
Ilustrasi
JawaPos.com - Delpasari, 31, warga Desa Gedungnyapah, Kecamatan Abung Timur, Kabupaten Lampung Utara (Lampura) tampak begitu sedih dan panik. Buahnya hatinya, Berlin Istana, baru saja meninggal dunia akibat benjolan di kepalanya.
Kesedihan ibu muda tidak hanya sekadar kehilangan sang anak, melainkan ketika proses pemulangan jenazah anaknya dari Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) Bandarlampung, pihak rumah sakit daerah itu bertele-tele.
Hal itu membuat dirinya kecewa. Hal itu ditambah pula dengan sikap sopir ambulans yang meminta uang tambahan Rp 2 juta sebagai cara cepat untuk proses pengantaran jenazah anaknya sampai di rumah. Akibat kejadian itu Delpasari pun memilih turun dari ambulans dan naik menggunakan angkutan umum untuk sampai ke rumahnya.
Ayah korban Ardiansyah, 41, menceritakan, awal permasalahan terjadi ketika dirinya mengurus administrasi kepulangan jenazah putrinya. Saat itu, kata dia, petugas mempermasalahkan perbedaan nama yang tercantum pada kartu BPJS dengan nama yang didaftarkan pada bagian pendaftaran.
"Di bagian pendaftaran tercatat bayi Delpasari, sedangkan pada kartu BPJS tertera Berlin Istana," ujarnya saat ditemui di rumah duka Rabu (20/9) sekitar pukul 21.30 WIB.
Menurut Ardiansyah, petugas itu menyatakan kesalahan tersebut harus diurus ulang dan membutuhkan waktu cukup lama. Di sela-sela pembicaraan itu, ada oknum sopir ambulans sempat meminta uang untuk memperpendek urusan tersebut. Oknum itu meminta dia membayar Rp 2 juta.
Di dompet Ardiansyah tidak ada uang sebesar itu. Dia juga tidak mampu mengusahakan duit jutaan rupiah dalam sekejap mata. Ardinsyah kemudian meminta istrinya turun dari ambulans. Sambil menggendong jasad sang putri, keduanya langsung naik salah satu angkot jurusan Rajabasa-Tanjungkarang yang melintas.
"Saat itu kami tidak memiliki uang untuk bayar ambulans. Saya, istri, dan anak saya yang baru meninggal memutuskan naik angkot," ucap Ardiansyah seraya menunduk dan menghela napas panjang.
Hal senada dikatakan Delpasari, 31, ibu kandung korban. "Saat itu perasaan saya campur aduk. Yang jelas sedih melihat kondisi anak kami yang sudah meninggal ditambah tidak diantar pula ke rumah duka," ucapnya.
Beruntung, kata dia, ketika di dalam angkot, ada seorang perempuan yang memberitahukan layanan ambulans gratis Pemkot Bandarlampung. Sopir angkot langsung menghubungi hotline layanan ambulans milik pemkot tersebut. "Kami sempat menunggu setengah jam datangnya ambulans di Bundaran Rajabasa," tutur ibu empat anak itu.
Petugas ambulans Kota Bandarlampung, Agus Putra, ketika dikonfirmasi membenarkan kalau pihaknya dihubungi sopir angkot. "Saya langsung laporan ke rumah dinas wali kota untuk ambil uang transpor dan berangkat pukul 17.30 WIB. Jenazah langsung dibawa ke rumah duka dan sampai sekitar pukul 20.00," ujar Agus, 43.
Delpasari menjelaskan, putri keempatnya itu lahir pada 17 Agustus 2017 di RSUD Ryacudu Kotabumi. Saat lahir, putrinya mengalami kelainan. Sebab, terdapat benjolan di bagian kepalanya. Akhirnya, putrinya itu dirujuk ke RSUDAM.
Pihaknya sudah dua kali berkonsultasi ke dokter di RSUDAM. Pertama pada 25 Agustus dan kedua pada 18 September lalu. "Kami waktu itu berangkat menggunakan kereta api dan angkot," ucapnya.
Saat turun angkot itulah, bayi Berlin mengalami kejang-kejang. "Anak saya langsung masuk ruang Alamanda RSUDAM," terangnya.
Setiba di rumah duka, jenazah bayi malang tersebut dimakamkan di belakang rumah. Pemakaman tetap dilangsungkan meski saat itu sedang hujan deras. Setelah pemakaman, digelar tahlilan di rumah bercat hijau tersebut. Sesudah takziah, Pemerintah Kabupaten Lampura melalui Camat Abung Timur Mu'ad memberikan santunan kepada pihak keluarga.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
