
Ketua Umum Partai Golkar hasil musyawarah nasional Ancol, Agung Laksono.
JawaPos.Com - Prahara politik Golkar diperkirakan akan berakhir jika ada dua kubu yang berseteru bisa menggelar musyawarah nasional (munas) bersama. Harapan itulah yang muncul dari Golkar kubu Agung Laksono hasil musyawarah nasional (munas) di Ancol.
Kubu Agung mendorong pelaksanaan munas karena pengadilan tidak mengakui kepengurusannya ataupun Aburizal Bakrie hasil munas di Bali. Karenanya Agung meyakini munas akan menjadi jalan tengah agar dualisme kepengurusan Golkar segera berakhir. "Dengan Munas, maka selesai semua masalah," ujar Agung di kantor DPP Golkar Jumat (6/11).
Mantan Menko Kesejahteraan Rakyat itu mengaku menunggu jawaban kubu Aburizal untuk menyelenggarakan Munas Golkar. Karenanya, dia mengambil langkah double track. Yakni, jalur politik dan jalur hukum. "Sampai hari ini saya belum dapat jawaban tegas dari Ical," sebutnya.
Andai Ical setuju untuk diselenggarakan munas, bisa saja seluruh proses hukum dihentikan. Akan tetapi, munas yang dilakukan pun harus transparan, demokratis dan sesuai anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) Golkar.
Tentu, itu semua perlu terinci dan tertulis agar apa yang dilakukan tidak sekedar janji saja. "Sebuah kesepakatan yang bisa didaftarkan dan akhiri semua proses persidangan. Kalau sudah ada persetujuan yang klop, semua masalah hukum kami hentikan," janji Agung.
Lantas, kapan waktu yang baik untuk penyelenggaraan Munas? “Awal 2016 waktu paling ideal. Sebab MPG (Mahkamah Partai Golkar, red) juga kan beri waktu selambatnya Oktober 2016," tandasnya.
Terpisah, Ical -sapaan Aburizal- mengaku setuju dengan ide tentang munas. Namun, dia tidak setuju adanya munas luar biasa (munaslub) seperti yang disarankan Wakil Ketua Umum Golkar hasil Munas Ancol Yorrys Raweyai.
"Munas bagaimanapun harus dilaksanakan. Yang jelas tidak ada munaslub," ujar Ical.
Menurutnya, komunikasi kubu munas Bali dengan Ancol juga makin intensif. "Terus dialog," sebutnya.
Dia tak memungkiri agar rekonsiliasi yang dimotori dengan adanya silaturahmi nasional (silatnas) beberapa waktu lalu bisa segera direalisasikan. Walaupun, ada sejumlah langkah hukum yang kembali diajukan pihak Agung. "Tapi kita berdua akan mengusahakan terus terjadinya rekonsiliasi ini dengan waktu yang lebih cepat," tutur mantan menko perekonomian itu.
Kendati menyetujui adanya munas, Ical masih belum bisa memastikan kapan terselenggaranya. "Tahunnya tidak tahu," tandas Ical.(dna/JPG)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
