
Kiri ke kanan : Danramil Pesanggaran Kapten Artileri Sutoyo, Mistaji ( ayah suliono), Kapolsek Pesanggaran AKP Hery Purnomo, Camat Pesanggaran, Hardiono.
JawaPos.com -- Aksi Suliono, melakukan penyerangan jemaat Gereja St Lidwina, Sleman, Yogyakarta, Minggu (11/2) sempat membuat orang tua Susiah, 54 dan Mistaji, 57, alias Gajun yang tinggal di RT 2 RW 1 Dusun Krajan, Desa Kandangan Kecamatan Pesanggaran, cemas dan tak percaya bahwa anaknya telah melakukan itu semua.
Terlebih, begitu mengetahui jika saat itu kondisinya anak ketiga dari empat bersaudara itu terluka parah, karena terkena tembakan petugas polisi. Mistaji, sang ayah, sempat histeris. Mistaji mengaku kaget dengan apa yang dialami anaknya tersebut. “ Saya tahu dari tetangga,” kata lelaki yang sehari harinya sebagai buruh tani itu.
Didampingi Kapolsek Pesanggaran, AKP Hery Purnomo, Danramil Pesanggaran Kapten Arm Sutoyo dan Camat Hardiono, pria tersebut menceritakan jika anaknya selama di rumah merupakan anak baik-baik dan pendiam.
Setelah menyelesaikan pendidikan di SMP 1 Pesanggaran, Suliono sempat melanjutkan ke Pondok Pesantren Ibnu Sina, Jalen, Desa Setail Kecamatan Genteng asuhan KH. Maskur Ali. Namun karena tidak krasan, dia pindah ke tempat kakaknya di Sulawesi. Tepatnya di Desa Lantula Jaya, kecamatan Witaponda, Kabupaten Morowali.
Di tempat barunya, Suliono ternyata tidak merasa kerasan. Menurut keterangan orang tuanya, perubahan ekstrim pada diri anaknya justru terjadi di Sulawesi itu. Di rumah kakaknya yang masyarakatnya merupakan basis Nahdlatul Ulama (NU) ini, justru anaknya merasa tidak cocok dan sering berdebat dengan kakaknya.
Dia kemudian meninggalkan tempat kakaknya dan pindah ke Palu. “Pengaruh eskstrim seperti itu ya bisa jadi di Palu, Sulawesi itu,” ucapnya.
Mistaji menegaskan, perubahan yang dialami anaknya hanya pada perihal peribadatan yang lebih ekstrem. Suliono juga tidak pernah membahas masalah lain seperti bendera atau kenegaraan.
Meski demikian, Mistaji mengaku sudah berupaya menyadarkan anaknya tersebut, namun keluarga tidak mampu mengajak dia untuk kembali seperti sebelumnya. “Saat pulang dari Sulawesi, saya berusaha untuk menyadarkannya, tapi tetap saja tidak berubah,” jelasnya.
Terakhir Mistaji mengetahui Suliono menuntut ilmu di salah satu pesantren yang berada di Magelang. Di tempat tersebut, lembaga pendidikan tersedia lengkap. Namun, terkait nama dan lokasi pasti lembaga itu, Mistaji mengaku tidak paham secara jelas. “ Dia katanya di Magelang, di sana ada SMK nya ada pondoknya,” ucapnya.(sli/radar Banyuwangi).

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
