alexametrics
JawaPos Radar | Iklan Jitu

Siap Perjuangkan RUU Perlindungan Ulama, Ini Pertimbangan PKS

13 Januari 2019, 18:58:27 WIB
PKS
Presiden PKS, Sohibul Iman. Sohibul mengatakan jika PKS akan memperjuangkan RUU Perlindungan Ulama atau tokoh agama. (Dok.JawaPos)
Share this

JawaPos.com - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) berjanji bakal memperjuangkan RUU Perlindungan Ulama, Tokoh Agama dan Simbol Agama jika menang di pemilu 2019 mendatang. Mereka berdalih, setidaknya memiliki empat alasan kenapa kebijakan ini harus di realisasikan di Indonesia.

Pertama, Presiden PKS Mohammad Sohibul Iman menuturkan, ulama dan tokoh agama merupakan figur yang berjasa besar dalam memerdekakan bangsa Indonesia. Selain itu, tokoh agama juga ikut serta dalam merumuskan dasar-dasar kehidupan bangsa dan negara.

Dia mencatat, perjlanan bangsa Indonesia juga merupakan perjuangan para ulama. Misalnya saja, Haji Agus Salim, KH Wachid Hasyim, Mohammad Natsir, Ki Bagus Hadikusmo dan kasman Singodimejo.

"Oleh karena itu sudah sepantanyalah para ulama dan tokoh agama mendapat perlindungan dari segala bentuk ancaman fisik, non fisik dan segala bentuk kriminalisasi hukum ketika berjuang mendakwahkan ajaran dan tuntunan agama di tengah masyarakat," kata Sohibul di Kantor DPP PKS, Jakarta, Minggu (13/1).

Alasan kedua, imbuh Sohibul, mengenai ulama dan tokoh agama berhak dilindungi kebebasannya dalam menyampaikan ajaran dan keyakinannya keada umatnya. Menurut dia, aturan ini sebenarnya telah diatur dalam pasal 1 ayat 3 UUD NRI Tahun 1945.

Selain itu, kata dia, juga telah diatur khusus dalam pasal 29 ayat 1 dan 2 tentang kehidupan beragama dan pasal 31 ayat 3 tentang tujuan pendidikan nasional.

"Tujuan pendidikan nasional adalah untuk menciptakan generasi yang beriman dan bertakwa dan berakhlak mulia," katanya.

Ketiga, Sohibul menuturkan, ulama dan tokoh agama adalah figur yang paling rentan mendapatkan ancaman dalam bentuk fisik maupun non fisik. Termasuk pula ancaman kriminalisasi oleh penegak hukum akibat dakwah yang mereka sampaikan.

Dia pun memberikan contoh penghadangan dan persekusi kepada Ustadz Abdul Somad di Semarang pada Juli 2018 dan Desember 2017 lalu. Selain itu penghadangan pada Ustadz Sobri Lubis di Pontianak pada Mei 2019 dan penganiayaan terhadap KH Umar Basri pimpinan pondok pesantren Al-Hidayah Cicalengka, Bandung pada 31 Januari 2018.

"Meskipun ulama dan tokoh agama adalah figur yang memiliki kedudukan yang terhormat di mata masyarakat, namun demikian sosoknya rentan mendapatkan ancaman fisik, non-fisik maupun upaya kriminalisasi hukum terhadapnya," tuturnya.

Alasan terakhir, Sohibul menambahkan, simbol agama adalah sesuatu yang sangat dihormati dan dimuliakan dalam ajaran masing-masing agama. Karenanya, adanya upaya perusakan atau penghinaan akan memicu konflik dan keributan di tengah-tengah masyarakat.

"Masih segar dalam ingatan kita bersama bahwa ada praktik pembakaran terhadap bendera tang bertuliskan kalimat tauhid di Garut, Jawa Barat. Hal ini menyulut api kemarahan umat islam sehingga berpotensi terjadinya konflik yang lebih besar," pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, ulama yang dimaksudkan PKS adalah tokoh umat islam, yang mendakwahkan ajaran agama islam, yang memiliki kompetensi keilmuan agama islam, berakhlak mulia dan menjadi panutan umat islam dalam mempelajari tuntutnan ajaran agama islam.

Ulama dalam hal ini juga memiliki sebutan lain seperti Habib, Kiai, Ustadz, Teungku, Tuan Guru, Ajengan dan sebutan lain yang memiliki makna dan kedudukan yang sama.

Sementara itu, tokoh agama yang dimaksudkan adalah semua tokoh pemuka agama yang diakui di Indonesia selain agama Islam, seperti pendeta, pastor, Romo, Biksu, Pandita dan sebutan lain untuk nama-nama pemuka agama di Indonesia.

Adapun simbol agama yang dimaksud seluruh simbol keagamaan yang dihormati oleh seluruh agama resmi yang diakui di Indonesia. Seperti kitab suci, rumah ibadah, bendera tauhid, citra atau gambar atau tulisan yang melambangkan hal yang sakral bagi seluruh agama-agama yang diakui di Indonesia.

Editor           : Imam Solehudin
Reporter      : Igman Ibrahim

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini