Jumat, 22 Sep 2017
JawaPos.com Icon
Features

Mengenal Lebih Dekat Via Vallen, ”Penguasa” Panggung Dangdut Saat Ini

| editor : 

IDOLA: Via Vallen (dua dari kiri) saat ini laris manis menerima job manggung dari kota ke kota.

IDOLA: Via Vallen (dua dari kiri) saat ini laris manis menerima job manggung dari kota ke kota. (Hanung Hambara/Jawa Pos)

Hati Via Vallen sangat dekat dengan Sidoarjo. Di Kota Delta itulah dia melewatkan masa remajanya. Kepada Jawa Pos Via pun membagi kisahnya. Baik tentang Sidoarjo maupun perjalanan karirnya.

RESVIA AFRILENE, Sidoarjo

SENIN (8/5) menjadi ’’hari bersejarah’’ bagi Via Vallen. Untuk kali pertama, pemilik nama asli Maulidia Oktavia yang tinggal di kawasan Tanggulangin, Sidoarjo, sejak bangku SMA itu manggung di Pendapa Delta Wibawa, Pemkab Sidoarjo.

Via sengaja diundang khusus oleh Jawa Pos untuk memeriahkan acara peluncuran program Desa Melangkah 2017. Selain Bupati Sidoarjo Saiful Ilah, Wakil Bupati Nur Ahmad Syaifuddin, serta 154 kepala desa dari 12 kecamatan di Sidoarjo, banyak tamu undangan lain yang hadir. Antara lain, Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf dan jajaran forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda) se-Sidoarjo.

Perempuan kelahiran Surabaya, 1 Oktober 1991 itu tampak cantik bersahaja dengan balutan gaun berwarna silver. Atasan kebayanya bermodel sabrina lengkap dengan brokat berpayet. Bagian roknya bergaya lebar atau maxi dress. Untuk sepatu, dia memilih memakai open toe heels. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai. Sebagai lagu pembuka, Via menampilkan lagu miliknya yang sedang ngetop berjudul Sayang.

’’Opokowe krungu, jerite atiku (apa kamu dengar, jeritan hatiku, Red). Berharap engkau kembali. Sayang. Nganti memutih rambutku, ra bakal luntur tresnoku (hingga memutih rambutku, tidak akan luntur cintaku’’. Begitu Via mengeluarkan suara merdunya, para tamu ikut larut dan bernyanyi bersama.

Via bergelut dengan dunia tarik suara sejak kelas V SD. Bahkan, dia sudah berani tampil di pentas seni sekolah dan beberapa ajang lomba menyanyi. Sang ayah, Mohammad Arifin, adalah motor penggerak semangat Via. Profesi Arif sebagai gitaris ikut memengaruhi kecintaan Via terhadap dunia musik.’’Dari kecil, aku sudah suka nyanyi. Di mana pun, kapan pun. Nyanyi terus,’’ ucap Via, lantas tertawa.

Meski kini kondang sebagai penyanyi dangdut nasional, rupanya Via sangat menyukai genre musik pop rock sejak menginjak usia remaja. Grup band asal Amerika Serikat, Evanescence, dan penyanyi dengan dandanan nyentrik, Avril Lavigne, yang menjadi sumber inspirasi Via.

’’Mereka itu karakter suaranya powerful. Terus dandanan panggungnya simpel, apa adanya mereka aja gitu,’’ ujar Via. Nama panggung Vallen juga diambil dari album pertama Evanescence yang berjudul Fallen. ’’Aku plesetin saja jadi Vallen. Kece kan?’’ selorohnya.

Saking sukanya sama dua penyanyi luar negeri tersebut, Via kemudian merasa tertantang. Jika masyarakat Indonesia bisa menikmati musik barat, mengapa dangdut tidak bisa dikenal di luar negeri? Pertanyaan itulah yang ingin dijawab Via melalui musik-musiknya. Saat talentanya tercium oleh Sera, salah satu orkes dangdut yang hitdi tanah air, Via langsung mengambil kesempatan itu.’’Aku gabung sama Sera pada 2008. Dari situ, aku jalani manggung dari kota ke kota,’’ tutur Via.

