
Presiden PKS Ahmad Syaikhu menyerahkan surat rekomendasi PKS untuk Pilkada Jawa Timur kepada Bakal Calon Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Bakal Calon Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak di Kantor DPP PKS, Jakarta, Kamis (18/7/2024). (Mif
JawaPos.com – Koalisi partai politik (parpol) di beberapa daerah menjelang pilkada serentak belum final. Kepastian koalisi diperkirakan baru mengerucut pada detik-detik terakhir menjelang pendaftaran cakada yang dibuka pada 27–29 Agustus mendatang.
Di Pulau Jawa, hanya Jawa Timur (Jatim) yang koalisi parpolnya relatif sudah terlihat. Ini tampak dari parpol pengusung pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak yang sudah solid. Yakni, koalisi Partai Gerindra, Golkar, Demokrat, PAN, PPP, PSI, dan PKS. Dengan demikian, hanya tersisa PDIP, PKB, dan Nasdem yang punya kans menjadi lawan pasangan petahana itu.
Di Jawa Tengah (Jateng), Jawa Barat (Jabar), dan Jakarta, peta koalisi masih sangat cair. Bahkan, di internal koalisi partai pendukung pemerintah terpilih, yaitu Koalisi Indonesia Maju (KIM), kesepakatan belum bulat.
Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin menjelaskan, Jatim bisa menuntaskan peta koalisi lebih cepat karena ada sosok Khofifah. Sang incumbent sudah dipastikan akan kembali maju dan punya kans meraih kemenangan besar.
Dengan begitu, relatif lebih mudah bagi partai pendukung mengonsolidasikan dukungannya. ”Jatim sudah jelas siapa yang potensi unggul,” ujarnya kemarin (21/7).
Situasi politik seperti di Jatim tidak ditemukan di provinsi lainnya di Pulau Jawa. Untuk Jateng, Jabar, dan Jakarta, Ujang menilai bahwa partai masih menghitung ulang berbagai kemungkinan. ”Karena banyak masalah,” katanya.
Di Jabar, calon incumbent yang berpeluang menang, Ridwan Kamil (RK), tengah dikalkulasi KIM untuk maju di Jakarta. Namun, di sisi lain, Golkar belum merestui dan lebih condong RK tetap maju di Jabar. Dinamika itu otomatis memengaruhi finalisasi dukungan untuk Jakarta dan Jabar.
Lalu, di Jateng, partai diyakini masih mencari figur yang layak jual dan memiliki sumber daya cukup untuk memenangi pilgub. ”Di situlah akhirnya banyak keputusan partai yang mungkin diambil saat last minute,” ungkap pakar ilmu politik Universitas Al Azhar tersebut.
Mengambil keputusan di detik-detik terakhir, lanjut Ujang, bukan hal baru dalam tradisi politik Indonesia. Praktik itu sudah berlangsung dan terjadi di pemilu-pemilu sebelumnya. Khususnya di tempat-tempat yang dianggap strategis. ”Itu pola umum yang dilakukan banyak parpol,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar menyatakan, sikap partainya terhadap daerah-daerah yang belum diputuskan rekomendasinya masih dibahas. Pertimbangan dilakukan langsung oleh desk pilkada yang telah dibentuk.
”Nanti tanya desk pilkada. Saya sebagai ketua umum tidak ikut-ikut urusan pilkada. Semuanya diatur desk pilkada,” ujarnya di kawasan car free day (CFD) Jakarta kemarin. (far/c14/oni)

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
