
Menembus gelapnya malam, Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara memberangkatkan sejumlah mobil tangki pengangkut LPG atau skid tank menuju Kota Sibolga yang berjarak 500 kilometer.
JawaPos.com - Anggota Komisi VIII DPR RI, I Ketut Kariyasa Adnyana, menanggapi sorotan publik mengenai keterbatasan anggaran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam merespons bencana di Sumatra. Ia menilai, penyesuaian anggaran harus dilakukan berdasarkan eskalasi risiko dan meningkatnya frekuensi bencana di Indonesia.
“Kami memandang anggaran BNPB harus selalu disesuaikan dengan eskalasi risiko dan frekuensi bencana. Bencana berskala besar seperti di Sumatra menunjukkan bahwa kebutuhan anggaran bukan hanya untuk respons operasional, tetapi juga mitigasi, edukasi masyarakat, kesiapsiagaan logistik, serta pemulihan pascabencana,” kata Kariyasa kepada wartawan, Jumat (5/12).
Ia menekankan, pentingnya penguatan dan perluasan cakupan anggaran, terutama untuk penanganan cepat di tahap awal bencana.
“Dalam konteks tersebut, anggaran yang tersedia masih perlu diperkuat, terutama untuk penanganan cepat pada fase awal yang sangat menentukan penyelamatan jiwa. Ketika alokasi belum ideal, hal itu berpengaruh pada kecepatan mobilisasi logistik, relawan, dan sarana tanggap darurat,” jelasnya.
Namun, Kariyasa juga mengingatkan efektivitas penanganan bencana tidak hanya ditentukan oleh anggaran. Koordinasi antarlembaga, kesiapan pemerintah daerah, distribusi peralatan, dan kelancaran jalur evakuasi turut memengaruhi kualitas respons.
“Penguatan sistem kebencanaan harus dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi pembiayaan, tetapi juga tata kelola dan mekanisme respons lintas sektor,” ujarnya.
Sebagai anggota Komisi VIII yang bermitra dengan BNPB, ia menegaskan DPR memiliki mandat untuk memastikan negara hadir secara cepat dan efektif ketika bencana terjadi. Karena itu, penambahan anggaran darurat akan menjadi salah satu fokus pembahasan bersama pemerintah.
“Opsi penambahan anggaran darurat akan kami kaji secara komprehensif, terutama jika indikator kerawanan dan kejadian bencana besar terus meningkat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Kariyasa menyampaikan bahwa pihaknya mendorong penguatan anggaran penanggulangan bencana berdasarkan tiga prinsip utama. Pertama, fleksibel dan mudah digerakkan saat keadaan darurat agar tidak terhambat birokrasi panjang.
Kedua, dialokasikan tidak hanya untuk respons, tetapi juga mitigasi dan edukasi masyarakat guna mengurangi risiko jangka panjang. Serta, ketiga diawasi secara ketat oleh DPR agar penggunaannya tepat sasaran, transparan, dan langsung dirasakan korban bencana.
“Prinsipnya, Komisi VIII siap mendorong penguatan anggaran penanggulangan bencana apabila data dan evaluasi di lapangan menunjukkan urgensinya,” pungkasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
