Senin, 21 May 2018
Logo JawaPos.com
JPG Today

Ini Latar Belakang Pelaku Penyerangan di Gereja St Lidwina

| editor : 

Kiri ke kanan : Danramil Pesanggaran Kapten Artileri Sutoyo, Mistaji ( ayah suliono), Kapolsek Pesanggaran AKP Hery Purnomo, Camat Pesanggaran, Hardiono.

Kiri ke kanan : Danramil Pesanggaran Kapten Artileri Sutoyo, Mistaji ( ayah suliono), Kapolsek Pesanggaran AKP Hery Purnomo, Camat Pesanggaran, Hardiono. (Shulhan Hadi/jawapos Radar Banyuwangi)

JawaPos.com --  Aksi Suliono,  melakukan penyerangan jemaat Gereja St Lidwina, Sleman, Yogyakarta, Minggu (11/2) sempat  membuat orang tua  Susiah, 54 dan Mistaji, 57, alias  Gajun yang tinggal di RT 2 RW 1 Dusun Krajan, Desa Kandangan Kecamatan Pesanggaran,  cemas dan tak percaya bahwa anaknya telah melakukan itu semua.

Terlebih, begitu  mengetahui jika saat itu kondisinya anak ketiga dari empat  bersaudara itu  terluka parah, karena terkena tembakan petugas polisi. Mistaji, sang ayah, sempat histeris. Mistaji mengaku kaget dengan apa yang dialami anaknya tersebut. “ Saya tahu dari tetangga,” kata lelaki yang sehari harinya sebagai buruh tani itu.

Didampingi Kapolsek Pesanggaran, AKP Hery  Purnomo, Danramil Pesanggaran Kapten Arm Sutoyo dan Camat Hardiono, pria tersebut menceritakan jika anaknya selama di rumah  merupakan anak baik-baik dan pendiam. 

 Setelah menyelesaikan pendidikan di SMP 1 Pesanggaran, Suliono sempat melanjutkan ke Pondok Pesantren Ibnu Sina,  Jalen, Desa Setail Kecamatan Genteng asuhan KH. Maskur Ali.  Namun karena tidak krasan, dia pindah ke tempat kakaknya di Sulawesi. Tepatnya di Desa Lantula Jaya, kecamatan Witaponda,  Kabupaten Morowali.

 Di tempat barunya, Suliono ternyata tidak merasa kerasan. Menurut keterangan orang tuanya, perubahan ekstrim pada diri anaknya justru terjadi di Sulawesi itu. Di rumah kakaknya yang masyarakatnya merupakan basis Nahdlatul Ulama (NU) ini, justru anaknya merasa tidak cocok dan sering berdebat dengan kakaknya.

 Dia kemudian meninggalkan tempat kakaknya dan pindah ke Palu. “Pengaruh eskstrim seperti itu ya bisa jadi di Palu, Sulawesi itu,” ucapnya.

 Mistaji menegaskan, perubahan yang dialami anaknya hanya pada perihal peribadatan yang lebih ekstrem. Suliono juga tidak pernah  membahas masalah lain seperti bendera atau kenegaraan.

 Meski demikian, Mistaji mengaku sudah  berupaya  menyadarkan anaknya tersebut, namun keluarga tidak mampu mengajak dia untuk kembali seperti sebelumnya. “Saat pulang dari Sulawesi,  saya berusaha untuk menyadarkannya, tapi tetap saja tidak berubah,” jelasnya.

 Terakhir Mistaji mengetahui Suliono menuntut ilmu di salah satu pesantren yang berada di Magelang. Di tempat tersebut, lembaga pendidikan tersedia lengkap.  Namun, terkait nama dan lokasi pasti lembaga itu, Mistaji mengaku tidak paham secara jelas. “ Dia katanya  di Magelang, di sana ada SMK nya ada pondoknya,” ucapnya.(sli/radar Banyuwangi).

(mik/JPC)

Alur Cerita Berita

Sponsored Content

loading...
 TOP