
Kawasan Roselands yang banyak dilirik investor property, termasuk dari Indonesia. (Istimewa)
JawaPos.com - Sydney menjadi salah satu magnet bisnis property di Australia. Banyak investor Asia, termasuk dari Indonesia. Ketika lahan baru semakin langka sementara akses foreign buyers terhadap hunian existing juga terbatas, kelangkaan menjadi semakin nyata.
“Kelangkaan properti Sydney bukan hanya persoalan tingginya permintaan, tetapi juga keterbatasan geografis yang membuat kota ini sulit terus berkembang ke luar,” ungkap Chandra Leonardi, Director & CEO Capital Value International Group (CVIG)
Bagi pembeli properti Indonesia yang mencari hunian tapak di Sydney, kawasan populer seperti Sydney CBD, Eastern Suburbs, atau Northern Beaches mungkin lebih dahulu masuk dalam radar. Namun, tingginya harga properti di kawasan tersebut, membuat banyak orang mulai melirik daerah suburban yang menawarkan aksesibilitas, lingkungan, dan potensi pertumbuhan investasi jangka panjang.
Roselands, yang berada di Barat Daya Sydney, merupakan salah satu kawasan yang belum banyak dibidik, namun memiliki fundamental yang menarik bagi pembeli properti Indonesia yang ingin memiliki rumah tapak di Sydney.
Berjarak sekitar 20–30 menit berkendara dari Sydney Central Business District (CBD), Roselands merupakan kawasan yang didominasi lingkungan residensial dengan komunitas keluarga yang kuat. Karakter tersebut menjadikannya alternatif bagi pembeli yang menginginkan lingkungan hunian yang lebih tenang tanpa harus terlalu jauh dari pusat kota.
Di tengah semakin terbatasnya lahan hunian di Sydney, Roselands menawarkan kombinasi yang semakin langka: landed property di kawasan metropolitan, komunitas keluarga yang kuat, konektivitas yang baik, dan pasokan properti yang relatif terbatas. Kombinasi inilah yang memberikan dasar fundamental bagi potensi long-term capital growth.
Akses terhadap transportasi dan fasilitas sehari-hari menjadi faktor penting dalam menjaga daya tarik sebuah kawasan bagi end-user—dan pada akhirnya mendukung keberlanjutan permintaan terhadap properti.
Fundamental tersebut diperkuat oleh karakter demografinya. Lebih dari 53% rumah di Roselands dihuni pasangan dengan anak, sementara sekitar 70% penduduk merupakan pemilik rumah dan hanya 30% penyewa.
Data ini menunjukkan bahwa permintaan di Roselands bukan semata berasal dari investor, tetapi dari keluarga yang menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat tinggal jangka panjang.
Bagi investor, komposisi tersebut penting karena pasar yang didominasi owner-occupiers cenderung menciptakan basis permintaan yang lebih stabil. Ketika sebuah kawasan memiliki proporsi pemilik rumah yang tinggi dan kebutuhan keluarga yang konsisten, permintaan terhadap rumah tidak semata bergantung pada siklus investasi atau aktivitas spekulatif.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Kecelakaan Maut! BYD M6 Diduga Error hingga Tak Bisa Direm dan Tabrak Trotoar di Jakbar
Prediksi Skor Espanyol vs Sevilla di Liga Spanyol: Kans Los Nervionenses Curi Poin di RCDE Stadium
Kronologi Kecelakaan Maut BYD M6 di Kembangan Jakbar, Ibu dan Anak Meninggal di TKP
Prediksi Skor Marseille vs Paris FC di Liga Prancis: Kans Les Phocéens Pesta Gol di Stade Velodrome
Prediksi Skor Cagliari vs Lecce di Liga Italia: Duel Ketat di Sardinia Bisa Berakhir Imbang
Prediksi Skor Bournemouth vs Lincoln City di Carabao Cup: The Cherries Menang Lewat Adu Penalti
Kasus Keracunan MBG Berastagi Sisakan Masalah Serius, Siswa Alami Gangguan Saraf hingga Jantung
Viral Pernyataan Pribadi Deputi Bakom soal Antek Asing di Balik Erupsi 6 Gunung Api di Indonesia
Prediksi Skor AEK Athens vs LASK Linz di Liga Champions: Tuan Rumah Pesta Gol!
Raditya Dika Gagal Pulang ke Indonesia, Pesawat dari Doha Putar Balik Usai 4 Jam di Udara
