
TIDAK PERNAH HILANG: Mawan menunjukkan kartu keluarganya yang masih tersimpan di rumah.
JawaPos.com - Mawan Sidarta terheran-heran saat ditemui Jawa Pos, Senin (9/4). Lelaki 48 tahun itu baru tahu nomor induk kependudukan (NIK) miliknya digunakan untuk registrasi 1,6 juta nomor ponsel.
’’Kok bisa? Dari mana Anda tahu? Bagaimana melihatnya?’’ tanya Mawan saat ditemui di rumahnya di Driyorejo, Gresik, Jawa Timur.
Dia menyatakan tidak pernah mendengar kabar adanya penyalahgunaan NIK untuk registrasi nomor ponsel. Meski tahu NIK-nya disalahgunakan sekian banyak orang, dia tenang-tenang saja.
Pria yang sehari-hari berdagang air galon isi ulang dan elpiji itu mengungkapkan, dirinya tidak merasa pernah mendaftarkan NIK-nya untuk banyak nomor HP. Tidak juga berjualan ponsel atau kartu perdana. ”Hanya jualan pulsa listrik,” ujarnya.
Pernahkah mengalami kejadian aneh saat menggunakan ponsel? Mawan bercerita. Pada Februari lalu, sempat ada masalah dengan nomor ponselnya. Tepat tanggal 5. Dia mendapat pesan dari Kemenkominfo. Isinya soal registrasi nomor ponsel.
Namun, setelah dibalas sesuai dengan petunjuk operator, registrasi justru gagal. Hari itu juga Mawan bersama istri mendatangi kantor salah satu operator di Jalan Kayoon, Surabaya. Mereka mengajukan komplain. Sebab, registrasi sudah dilakukan sesuai dengan petunjuk operator. ”Tapi masih gagal.”
Nomor ponsel Mawan lantas berhasil diregistrasikan oleh pegawai operator tersebut. Setelah sepekan berlalu, nomor itu tiba-tiba terblokir. Padahal, Mawan sudah menggunakannya selama 10 tahun. Ayah satu anak itu pun kesal. Capek bolak-balik Gresik-Surabaya hanya untuk komplain nomor ponsel.
Akhirnya, dia memutuskan untuk kembali mendatangi kantor salah satu operator di Jalan Kayoon, Surabaya. Ternyata, nomor ponselnya memang terblokir. Entah apa penyebabnya. Tidak diketahui.
”Tidak bisa langsung aktif lagi. Katanya disuruh menunggu 1 x 24 jam,’’ ujarnya.
Setelah menunggu 1 x 24 jam, nomornya masih terblokir. Tidak aktif juga. Mawan jengkel. Dia enggan kembali lagi ke Surabaya. Lelaki yang hobi nge-blog itu memilih membeli kartu baru. ”Jadi, sekarang saya punya dua nomor,” katanya.
Pernah kehilangan surat-surat kependudukan? Mawan menegaskan tidak pernah kehilangan kartu keluarga (KK) maupun kartu tanda penduduk (KTP). Karena itu, dia sangat heran. Bagaimana bisa NIK-nya dipakai untuk jutaan nomor ponsel.
Dia memastikan tidak pernah menjual kartu perdana atau meminjamkan NIK dan KTP-nya untuk mendaftarkan nomor ponsel orang lain. Termasuk nomor istri dan anaknya yang masih SMP.
Hamzah, tetangga Mawan, mengaku tidak pernah melihat toko Mawan menjual kartu nomor perdana. Kartu kuota internet pun tidak. Dia hanya berdagang air galon isi ulang dan tabung elpiji. ”Sama pulsa listrik saja,” ucapnya.
Di toko miliknya juga tidak ada meja etalase yang biasa dipakai untuk berjualan kartu perdana. Hanya ada tumpukan galon dan tabung elpiji 3 kilogram. Juga dispenser untuk isi ulang galon.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
