
Rohaniawan Romo Benny Susetyo. (DOK. JAWAPOS.COM)
JawaPos.com - Tertangkapnya sejumlah calon kepala daerah (cakada) yang akan maju di ajang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018 dinilai cukup memprihatinkan.
Mereka yang terciduk dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), seharusnya menjadi contoh dan teladan untuk masyarakat.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya, para kepala daerah yang akan maju kembali di Pilkada, malah melakukan tindakan pelanggaran hukum.
Di antaranya Bupati Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) Marianus Sae yang maju sebagai Calon Gubernur (Cagub) NTT di Pilkada Serentak 2018, kemudian Bupati Subang, Imas Aryumningsih, hingga Bupati Lampung Tengah, Mustafa.
Rohaniawan Romo Benny Susetyo menyebutnya sebagai tregedi yang memilukan. Rentetan OTT ini, kata dia, harus menjadi perhatian ekstra seluruh elemen. Tidak hanya pemerintah dan lembaga negara, juga seluruh masyarakat Indonesia.
Sebab, mereka yang terkena OTT hampir berasal dari semua parpol.
“Peristiwa memilukan yang terus terjadi berulang-ulang ini merupakan ekses dari penerapan demokrasi liberal yang saat ini berlangsung di Indonesia. Dalam demokrasi liberal ala Amerika ini, semua bisa jadi pemimpin. Asal dia terkenal, populer dan punya uang ditambah punya marketing politik. Dampak buruknya adalah merebaknya politik transaksional,” ujar Romo Benny melalui siaran persnya kepada JawaPos.com, Minggu (18/2).
Karena itu, Romo Benny mengungkapkan, banyak kepala daerah yang mengambil jalan pintas dengan cara mengobyekan proyek-proyek di wilayahnya untuk biaya politik dirinya.
“Indonesia harus memperbaiki sistem politik yang ketat berikut dengan pengawasan yang melekat. Selama akar persoalannya tidak diselesaikan, politik kita akan terus seperti ini. Selain sistem politiknya, juga akses atas demokrasi liberal, yakni politik biaya tinggi. Jangan ajarkan rakyat dengan money politics,” tegas Romo Benny.
Khusus untuk wilayah NTT, Romo Benny berpesan Masyarakat NTT harus lebih cerdas dan selektif dalam memilih calon pemimpinnya.
Mereka harus memilih calon pemimpin yang punya integritas, jujur, bersih dan punya moral.
“Bukan yang hanya memberikan janji, tapi harapan nyata. Sehingga, dengan kualitas dan kadar kebersihannya, si pemimpin ini harus mampu membawa NTT terbebas dari kemiskinan yang selama ini menjadi momok utama wilayah tersebut,” papar Romo Benny.
Romo Benny mengingatkan, money politics itu menciptakan biaya tinggi sekaligus menciptakan kemiskinan.
Dan wilayah NTT terbilang miskin karena salah satu akarnya adalah adanya praktik korupsi. Sehingga, tidak usah berharap kepada calon pemimpin yang terkena OTT KPK.
“Kemiskinan membuat rakyat tidak punya posisi tawar dalam politik, dalam memilih pemimpinnya. Ini akibat sistem politik yang menghisap dan menindas,” pungkas Penasehat Kepala UKP PIP itu.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