Sejak awal, Via tidak ingin meniru gaya ’’lama’’ penyanyi dangdut yang lain. Dia ingin tampil dengan style yang lebih segar, muda, dan modern. Gaya perempuan Korea yang dewasa, namun tetap imut atau sentuhan padu padan Harajuku ala Jepang menjadi rujukannya. Pemilihan gayanya itu ternyata sempat mendapat sedikit ’’tentangan’’ dari sang bunda, Rosida. Ibunya meminta Via memakai gaun-gaun supergemerlap hingga sepatu hak belasan sentimeter. Maklum, tren tersebut sedang menjadi gaya andalan penyanyi-penyanyi dangdut terkenal.

’’Moh ah ndeso (nggak mau, kampungan, Red),’’ celetuk Via menirukan jawabannya kepada sang bunda kala itu. Dia kemudian memilih tampil dengan celana jins sobek-sobek, kaus, dan sepatu sneakers. ’’Pertamanya ya dicibir teman seprofesi. Katanya, nggak bondo (tidak modal, Red,’’ ungkap Via.

Namun, Via cuek saja. Dia mempertahankan penampilan yang simpel dan terkesan kekinian. Rok gaun dipadukan dengan kemeja dan heels sporty yang kerap dikenakannya sekarang malah menjadi tren di kalangan penyanyi dangdut lainnya. Terkadang, Via malah menggunakan aksesori ala Koreanstyle seperti kalung choker. Alhasil, penampilannya di panggung maupun layar kaca benar-benar fresh. Dengan sisipan bait-bait rap yang khas saat bernyanyi, Via terlihat begitu energik dan berjiwa muda.

Berkat gaya berpakaiannya yang beda, muda, dan kualitas vokal yang prima, karir Via melambung. Tidak hanya berhasil menembus panggung nasional dan tampil di layar kaca, Via bahkan pernah diundang menyanyi ke luar negeri.

’’Waktu itu 2016 konser di Hongkong sama Tiongkok. Ya bawain lagu-lagu Via. Kan memang tujuannya biar orang asing dengar lagu dangdut,’’ kata putri sulung Rosida dan Arif tersebut, lantas tertawa.

Via bahkan saat ini bisa dibilang sebagai salah satu ”penguasa” panggung dangdut. Statusnya itu semakin ditabalkan dengan bejibun fans yang menggandrunginya. Para penggemar Via itu menghimpun diri dengan nama Vianisty.

Via berkali-kali mengucap syukur. Kerja kerasnya berbuah manis. Yang terpenting, dia bisa membahagiakan orang tua. Dari semua pengalaman luar biasa itu, Via mengaku paling terkesan saat berduet bersama Rita Sugiarto, penyanyi dangdut legendaris yang kerap berduet dan mengisi suara dalam sejumlah film Rhoma Irama. ’’Bunda Rita itu diva dangdut. Aku banyak belajar cengkok dan teknik lain. Sama attitude supaya bisa diakui,’’ tuturnya.

Jalan Via menuju kesuksesan tentunya tidak melulu mulus. Selain cibiran dari penyanyi-penyanyi lain yang kerap didengar, dia sempat menerima somasi dari pencipta lagu Sayang yang dipopulerkannya. ’’Lagu itu dari awal aku rasa unik. Jadi, aku kenalkan ke semua kota yang aku datangi sampai akhirnya booming. Begitu banyak yang nyanyi ya baru jadi masalah,’’ kata Via. Meski begitu, pihaknya sudah mendapat penyelesaian atas permasalahan tersebut.

Via juga pernah menerima kejadian tidak menyenangkan. Salah satunya, saat manggung di Kota Jombang. ’’Pas turun panggung, pinggulku dipegang. Aku reflek nonjok bahu masnya,’’ cerita Via. Berkat ekstrakurikuler karate yang diikutinya semasa sekolah dulu, Via bisa membela diri. Dia berharap stigma bahwa penyanyi dangdut adalah cewek murahan mulai dihilangkan. ’’Kami jual talenta, bukan kayak begitu,’’ tegasnya. (*/c20/pri)

Sponsored Content

loading...
 TOP