Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 7 November 2017 | 22.56 WIB

Keteguhan Grup Musik Harmony Kelenteng Boen Bio di Jalur Musik Religi

CARI PENERUS: Anggota Harmony, grup musik Boen Bio, setelah berlatih di ruang musik kelenteng. - Image

CARI PENERUS: Anggota Harmony, grup musik Boen Bio, setelah berlatih di ruang musik kelenteng.

Musik rohani adalah bagian ritual ibadah umat Khonghucu. Di Kelenteng Boen Bio, grup musik Harmony terus bertahan sambil menanti generasi penerus.


SALMAN MUHIDDIN, Surabaya


SPIRIT Wong Feihung, tokoh legendaris bela diri, ulama, sekaligus tabib, asal Tiongkok, merebak di Kelenteng Boen Bio, Minggu (5/11). Semangat itu menggelora dari ruangan sempit, berukuran 2 x 5 meter, di belakang kelenteng.


Nan er dang zi qiang, lagu tema film Once Upon a Time in China sedang dimainkan grup musik Harmony. Film yang dibintangi Jet Li tersebut memang tontonan populer pada tahun 90-an. Filmnya legendaris, lagu temanya juga legendaris. Mendengarkannya seperti bernostalgia.


Siang itu, sejumlah umat kelenteng belum pulang. Ada arisan. Mereka yang belum pulang mendekat seperti terseret magnet. Dentuman floor tom drum dan suara pecah simbal yang digebuk Lim Tiong bikin merinding. ’’Ciamik,” ujar salah seorang perempuan lanjut usia sambil manggut-manggut.


Penonton dadakan itu mengintip dari pintu dan jendela ruang musik tersebut. Sengaja tidak disebut studio musik. Sebab, setengah ruangan itu adalah gudang. Lemari penyimpanan dan perkakas di dalam kardus harus berdesak-desakan dengan alat musik beserta pemainnya.


Di dalamnya ada sembilan pemain musik yang ditemani dua kipas angin. Mereka berpeluh, tapi tidak mengeluh. Yang ada malah raut gembira karena bisa berkumpul dan berlatih.


Saat itu vokalis yang datang hanya satu. Yakni, Jefferson. Vokalis perempuan berhalangan hadir untuk latihan. ”Enggak masalah. Saya bisa suara laki-laki dan perempuan,” ucap pria yang mampu menyanyikan lagu-lagu dengan nada tinggi tersebut setengah berkelakar. Di dalam ruangan itu, ada pemain drum, keyboard, gitar, dan bas. Ada juga empat pemain alat musik tradisional Tionghoa. Alat musik modern berpadu dengan tradisional.


Alat musik paling besar, yangqin, dimainkan Chung Hian. Alat musik yang punya banyak dawai itu dimainkan dengan cara dipukul secara lemah lembut. Alat pemukulnya terbuat dari bambu tipis dengan ujung berlapis karet.


Indira Agustin memainkan guzheng. Kotak cembung dengan 21 dawai itu dimainkan dengan cara dipetik. Dawai-dawai tersebut disetel pada nada pentatonis yang terdiri atas do, re, mi, sol, dan la. Sudah ada empat kuku palsu yang terpasang di jemari arsitek perempuan itu.


Djin Meng menjadi tukang tiup. Dia adalah pemain dizi, seruling tradisional Tionghoa yang mengisi nuansa romantis dan kalem. Sebelum dimainkan, dia sibuk memasang membran tipis di salah satu lubang dizi. Sangat tipis. Setipis kulit ari buah salak. Tersenggol sedikit bisa robek.


Yang terakhir adalah erhu. Hampir sama dengan biola. Bedanya, alat musik gesek tersebut hanya memiliki dua senar. Sedangkan biola punya empat. ”Kalau di sini kayak yang dipakai tukang arum manis. Tapi, mereka pakai kaleng susu,” ujar Bing Slamet Wijaya, pencetus grup musik Boen Bio.


Erhu yang dia pakai menggunakan tabung kayu. Di bagian depan terdapat sisik ular yang berfungsi menyalurkan getaran dari senar erhu. Semakin besar sisik ular itu, semakin merdu suara yang dihasilkan. Sisik besar biasanya diambil dari bagian kepala ular.


Lagu-lagu pop memang sering digunakan untuk latihan. Namun, yang terpenting pada latihan setiap pekan adalah mematangkan lagu-lagu rohani. Misalnya, lagu Sinar Pancaran atau Doaku yang biasa dimainkan sebelum doa. Beberapa lagu pujian baru juga harus dimatangkan.


Setelah berlatih, para pemain menyantap gorengan tahu isi dan es blewah. Mereka mengisi kembali tenaga setelah dua setengah jam berlatih. Sambil duduk di lorong gedung di belakang kelenteng, Bing menceritakan kisah terbentuknya grup musik. Menurut dia, musik adalah elemen penting ritual umat Khonghucu. Nabi Kongzi sangat suka dengan musik. Karena itu, lagu-lagu pujian selalu dilantunkan ketika beribadah. Terutama saat hari-hari besar keagamaan Khonghucu.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore