Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 19 April 2018 | 21.29 WIB

Stop Cara Estafet, Bonek Seharusnya Kembali ke 'Tret Tet Tet'

Rombongan Bonek melintasi Jalan Raya Ngawi-Caruban untuk mendukung Persebaya pada babak 8 besar Piala Presiden 2018 lalu. - Image

Rombongan Bonek melintasi Jalan Raya Ngawi-Caruban untuk mendukung Persebaya pada babak 8 besar Piala Presiden 2018 lalu.

JawaPos.com – Micko Pratama menjadi korban kesekian dari para Bonek yang harus meregang nyawa saat memberkan dukungan bagi Persebaya di kandang lawan. Micko menjadi korban ketika melakukan perjalanan pulang ke Surabaya dengan metode estafet.


Padahal, metode estafet ini dinilai membuka peluang untuk terjadinya aksi pengeroyokan dari pihak lain yang tidak suka dengan Bonek. Pasalnya, Bonek akan banyak terbagi dalam kelompok kecil yang rentan terhadap serangan pihak lain. Karena itu, saat ini seluruh pecinta Persebaya Surabaya tengah menyerukan agar seluruh suporter kembali ke khitah, yakni 'tret tet tet'.


Estafet adalah salah satu metode yang biasa dilakukan sebagian Bonek untuk berangkat ke stadion guna mendukung Persebaya yang melakoni laga away. Mereka menumpang kendaraan angkutan nonpenumpang, seperti truk atau mobil bak terbuka, dari satu lokasi ke lokasi berikutnya hingga sampai di stadion.


Masalahnya, metode estafet ini sudah banyak menelan korban jiwa maupun korban luka. Agar tak ada lagi korban, seluruh Bonek diserukan untuk menghentikan aksi estafet dan kembali ke tret tet tet. Yakni melakukan keberangkatan bersama-sama menggunakan kendaraan umum menuju kota tujuan, dilakukan secara terorganisir dan satu koordinator.


“Kultur awal Bonek justru sebenarnya tret tet tet yang diprakarsai oleh Jawa Pos pada 1980-1990-an. Ini membuat Bonek layak disebut sebagai the first and the biggest travelling supporters di Indonesia,” jelas penulis buku "Imagine Persebaya", Oryza A. Wirawan.


Kemunculan estafet memang tidak jelas asal muasalnya, atau siapa yang memulainya. Menurut Oryza, ada pelbagai kemungkinan yang menyebabkan munculnya metode estafet untuk mendukung Persebaya.


“Pertama, basis Bonek yang cair dan tanpa pemimpin membuat individu-individu pelaku estafet muncul dari banyak titik di Jawa Timur. Mereka berangkat dari rumah atau kampung masing-masing dalam jumlah kecil dan bertemu di jalanan, membuat kelompok besar yang bisa mencapai puluhan atau ratusan,” jelasnya.


“Kedua, adanya mitos heroisme Bonek estafet. Mitos ini beranak-pinak dan menjadi bagian dari kultur Bonek. Walau sebenarnya (kultur itu) tidak dikenal,” imbuhnya.

Editor: Agus Dwi W
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore