Rabu, 18 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
JPG Today

Pelayanan RSUD Bertele-tele, Ibu Muda Bawa Jenazah Anak Dengan Angkot

Sopir Ambulans RS Minta Rp 2 Juta

| editor : 

Ambulans

Ilustrasi (Pixabay.com)

JawaPos.com - Delpasari, 31, warga Desa Gedungnyapah, Kecamatan Abung Timur, Kabupaten Lampung Utara (Lampura) tampak begitu sedih dan panik. Buahnya hatinya, Berlin Istana, baru saja meninggal dunia akibat benjolan di kepalanya.

Kesedihan ibu muda tidak hanya sekadar kehilangan sang anak, melainkan ketika proses pemulangan jenazah anaknya dari Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) Bandarlampung, pihak rumah sakit daerah itu bertele-tele.

Hal itu membuat dirinya kecewa. Hal itu ditambah pula dengan sikap sopir ambulans yang meminta uang tambahan Rp 2 juta sebagai cara cepat untuk proses pengantaran jenazah anaknya sampai di rumah. Akibat kejadian itu Delpasari pun memilih turun dari ambulans dan naik menggunakan angkutan umum untuk sampai ke rumahnya.

Ayah korban Ardiansyah, 41, menceritakan, awal permasalahan terjadi ketika dirinya mengurus administrasi kepulangan jenazah putrinya. Saat itu, kata dia, petugas mempermasalahkan perbedaan nama yang tercantum pada kartu BPJS dengan nama yang didaftarkan pada bagian pendaftaran.

"Di bagian pendaftaran tercatat bayi Delpasari, sedangkan pada kartu BPJS tertera Berlin Istana," ujarnya saat ditemui di rumah duka Rabu (20/9) sekitar pukul 21.30 WIB.

Menurut Ardiansyah, petugas itu menyatakan kesalahan tersebut harus diurus ulang dan membutuhkan waktu cukup lama. Di sela-sela pembicaraan itu, ada oknum sopir ambulans sempat meminta uang untuk memperpendek urusan tersebut. Oknum itu meminta dia membayar Rp 2 juta.

Di dompet Ardiansyah tidak ada uang sebesar itu. Dia juga tidak mampu mengusahakan duit jutaan rupiah dalam sekejap mata. Ardinsyah kemudian meminta istrinya turun dari ambulans. Sambil menggendong jasad sang putri, keduanya langsung naik salah satu angkot jurusan Rajabasa-Tanjungkarang yang melintas.

"Saat itu kami tidak memiliki uang untuk bayar ambulans. Saya, istri, dan anak saya yang baru meninggal memutuskan naik angkot," ucap Ardiansyah seraya menunduk dan menghela napas panjang.

Hal senada dikatakan Delpasari, 31, ibu kandung korban. "Saat itu perasaan saya campur aduk. Yang jelas sedih melihat kondisi anak kami yang sudah meninggal ditambah tidak diantar pula ke rumah duka," ucapnya.

Beruntung, kata dia, ketika di dalam angkot, ada seorang perempuan yang memberitahukan layanan ambulans gratis Pemkot Bandarlampung. Sopir angkot langsung menghubungi hotline layanan ambulans milik pemkot tersebut. "Kami sempat menunggu setengah jam datangnya ambulans di Bundaran Rajabasa," tutur ibu empat anak itu.

Petugas ambulans Kota Bandarlampung, Agus Putra, ketika dikonfirmasi membenarkan kalau pihaknya dihubungi sopir angkot. "Saya langsung laporan ke rumah dinas wali kota untuk ambil uang transpor dan berangkat pukul 17.30 WIB. Jenazah langsung dibawa ke rumah duka dan sampai sekitar pukul 20.00," ujar Agus, 43.

Delpasari menjelaskan, putri keempatnya itu lahir pada 17 Agustus 2017 di RSUD Ryacudu Kotabumi. Saat lahir, putrinya mengalami kelainan. Sebab, terdapat benjolan di bagian kepalanya. Akhirnya, putrinya itu dirujuk ke RSUDAM.

Pihaknya sudah dua kali berkonsultasi ke dokter di RSUDAM. Pertama pada 25 Agustus dan kedua pada 18 September lalu. "Kami waktu itu berangkat menggunakan kereta api dan angkot," ucapnya.

Saat turun angkot itulah, bayi Berlin mengalami kejang-kejang. "Anak saya langsung masuk ruang Alamanda RSUDAM," terangnya.

Setiba di rumah duka, jenazah bayi malang tersebut dimakamkan di belakang rumah. Pemakaman tetap dilangsungkan meski saat itu sedang hujan deras. Setelah pemakaman, digelar tahlilan di rumah bercat hijau tersebut. Sesudah takziah, Pemerintah Kabupaten Lampura melalui Camat Abung Timur Mu'ad memberikan santunan kepada pihak keluarga.

Melalui pers rilis yang diterima Radar Lampung (Jawa Pos Group), manajemen RSUDAM menyatakan telah menyediakan satu unit ambulans untuk mengantar bayi Delpasari ke kampung asal Gedungnyapah, Abung Timur, Lampura. Namun, karena masalah administrasi yang belum selesai, pihak keluarga tidak sabar, lalu meninggalkan ambulans dan memilih naik angkutan umum.

Hal itu disampaikan Direktur Pelayanan RSUDAM Pad Dilangga. Pihak RSUDAM menyatakan sudah menjalankan standard operating procedure (SOP). "Pasien meninggal di ruang ICU sekitar pukul 15.15 WIB. Keluarga menerima atas musibah ini.

Sesuai SOP, kami akan pulangkan jenazah dengan menggunakan ambulans. Keluarga sudah mengurus ambulans, lalu jenazah dibawa ke ambulans. Tetapi, ada sedikit masalah administrasi," kata Pad Dilangga di Ruang ICU RSUDAM tadi malam. 

(ozy/rma/pip/rls/c1/fik/c4/ami)

Sponsored Content

loading...
 TOP