Kamis, 14 Dec 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Politik

Dibanding Gatot dan Novanto, Cak Imin Lebih Berpeluang Dampingi Jokowi

| editor : 

Cak Imin

Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar. (JawaPos.com)

JawaPos.com - Figur Muhaimin Iskandar dianggap berpeluang menjadi pendamping Joko Widodo di pilpres 2019. Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu dianggap lebih unggul dibanding Setya Novanto dan Gatot Nurmantyo. 

Hal itu diungkapkan Direktur eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti. Menurutnya, Muhaimin memiliki basis masa yang kuat di kalangan umat Islam. Terutama Nahdlatul Ulama (NU).

"Dibanding Gatot dan Setya Novanto, Muhaimin memiliki potensi lebih besar untuk mendampingi Jokowi. Mungkin saja, Muhaimin maju sebagai cawapres 2019," kata Ray kepada JawaPos.com, Kamis (12/10). 

Ray menyebut, kalangan sipil berlatarbelakang politikus juga dinilai berpeluang menjadi pendamping Jokowi. Tapi, modal elektabilitas dan basis massa yang kuat harus jadi syarat utama. 

“Tokoh yang punya basis suara seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah bisa menjadi contohnya,” imbuh Ray.

Cak Imin, sapaan akrab Muhaimin Iskandar punya basis massa yang kuat. Sebagai ketua umum parpol dan bagian inti dari Nahdliyin saat ini. Tentu saja latar belakang itu dinilai sebagai modal politik besar. 

"Syarat populer, basis massa yang kuat jadi modal level cawapres untuk sipil dari parpol. Cak Imin sudah memiliki syarat kuat di basis massa Islam dan didukung partai," ujarnya.

Tapi, kata Ray, jalan Muhaimin tentu tak akan mudah. Pasalnya PKB harus bekerja keras untuk mendulang suara pada pilkada 2018, khususnya di luar Jawa.

"PKB harus kerja keras untuk meningkatkan elektabilitasnya Cak Imin. Memang, Cak Imin bisa disebut mewakili basis massa NU dan didukung masyoritas ulama dan kiai NU," jelasnya. 

Sementara, kata dia, Gatot dan Setya Novanto justri akan menjadi batu sandungan bagi Jokowi di pilpres 2019. Apalagi Gatot tidak punya basis massa yang jelas. 

"Gatot diperkirakan hanya mendulang suara dari sebagian pendukung Prabowo Subianto. Sedangkan jika memilin Setya Novanto sangat rawan, karena tersandung kasus hukum," urainya.

(dms/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP