
Debat terbuka pertama pemilihan wali kota (Walkot) dan dan calon wakil wali kota (Cawawalkot) Makassar 2018 di Hotel Grand Clarion, Jumat (16/3) malam berlangsung panas.
JawaPos.com - Debat terbuka tahap pertama pemilihan wali kota (Pilwalkot) dan dan calon wakil wali kota (Cawawalkot) Makassar 2018 di Hotel Grand Clarion, Jumat (16/3) malam berlangsung panas. Sejak awal berlangsungnya debat, masing-masing pendukung pasangan calon (Paslon) saling melemparkan yel-yel.
Bahkan, Iqbal Sultan, akademisi dari Universitas Hasanuddin (Unhas) yang bertindak selaku moderator kewalahan menenangkan masing-masing tim pendukung.
Dari 5 pertanyaan mendasar yang dilontarakan untuk masing-masing paslon, masalah reklamasi menjadi topik yang memancing kedua tim pendukung paslon ini menambah ketegangan.
Iqbal mempertanyakan, apa tanggapan kedua paslon terkait persoalan reklamasi pantai Losari Makassar. Mulai dari dampak baik dan buruk apabila reklamasi terus dilakukan. Menanggapi pertanyaan tersebut, Iqbal memberikan kesempatan menjawab kepada paslon nomor urut 1, Munafri Arifuddin-Rachmatika Dewi.
"Reklamasi tidak boleh dilakukan. InsyaAllah kalau kami dipercayakan rakyat untuk menjadi wali kota, reklamasi sudah tidak ada lagi. Terakhir rekalamasi pantai Losari selanjutnya tidak ada lagi," kata Munafri dalam debat.
Menanggapi hal itu, paslon nomor urut 2 yang tak lain adalah pasangan petahana Mohammad Ramdhan Pomanto-Indira Mulyasari justru membenturkan persoalan reklamasi pantai dengan peraturan perundang-udangan khsusnya peraturan Kementerian Kelautan dan Perikananan (KKP).
"Ingat rekalamasi itu diatur di dalam undang-undang. Bahwa reklamasi masuk dalam kategori kawasan kota yang layak huni. Mana ada Wali Kota yang melarang adanya reklamasi? Kalau ada Wali Kota yang melarang atau menolak reklamasi, maka sama halnya dengan menolak undang-undang," sanggah pria yang akrab disapa Danny ini.
Menyanggah kembali pernyataan itu, Munafri menuturkan muncul masalah baru jika kegiatan reklamasi terus berlanjut, beberapa diantaranya disebutkan, adalah kemiskinan karena kurangnya lapangan kerja akibat penghidupan laut nelayan yang tinggal di wilayah pesisir hingga munculnya tindakan kriminalitas jalanan.
“Tidak boleh ada lagi kegiatan reklamasi. Intinya adalah bagaimana memikirkan dampak yang bisa menimbulkan kesengsaraan bagi warga pesisir," tandasnya diselingi terikan-teriakan dari tim pendukungnya.
"Tidak ada satu pun Wali Kota di dunia ini yang berani melawan undang-undang. Apabila terpilih sebagai Wali Kota, kenapa Wali Kota melawan dan bertentangan dengan prinsip perundang-undangan," ucap Danny menimpali lagi.
Hingga di penghujung debat, ratusan pendukung dari masing-masing pasangan calon saling memancing keributan. Saat paslon nomor urut 2 diberikan kesempatan menajamkan visi misinya dari pertanyaan yang diadukan moderator yang menyela justru massa rivalnya.
Massa paslon nomor urut 1, berteriak yang terlihat mengganggu konsentrasi pasangan calon nomor 2 saat memberikan jawaban.
Dipandu moderator Iqbal Sultan yang cukup piawai menguasai psikologis massa pendukung dengan larangan dan teguran dengan berbahasa Makassar, akhirnya debat terbuka pertama pemilihan walikota dan wakil walikota Makassar yang berlangsung kurang lebih dua jam itu berakhir dengan tertib.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
