
Menristekdikti Muhammad Natsir
JawaPos.com - Jumlah publikasi ilmiah di Indonesia meningkat drastis. Publikasi ilmiah Indonesia mencapai peringkat ke-2 di ASEAN. Sayangnya, peningkatan tersebut tidak dibarengi dengan jumlah sitasinya atau kutipan yang justru menurun.
"Ini pencapaian yang sangat bagus bagi Indonesia. Namun permasalahannya jumlah publikasinya meningkat drastis, tapi sitasinya menurun," ujat Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir di Jakarta, Rabu (11/4).
Menurut dia, seharusnya kuantitas publikasi ilmiah internasional Indonesia harus berbanding lurus dengan kualitasnya. "Kualitas dari jurnal-jurnal yang ada di Indonesia harus didorong terus agar makin baik," tambah Nasir.
Sebab, Nasir menekankan, publikasi dapat menjadi tolok ukur keberhasilan sebuah riset. Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari riset maupun pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kebijakan Kemenristekdikti untuk mendongkrak publikasi ilmiah Indonesia tertuang di Permenristekdikti Nomor 20 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjungan Profesi Dosen dan Tunjangan Kehormatan Profesor. Serta, Permenristekdikti Nomor 44 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi yang mewajibkan para lulusan S2 dan S3 untuk berpublikasi.
Kemenristekdikti pada 2017 juga meluncurkan Science and Technology Index (SINTA), pengindeks publikasi dan sitasi jurnal ilmiah untuk mendorong kultur publikasi bagi dosen dan peneliti di Indonesia.
Setelah melampaui Thailand sampai akhir 2017 dengan jumlah publikasi ilmiah internasional Indonesia mencapai angka 18.500, kini per 6 April 2018, Indonesia berhasil menggeser Singapura, menempati urutan ke-2 di ASEAN setelah Malaysia.
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, jumlah publikasi ilmiah Indonesia terindeks Scopus per Januari - 6 April 2018 berhasil melampaui Singapura dan Thailand. Adapun jumlah publikasi ilmiah internasional Indonesia selama 2018 ini, yakni sebanyak 5.125, Singapura dan Thailand sebanyak 4.948 dan 3.741. Sementara Malaysia sebanyak 5.999.
"Saya ingatkan para akademisi dan peneliti untuk tidak hanya mengejar kuantitas namun juga diharapkan dapat menjaga kualitas publikasi ilmiahnya," ujar Nasir.
"Tentu publikasi bukan merupakan satu-satunya ukuran riset, tetapi kemanfaatan kepada masyarakat lah yang menjadi acuan utamanya," pungkasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
