Selasa, 17 Oct 2017
Logo JawaPos.com
JawaPos.com Icon
Ekonomi

Pola Travelling Berganti, Nominal Pembebasan Bea Masuk Tak Lagi Ideal

| editor : 

pajak impor, bea masuk

Ilustrasi pembayaran pajak (DOK. JAWA POS)

JawaPos.com - Melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 188/2010, pemerintah telah memberi batasan yang ditetapkan untuk tarif cukai barang dari luar negeri per individu. Dulu, angkanya sebesar USD 50 per individu yang kini direvisi menjadi USD 250, dan per keluarga USD 1.000.

Direktur Eksekutif Center For Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo mengatakan, batasan itu perlu dikaji kembali. Sebab, nilai itu terlalu rendah dan tak sesuai kondisi saat ini.

Jika dulu masyarakat pergi ke luar negeri untuk berbelanja, pola itu berubah. Saat ini mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di negeri orang untuk jalan-jalan.

Menurutnya, saat ini pelancong tak lagi menghabiskan uangnya untuk membeli barang mahal. Melainkan, membeli oleh-oleh untuk orang tersayang.

"Kalau menurut saya, memang terlalu rendah. Karena ada beberapa faktor seperti inflasi, peningkatan daya beli, depresiasi rupiah, termasuk juga ada perubahan pola. Kalau dulu ke luar negeri untuk belanja, sekarang travelling dengan membawa oleh-oleh," kata Yustinus kepada JawaPos.com saat dihubungi, Kamis (21/9).

Fakta itulah yang menurutnya perlu mendapat perlakuan berbeda. Termasuk, untuk pola pengawasan bagi pelancong yang ingin kulakan.

Lebih jauh dirinya menilai, saat ini batas kewajaran cukai barang dari luar negeri seharusnya sebesar USD 500 – USD 1.000 untuk individu. Sementara untuk keluarga, batasnya ditingkatkan menjadi USD 2.000. 

Nilai itu dianggap pantas untuk diterapkan. Sebab, pengenaan bea masuk ke Indonesia terlalu banyak. Hal itu membuat pajak yang dibebankan ke masyarakat justru semakin tinggi, bukan meringankan.

"Kalau internasional itu kan USD 250 (per orang) dan USD 1.000 (per keluarga). Kita itu meski cukup moderat, tapi banyak bea masuk. Itu menimbulkan barang menjadi sangat mahal, apalagi dia cuman bawa oleh-oleh tapi dikenakan pajak mahal," tutupnya.

(cr4/JPC)

Sponsored Content

loading...
 TOP