Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 11 April 2018 | 18.26 WIB

Ada Politik Soto Solo di Balik Pertemuan Cak Imin dan Hasto

Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto usai menggelar pertemuan tertutup dengan Ketum PKB Muhaimin Iskandar di kantor DPP PKB, Cikini, Jakarta Pusat. - Image

Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto usai menggelar pertemuan tertutup dengan Ketum PKB Muhaimin Iskandar di kantor DPP PKB, Cikini, Jakarta Pusat.

JawaPos.com - Ada yang menarik di balik pertemuan antara Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar di kantor DPP PKB, Cikini, Jakarta Selatan, Selasa (10/4). Yakni keterlibatan soto solo.


Kehadiran kuliner asli Jawa Tengah itu sengaja dibawa oleh Hasto untuk disantap bersama Cak Imin dengan seluruh jajaran pengurus dan staf PKB. Hal itu biasa dikenal dengan istilah politik kuliner.


“Soto Segar Solo itu sangat merakyat, senapas dengan substansi kunjungan Cak Imin ke makam Pak Marhaen. Soto ayam tersebut juga digemari Bu Mega dan Pak Jokowi. Jadi dari lidah dan perut saja, kita semua berselera yang sama,” ujar Hasto.


Menurut Hasto, dia sengaja membawa soto solo untuk menunjukkan kecintaan pada kuliner Nusantara. Selain itu, dengan santap bersama diharapkan hubungan PDIP dan PKB yang berjalan baik sejak lama dapat terus terjaga.


“Sekaligus memperkuat ikatan emosional antara kedua partai yang disatukan oleh komitmen sebagai partai pengusung Pak Jokowi, maka sengaja PDIP membawa Soto Segar Solo,” ucap Hasto.


Lebih lanjut, Hasto mengatakan, soto solo yang dibawa ke kantor PKB itu asli berasal dari kampung halaman Joko Widodo. Soto tersebut disantap bersama sehingga pembahasan terkait politik jadi lebih rileks.


“Ini bukan hanya diplomasi kuliner dengan membawa ciri khas makanan tempat Pak Jokowi berasal, namun lebih jauh menjadi simbol bahwa melalui makan bersama, maka berbagai persoalan bangsa dapat dibahas dengan lebih rileks dan perspektifnya lebih luas, dengan suasana kekeluargaan,” tambah Hasto.


Menanggapi hal itu, pengamat politik dari Indonesia Political Review, Ujang Komarudin menilai, PDIP sangat kreatif dalam memainkan politik kuliner. Sebab, cara tersebut sangat tepat mendinginkan suhu politik saat memanas.


“Itu langkah yang baik untuk mencairkan suasana politik. Budaya membawakan kuliner kepada orang yang akan didatangi adalah budaya asli Indonesia yang harus tetap dilestarikan,” ujar Ujang.


Karena, lanjut Ujang, sesuai tradisi di Indonesia, sejak dahulu sudah dikenal pembahasan di atas meja makan karena biasanya urusan-urusan politik yang berat bisa diselesaikan dengan cepat hanya di meja makan.


"Tentunya dengan makanan kuliner yang menggoda selera. Dan ini sangat Indonesia sekali,” sambung dia.


Diketahui, dalam pertemuan itu, dibahas sejumlah hal terkait politik, baik pilpres maupun pilkada. Pengurus PDIP berkunjung untuk menegaskan hubungan nasionalis Islam antara PDIP dengan PKB.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore