
Grafis proyek Migas POD Baru 2018.
JawaPos.com – Realisasi investasi hulu minyak dan gas tahun ini diperkirakan meleset dari target USD 12 miliar. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memperkirakan realisasi investasi hulu migas hanya mencapai USD 10,5–11 miliar.
Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabawa Taher menyatakan, dalam dua tahun terakhir, investasi hulu migas di Indonesia turun karena rendahnya harga minyak dunia.
”Penurunan ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi secara global,” ujarnya kemarin. Membaiknya harga minyak dunia diharapkan bisa menggairahkan investasi hulu migas tahun depan. Hingga akhir November, realisasi investasi hulu migas baru mencapai USD 8–9 miliar.
SKK Migas mencatat hasil produksi beberapa blok eksplorasi yang masih di bawah target. Investasi hulu migas yang terus turun juga berdampak terhadap melesetnya target lifting atau produksi siap jual migas tahun ini. SKK Migas memperkirakan realisasi lifting minyak tahun ini hanya mencapai 99 persen dari target dalam APBNP 2017. Yakni, 815 ribu barel per hari.
”Beberapa lapangan mengalami laju penurunan produksi lebih besar daripada yang kami harapkan, yakni 10–15 persen. Tetapi, ternyata, laju penurunan produksinya bisa berada di atas itu. Yakni, mencapai 20–25 persen,” terangnya. Sementara itu, tahun depan SKK Migas memperkirakan investasi hulu migas mencapai USD 12 miliar.
Angka tersebut masih mengikuti asumsi harga minyak dunia sebesar USD 48 per barel. Itu sesuai dengan postur RAPBN 2018. ”Mayoritas investasi berasal dari produksi. Sebab, kita harus menjaga produksi karena lapangan yang ada saat ini terus menua,” jelas Wisnu. Beberapa proyek migas yang onstream pada 2018 diharapkan mampu berkontribusi positif terhadap lifting minyak dan gas.
Di antaranya, Lapangan Parit wilayah kerja Kisaran, Lapangan Tutung (WK Bontang), Lapangan Kedung Keris (WK Cepu), Lapangan Papa (WK ONWJ), dan Lapangan Blok A (WK A). Bukan hanya itu, beberapa lapangan juga memasuki produksi puncak tahun depan untuk menunjang target lifting migas pada 2018.
Lapangan yang memasuki masa produksi puncak pada tahun depan, antara lain, Lapangan BD (WK Madura Strait) dengan kontribusi produksi 5.800 barel minyak per hari dan gas 100 mmscfd.
Ada pula Lapangan Bukit Tua (WK Ketapang) dengan produksi 6.500 barel minyak per hari dan gas 8 mmscfd. Lapangan Bambu Besar (WK Pertamina EP) akan memproduksi 2.200 barel minyak per hari. Terakhir, Lapangan Jangkrik dan NE Jangkrik bakal menghasilkan produksi 400 barel minyak per hari dan gas 430 mmscfd.
Tahun depan target lifting minyak mencapai 800 ribu barel minyak per hari. Sementara itu, target lifting gas tahun depan sesuai APBN 2018 mencapai 6.720 mmscfd. Angka tersebut memang lebih rendah daripada target dalam APBNP 2017 dengan lifting 815 ribu barel minyak per hari dan lifting gas mencapai 6.440 mmscfd. (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
