
Harga tanah dan properti di Canggu, Bali luar biasa. Pengembang memanfaatkan dengan menciptakan tren jual kavling. (ANTARA)
JawaPos.com - Pengusaha properti di kawasan Canggu, Bali, mulai membangun tren bisnis kavling berkelanjutan. Direktur Utama PT Asia Mas Realty, Edy Pangestu sebagai salah satu pebisnis yang menggagas tren ini mengatakan, sengaja hadir dengan konsep menjual tanah kavling sebab pascapandemi Covid-19 permintaan akan properti di kawasan tersebut melonjak.
Namun, lonjakan permintaan hanya dibarengi dengan pertumbuhan hunian atau bangunan komersil yang tidak memberi kebebasan pemilik dalam menentukan konsep sendiri. "Kalau orang kebanyakan jual vila atau rumah di sini, jadi orang-orang dihadapkan dengan satu pilihan dari ujung ke ujung, sedangkan membangun tren ini jadi memberi keunikan sendiri bahwa kebebasan perlu dan itu anda yang tentukan," kata Edy Pangestu, dikutip dari Antara, Jumat (18/7).
Dengan meluncurkan tren bisnis tanah kavling ini, pengusaha tinggal menambahkan inovasinya sendiri, seperti Edy Pangestu yang mengembangkan tanah kavling seluas 10 hektarenya menjadi Canggu Hills yang berkelanjutan di tengah padatnya kawasan tersebut tiga tahun terakhir. "Ada sistem pengolahan air limbah terintegrasi dan rainwater harvesting, lebih dari 30 persen lahan dialokasikan untuk ruang terbuka hijau sehingga menciptakan sirkulasi udara alami dan mengurangi efek panas, juga dilengkapi solar panel untuk mendukung penggunaan energi terbarukan," ujarnya.
Pengusaha tersebut membaca, umumnya individu atau investor mencari Canggu untuk membangun hunian atau bangunan komersil. Sejak menjadi pusat tinggalnya wisatawan asing, digital nomad, ekspatriat, dan pelaku industri kreatif kawasan di Kuta Utara itu semakin berkembang.
"Harga tanah di Canggu tumbuh rata-rata 12–18 persen per tahun, dengan harga tanah hunian rata-rata dipasarkan Rp 25–35 juta per meter persegi, sementara lahan komersil bisa tembus Rp 40–60 juta per meter persegi tergantung lokasi dan aksesnya," ujar Edy.
Akhirnya setelah memulai dengan 10 hektarenya, Edy Pangestu mendapat pembeli awal 61 unit tanah kavling untuk kebutuhan hunian. Ia sendiri berani menaruh harga Rp1,8 miliar untuk satu kavling berukuran 120 meter, menandakan pasar dari tren bisnis baru ini ada.
Dari simulasinya, dengan seseorang atau investor membeli tanah, mereka dapat mengembangkan hunian atau usahanya sendiri dengan modal sesuai kemampuan namun di lokasi yang sudah terintegrasi dan di tepi jalan. Dengan keuntungan lokasi dan infrastruktur pendukung maka perhitungannya dalam beberapa tahun maka modal tanah dan membangun akan balik modal bahkan berkali-kali lipat.
Di langkah awalnya ini, Edy melihat peminat kavling tanah di kawasan Canggu terdiri dari WNI dan WNA. Namun untuk WNA ada proses tambahan seperti mengajukan hak sewa atau hak pakai sesuai regulasi. Dengan mulai membentuk model bisnis baru di Canggu ini, selain memberi warna baru, ia berharap usahanya dapat ikut membantu pembukaan lapangan kerja dan peningkatan investasi di Bali.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
