Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 10 Oktober 2017 | 21.38 WIB

Masyarakat Perkotaan Masih Kolot Tangani Masalah Kejiwaan

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com – Tingginya tuntutan gaya dan beban hidup masyarakat perkotaan sering kali berujung pada stres bahkan depresi. Berbagai permasalahan umum yang menjerat kota-kota besar biasanya membuat masyarakatnya diliputi masalah sosial. Sebut saja masalah kemiskinan, kemacetan, masalah lingkungan, pendidikan, dan lainnya.


Dalam momentum Hari Kesehatan Jiwa kali ini, sudah saatnya masyarakat untuk bergerak dan menyadari pentingnya kesehatan jiwa. Jika memang beban hidup terlalu stres atau membuat tak bersemangat, yang paling dibutuhkan adalah berbagi atau bercerita (let’s talk).


Pakar Kesehatan dari Departemen Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc. menjelaskan angka yang mencengangkan. Ternyata masyarakat di perkotaan masih kolot dalam menangani masalah kejiwaan.


“Data menunjukkan kejadian pertama early psikosis atau pada tahap awal gangguan jiwa sesuai riset tahun 2008-2009, pasien pertama yang mengalami gejala sakit sebanyak 60 persen pergi ke alternatif. Itu di Jakarta,” paparnya saat berbincang dengan JawaPos.com di Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor.


Budi meminta masyarakat jangan lagi memberi cap atau stigma negatif kepada Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Sebab, ODGJ tak seluruh tubuh atau jiwanya terganggu. Banyak dari mereka masih bisa diajak berkomunikasi.


“Perkotaan lebih rendah dalam hal pasung, dibandingkan dengan pedesaan. Mungkin saja akses pelayanan kesehatan lebih diketahui,” ujar Budi.


Orang dengan masalah kejiwaan, kata Budi, belum tentu menderita gangguan jiwa. Memang ada faktor risiko yang terjadi sehingga membutuhkan pencegahan. Risiko menjadi cemas, depresi, minder, bahkan bunuh diri.


“Minder, depresi, bunuh diri bahkan ujung-ujungnya. Penyebabnya dari mulai PHK kerja, putus sekolah, atau perceraian,” katanya.


Seseorang dengan gangguan jiwa terlihat jelas dari ekspresi wajah. Tatapan mata kosong atau sedih bisa dilihat dengan mudah.


“Ekspresi muka sedih pandangan kosong yang paling tahu adalah keluarganya. Apalagi jika dia korban pelecahan seksual. Tentu butuh support dengan curhat minta bantuan, jangan sampai depresi. Dengan curhat maka seseorang sudah membuat jiwanya sehat,” tegas Budi.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore