Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 26 Februari 2018 | 03.36 WIB

Jadi Warga Muhammadiyah, Bamsoet Takut Punya Presiden Modelnya Begini

Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) Saat meresmikan Grha Suara Muhammadiyah di Jogja. - Image

Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) Saat meresmikan Grha Suara Muhammadiyah di Jogja.

JawaPos.com - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Bambang Soesatyo resmi diangkat menjadi warga Muhammadiyah. Alasannya, visi dan pemikiran politikus partai Golkar yang akrab disapa Bamsoet itu dinilai sejalan dengan organisasi yang saat ini dipimpin oleh Haedar Nashir.


Penetapan Bamsoet sebagai warga Muhammadiyah itu digelar secara spontan pada acara peresmian Grha Suara Muhammadiyah di Yogyakarta, Minggu (25/2). 


Hadir pula sejumlah tokoh dan elite organisasi yang didirikan tahun 1912 itu, mulai dari Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Buya Ahmad Syafii Maarif, Menkominfo Rudiantara, Mendikbud Muhadjir Effendy, anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI Mukhamad Misbakhun, anggota Fraksi Nasdem DPR RI Ahmad Syahroni.


Selian itu, hadir juga Ketua Umum PP Aisyah, Nurjanah, Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta Brigjen Pol Ahmad Dofiri, serta mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas. 


Dalam pidato sambutannya, Bamsoet mengaku sangat bangga telah menjadi bagian dari keluarga besar Muhammadiyah. "Walaupun hari ini saya baru disematkan baju batik resmi Muhammadiyah," ucap Bamsoet dalam keterangan tertulisnya.


Selain itu, Bamsoet menjelaskan, dirinya menyampaikan kegalauannya mengenai perkembangan praktik demokrasi yang belakangan ini makin tak menggembirakan. Diantaranya, ihwal pemilihan kepala daerah yang yang sangat transaksional. 


“Saya meminta secara khusus agar Muhammadiyah mengkaji kembali sistem pemilihan langsung dalam demokrasi kita, terutama dalam pilbup, pilwalkot dan pilgub. Apa lebih banyak mudaratnya atau manfaatnya," ungkapnya


Lebih lanjut, Bamsoet menambahkan, jika demokrasi transaksional yang brutal terus dibiarkan berlangsung, maka bukan tidak mungkin suatu saat Indonesia akan dikuasai oleh para pemodal baik langsung maupun tidak langsung.


"Bisa jadi, 10-20 tahun ke depan, kita tidak mungkin lagi punya presiden yang di belakang namanya berakhiran ‘O’. Seperti Soekarno, Soeharto, Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo. Karena peran para pemodal semakin mendominasi,” ujarnya


Disisi lain, mantan Presidium KAHMI periode 2012-2017 ini mengatakan, dirinya mengharapkan peresmian gedung Grha Suara Muhammadiyah ini menjadi motor untuk memajukan Suara Muhammadiyah sebagai media kebanggaan Muhammadiyah.


“Apalagi, saat ini tantangan bisnis media di era digital makin berat. Bahkan tidak sedikit media konvensional yang gulung tikar akibat tidak bisa menyesuaikan perubahan zaman. Saya angkat topi karena Suara Muhammadiyah yang sudah berusia 103 tahun bisa tetap survive dan menjadi media terlama yang masih terbit serta eksis," ungkapnya.


Menurut pandangan Bamsoet, kekuatan Suara Muhammadiyah terletak pada kreativitas dan inovasi anak-anak muda yang menggawanginya. Sehingga, diharapkannya media ini dapat menjadi benteng anak muda dari pengaruh paham radikalisme serta aliran pemikiran ekstrim lainnya.


Karena itu, Bamsoet menuturkan, dirinya berpesan agar Suara Muhammadiyah tidak berhenti berikhtiar dan melakukan terobosan. Terlebih, Suara Muhammadiyah pada Hari Pers Nasional 2018 menerima penghargaan sebagai Media Dakwah Perjuangan Kemerdekaan RI dalam Bahasa Indonesia. 


"Saya yakin Suara Muhammadiyah tetap akan menjadi media dakwah dan pendidikan yang mencerdaskan kehidupan umat dan bangsa. Media perjuangan yang kokoh menyuarakan modernisasi pemikiran Islam serta membela kebenaran dan keadilan," tukasnya.


Editor: Dimas Ryandi
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore