
Kepala BNPT dicecar banyak pertanyaan oleh Anggota Komisi III DPR saat hadir dalam rapat kerja di Komplek Parlemen, Senayan.
JawaPos.com - Kinerja Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menuai banyak cecaran pertanyaan dari Komisi III DPR. Mulai dari soal insiden rutan Mako Brimob depok, Bom Surabaya hingga veteran ISIS yang pulang kampung ke Indonesia.
Pertanyaan itu disampaikan oleh Anggota Komisi III DPR Aboe Bakar Al Habsy. Legislator dari Fraksi PKS itu mempertanyakan sejauh apa kinerja BNPT dalam pembinaan narapidana teroris.
"Bagaimana program deradikalisasi yang selama ini mereka kerjakan? Jika memang sudah berjalan dengan baik, kenapa bisa jadi seperti ini (insiden teror, red)?" kata Aboe saat rapat kerja dengan Kepala BNPT Komisaris Jenderal Suhardi Alius dan jajaran di gedung DPR, Jakarta, Rabu (30/5).
Selain itu dia meminta BNPT menjelaskan mengenai kewenangan penempatan napi terorisme. Terutama soal siapa yang paling berwenang menentukan posisi tahanan di lembaga pemasyarakatan.
"Apakah ini kewenangan menkumham atau kewenangan BNPT? Termasuk harus menjelaskan kenapa ada napi teroris yang menumpuk di Mako Brimob, ini kebijakan siapa?" katanya.
Tidak hanya itu pascabom Surabaya, Jawa Timur, Kapolri Jenderal Tito Karnavian sempat menyinggung bahwa pelaku adalah alumni Syria. Karena alasan tersebut didesaklah DPR agar segera mengesahkan RUU Antiterorisme dengan alasan UU yang ada saat itu tidak mampu menjangkau orang yang pulang dari Syria.
"Meskipun beberapa hari kemudian pernyataan tersebut dikoreksi oleh Kapolri," imbuh politisi berbadan tambun itu.
Tidak hanya itu, Aboe juga meminta BNPT memberikan penjelasan sebenarnya seberapa membahayakan para WNI yang pulang dari Syria itu. Apakah mereka di sana memang menjalankan kegiatan perang atau lainnya.
"Jika dikatakan membahayakan, apakah BNPT melakukan pemetaan posisi mereka dan kegiatan yang dilakukan? atau langkah apa yang dilakukan oleh BNPT untuk para WNI ini?" ujarnya.
Hal lain yang perlu dijelaskan BNPT adalah, soal adanya pernyataan bahwa terdapat tujuh perguruan tinggi yang terpapar ideologi radikalisme. Pasalnya, pernyataan itu dinilainya meresahkan masyarakat.
"Apa memang situasinya separah itu, jangan sampai ini menjadi kekhawatiran baru bagi orang tua yang mau mengkuliahkan anaknya," ungkapnya.
Aboe juga mendesak, BNPT harus mampu menjelaskan ke publik, instrumen yang digunakan untuk mengambil kesimpulan ini. Selain itu parameter apa yang digunakan untuk menilai mahasiswa itu radikal atau tidak.
"Sehingga publik mendapat gambaran yang utuh dari kesimpulan yang diambil," pungkasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
11 Kuliner Malam Surabaya Paling Enak dan Legendaris untuk Kamu yang Sering Lapar Tengah Malam
