Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 25 April 2018 | 18.30 WIB

Tolak Kotak Kosong, PAN Tak Ingin Duet Jokowi-Prabowo Terjadi

Presiden Jokowi saat berkuda bersama Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto - Image

Presiden Jokowi saat berkuda bersama Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto

JawaPos.com - Spekulasi kemungkinan presiden Joko Widodo (Jokowi) akan disandingkan dengan Prabowo Subianto di pilpres 2019 terus mencuat. Namun, wacana itu rupanya mendapat penolakan dari parpol yang sedang dekat dengan Partai Gerindra, salah satunya Partai Amanat Nasional (PAN).


Salah satu kader PAN yang menolak adalah Wakil Ketua Umum PAN Bara Hasibuan. Dia mengatakan, kemungkinan kedua tokoh nasional itu berduet di pemilihan presiden 2019 mendatang hanya akan memunculkan paslon tunggal dan kotak kosong.


"Kalau misalnya nanti Pak Jokowi kelihatan akan maju (dengan Prabowo). Jangan sampai nanti ada calon tunggal," kata Bara di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (24/4) lalu.


Dalam negara demokrasi, ujar Bara, sudah seharusnya ada kompetisi antarpasangan calon. Karena itu masyarakat mesti mendapat pilihan alternatif. Sehingga, siapa pun yang terpilih nantinya dapat merepresentasikan dari mayoritas suara masyarakat Indonesia.


"Kompetisi dalam demokrasi memang sangat penting. Rakyat butuh alternatif. Karena itu butuh dua atau tiga pilihan, bukan capres tunggal," ungkapnya. 


Meski demikian, Bara yang merupakan anak buah Zulkifli Hasan ini mengaku masih belum bisa menentukan arah partainya jika nantinya Jokowi akan benar-benar dipasangkan dengan Prabowo. Namun yang terpenting, pilpres 2019 berlangsung dengan jujur.


Sebagai informasi, spekulasi soal Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto yang bakal digandeng oleh Jokowi menguat setelah edisi Asia Times pada Minggu (15/4) lalu mengeluarkan tulisan yang menghentak publik.


Betapa tidak, John McBeth salah satu reporter Asia Times mengungkapkan, mantan Danjen Kopassus itu dinilai berkenan dipinang Jokowi sebagai cawapres, namun dengan diberikan syarat-syarat penting. Yakni, Prabowo ingin dapat mengendalikan militer, selain itu meminta jatah tujuh kursi di kabinet.


Adapun sosok yang kerap mendekatkan Prabowo dengan Jokowi adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Bahkan, politikus senior Partai Golkar itu pun mengaku memang pernah melakukan pertemuan dengan Prabowo pada April 2018.


Sementara itu, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan, pihaknya secara tegas menampik tulisan yang diungkapkan oleh salah satu wartawan Selandia Baru itu. Dirinya pun menyebut kalau berita itu adalah hoaks.


"Tidak ada, saya kira tak ada itu, bohong. Hoaks itu, Kalau pertemuan sih ada dan biasa saja, tapi tidak ada cerita-cerita soal permintaan 7 menteri dan sebagainya, apa posisinya Pak Luhut bisa menentukan, emang Pak Luhut presiden?" tukas Fadli.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore