
Wakil Ketua MPR Mahyudin saat berdialog dengan Puluhan guru dan kepala sekolah dari Kabupaten Kutai Timur yang berkunjung ke kompleks parlemen. Mereka datang untuk menghadiri Sosialisasi Empat Pilar MPR di Ruang GBHN,
JawaPos.com - Puluhan guru dan kepala sekolah dari Kabupaten Kutai Timur (Kutim) yang berkunjung ke kompleks parlemen. Mereka datang untuk menghadiri Sosialisasi Empat Pilar MPR di Ruang GBHN, Gedung Nusantara V, Kompleks MPR, DPR dan DPD RI, Senin (22/10).
Rombongan delegasi guru-guru, itu dipimpin Kepala Unit Pelaksana Tugas (UPT) Pendidikan Sangatta Utara, H. Suyatno itu diterima oleh Wakil Ketua MPR Mahyudin.
Berbagai pertanyaan disampaikan oleh para guru, kepada mantan Bupati Kutai Timur itu. Mulai dari efek negatif pelaksanaan demokrasi yang mahal dan mengakibatkan maraknya praktik korupsi. Hingga peluang berlakunya kembali GBHN dalam sistem ketatanegaraan Indonesia.
Menjawab berbagai pertanyaan, itu Mahyudin mengatakan, sistem pemilihan langsung yang berlaku saat ini tidak sesuai dengan nilai-nilai sila keempat Pancasila. Bahkan akibat pemilihan langsung bukan hanya banyak pejabat yang berurusan dengn KPK. Namun yang lebih membahayakan adalahancaman perpecahan di antara para pendukung yang makin kentara.
Karena itu, Mahyudin mengaku setuju dengan usul para guru jika suatu saat nanti Indonesia harus kembali pada demokrasi perwakilan khususnya pada pelaksanaan pemilihan kepala daerah. Bahkan dirinya menuturkan, kalau pendapatan masyarakat Indonesia sudah meningkat dan tidak mudah disusupi politik uang.
Namun, lanjutnya, kalau rata-rata pendidikan masyarakat sudah semakin baik dibanding saat sekarang, mungkin pada saat itu kita bisa praktekkan pemilu langsung. Tetapi, kalau pemilu langsung dilakukan saat ini, maka tinggal tunggu saja waktunya, akan makin banyak pejabat negara yang terkena kasus tindak pidana korupsi.
Peluang pejabat melakukan tindak pidana korupsi, kata Mahyudin akan semakin kecil bila dana kampanye ditanggung oleh negara. Karena kenyataannya, para pejabat yang melakukan korupsi, dipengaruhi oleh biaya kampanye yang sangat besar.
"Karena itu mereka berusaha mengembalikan dana yang digunakan selama kampanye, melalui cara yang tidak benar. Yaitu melakukan korupsi," paparnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
