Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 9 Desember 2017 | 00.45 WIB

Menunggu Bus di Halte Transjakarta, Salat pun Tak Ketinggalan

Penumpang salat berjamaah di Halte Karet Transjakarta - Image

Penumpang salat berjamaah di Halte Karet Transjakarta

Petang itu Kota Jakarta begitu sesak. Kendaraan di jalanan padat merayap. Para karyawan di perkantoran sudah mulai meninggalkan tempat kerjanya. Ada yang memilih menggunakan kendaraan pribadi, angkutan online, dan ada juga memanfaatkan transportasi masal, seperti Transjakarta.


Yesika Dinta--Jakarta


Sore menjelang malam begitu riuh. Sejumlah penumpang di halte Karet Transjakarta yang berada di Jalan Sudirman, Jakarta Selatan itu begitu sesak. Ada yang menanti kedatangan bus kesayangan, namun ada juga memilih berdiri ke sebelah luar halte. Ternyata di sana mereka mengantre menunggu giliran wudu.


Tempat wudu itu cukup luas, letaknya di luar bagian halte Karet. Terlihat seperti bangunan tambahan menutup trotoar. Di sana dilengkapi dengan enam buah kran air untuk mengambil air wudu bagi penumpang laki-laki dan perempuan.


Tempat suci itu hanya disekat dengan tembok berwarna biru. Bagian laki-laki, dibuat terbuka hingga pemandangan jalan raya terlihat jelas. Sementara, bagian perempuan tertutup rapat.


Di dalam halte terdapat musala. Di sudut itu terdapat delapan orang yang sedang salat maghrib berjamaah. Imam yang berdiri melantunkan ayat suci lantang sebagai bacaan salat.


"Saya baru saja selesai. Alhamdulillah salat Magrib tak ketinggalan walau sedang di jalan," ujar Putri, salah seorang penumpang bus Transjakarta yang baru saja menunaikan salat magrib di Halte Karet.


Ruang salat di Halte Transjakarta juga dilengkapi alat salat. Kain sarung untuk laki-laki, mukena untuk perempuan, serta beberapa sajadah.


Putri merupakan salah satu karyawan yang berkantor di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan. Perempuan berusia 22 tahun itu mengaku hampir setiap hari menggunakan tempat salat beralas karpet hijau itu saat pulang bekerja.


"Merasa terbantu ya, jadi gak bolong salatnya," ujarnya saat dihampiri JawaPos.com, Kamis (7/12) malam.


Kendati merasa puas mendapat fasilitas tempat salat, namun jumlah mukena dan fasilitas salat lainnya halte itu tidak mencukupi. Bahkan tempat penyimpanan tas dia menganggap kurang aman. "Mukenanya kurang," kata Dewi, penumpang lainnya.


Meski demikian, perempuan 25 tahun itu menganggap musala yang disediakan oleh Transjakarta ini sangat membantu sekali bagi penumpang muslim. Sembari menunggu kedatangan bus dia bisa menjalankan ibadah. Apalagi untuk salat magrib yang waktunya cukup pendek.


Kepala Humas PT Transjakarta Wibowo mengatakan, musala di halte Karet ini baru saja dapat digunakan penumpang sejak Senin (27/11) lalu. Tempatnya dibangun dengan luas kurang lebih 7x5 m. Dengan ukuran yang tidak terlalu besar itu. Ruang ibadah yang mini itu cukup untuk menampung 8-10 orang salat berjamaah secara bergantian.


Selain di Karet, halte yang dilengkapi fasilitas musala juga terdapat di Grogol, Jakarta Barat. Ke depan, kata Wibowo, musala ini akan dibangun lagi di halte lainnya. "Musala ada di Halte Karet dan Halte Grogol," ungkap Bowo, begitu laki-laki berkacamata itu akrab disapa.


Direktur Utama PT Transjakarta Budi Kaliwono menambahkan, kehadiran musala di Halte Transjakarta di Karet tidak terlepas dari inspeksi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Ketika itu dia melihat kondisi halte yang padat penumpang. Nah, dia meminta pihak PT Transjakarta membangun musala di halte. "Pak Gubernur yang mengusulkan ini," papar beberapa waktu lalu.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore