Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 26 November 2017 | 13.10 WIB

Pesan Sang Guru di Dunia Fesyen Bagi Calon Desainer Muda

Desainer dan dosen, Taruna Kusmayadi - Image

Desainer dan dosen, Taruna Kusmayadi

JawaPos.com - Guru tak hanya mengajar di kelas atau kampus, tetapi harus mampu berbagi ilmu kepada penerusnya dengan menularkan semangat positif. Ini dipegang teguh desainer fesyen yang juga dosen fesyen di kampus Interstudi dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ).


Dia adalah Taruna Kusmayadi, yang sempat pula menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI).


Sebagai dosen, Nuna, begitu dia biasa disapa, berharap besar pada penerusnya di dunia fesyen. Di momentum Hari Guru Nasional, Nuna juga berharap siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan para guru tata busana untuk berkomitmen dan fokus dalam meraih mimpi.


"Anak-anak di dunia fesyen itu sebetulnya, baik secara imajinasi dari mulai pencarian inspirasi atau konsep. Sudah menjadi bagian atau jiwa dari sebuah desain. Tetapi saya berpikir bahwa pelajar-pelajar kita kurang bermimpi," kata Nuna kepada JawaPos.com, Sabtu (25/11).


Menurut Nuna, dalam sebuah karya desain, bibit muda saat ini kurang bercerita secara kronologi. Anak muda juga terkadang masih dangkal dalam melakukan riset.


"Mereka punya konsep tetapi enggak diperkuat dengan hasil akhir riset memadai. Bukan underestimate tetapi kadang-kadang kalau masih muda, referensi hidup belum banyak. Dengan riset baca-baca referensi maka hasilnya akan beda," ujarnya.


Nuna menjelaskan banyak kreatifitas dan inovasi yang dilakukan, tetapi karena kurang riset maka desainer itu tak mengetahui bahwa karya serupa atau mirip lainnya sudah pernah diciptakan di belahan dunia lain. Seandainya karya desainer kaya riset, lanjutnya, maka akan lebih inovatif dan kreatif.


"Supaya bisa tergali agar karyanya jangan dianggap it has been done (itu sudah pernah diciptakan oleh orang lain). Dan menghindari plagiat itulah gunanya riset karena bedanya tipis. Jangan sampai lupa mencantumkan sumber atau footnote," ujar Nuna.


Nuna menilai untuk dunia fesyen desain di Indonesia jika dibandingkan dengan negara Barat, sayangnya dunia fesyen masih dianggap sekadar vokasional atau ilmu keterampilan. Sehingga, menurutnya dunia fesyen terkesan kurang menjanjikan.


"Indonesia masih berkutat di S1 jurusan fesyen desain. Teman saya saja di Korea ada yang profesor di bidang fesyen. Saya heran mengapa kita masih berdebat soal itu. Kementerian Ristek Dikti harus bisa memberi solusi soal ini," jelasnya.


Nuna juga memiliki pesan bagi para guru SMK jurusan tata busana untuk lebih menyiapkan materi dan bahan ajar yang inovatif guna mempersiapkan seseorang yang fokus pada jurusan fesyen desain. Kurikulum di tingkat SMK pun harus dibenahi.


"Begitu pula dengan fasilitas atau infrastruktur. Fesyen desain itu alat-alatnya itu mahal sekali. Karena itu sangat butuh peran pemerintah dalam hal ini, sebab guru adalah sosok yang be strong dengan di tengah fasilitas minim tetap bersemangat memenuhi panggilan jiwa," tandasnya.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore