Karena itu, saat ini seluruh pecinta Persebaya Surabaya tengah menyerukan agar seluruh suporter kembali ke khitah, yakni 'tret tet tet'.
Estafet adalah salah satu metode yang biasa dilakukan sebagian Bonek untuk berangkat ke stadion guna mendukung Persebaya yang melakoni laga away. Mereka menumpang kendaraan angkutan nonpenumpang, seperti truk atau mobil bak terbuka, dari satu lokasi ke lokasi berikutnya hingga sampai di stadion.
Masalahnya, metode estafet ini sudah banyak menelan korban jiwa maupun korban luka. Agar tak ada lagi korban, seluruh Bonek diserukan untuk menghentikan aksi estafet dan kembali ke tret tet tet. Yakni melakukan keberangkatan bersama-sama menggunakan kendaraan umum menuju kota tujuan, dilakukan secara terorganisir dan satu koordinator.
“Kultur awal Bonek justru sebenarnya tret tet tet yang diprakarsai oleh Jawa Pos pada 1980-1990-an. Ini membuat Bonek layak disebut sebagai the first and the biggest travelling supporters di Indonesia,” jelas penulis buku "Imagine Persebaya", Oryza A. Wirawan.
Kemunculan estafet memang tidak jelas asal muasalnya, atau siapa yang memulainya. Menurut Oryza, ada pelbagai kemungkinan yang menyebabkan munculnya metode estafet untuk mendukung Persebaya.
“Pertama, basis Bonek yang cair dan tanpa pemimpin membuat individu-individu pelaku estafet muncul dari banyak titik di Jawa Timur. Mereka berangkat dari rumah atau kampung masing-masing dalam jumlah kecil dan bertemu di jalanan, membuat kelompok besar yang bisa mencapai puluhan atau ratusan,” jelasnya.
“Kedua, adanya mitos heroisme Bonek estafet. Mitos ini beranak-pinak dan menjadi bagian dari kultur Bonek. Walau sebenarnya (kultur itu) tidak dikenal,” imbuhnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
